Rabu, 18 November 2009

Jamu Ayem Tentrem

Ditengah teriknya cuaca siang itu, mataku tertuju pada sesosok penjual jamu yang  biasa menawarkan jamunya ke tempatku. Dengan langkah-langkah kecil dia berjalan kerumahku, terlihat peluh dikeningnya. Namun semua itu seakan sirna oleh senyum yang selalu terpancar di wajahnya yang sudah mulai termakan usia."Jamu-jamune mas' kata-kata yang selalu terdengar saat dia menawarkan jamunya. Dan seperti biasa biasa dia menyapaku dengan kata-kata Ngger atau Le, katanya aku suadah dianggap seperti anaknya sendiri. Terkadang kami berdua terlibat dalam perbincangan yang semakin membuatku mengerti makna hidup seperti perbincangan pada siang itu.
"Gimana Le, mau beli jamu apa?" kata Simbok Jamu sambil menaruh dagangannya di teras rumah sambil membasuh peluh dikeningnya dengan selendangnya.

"Biasa mbok,jamu sehat ya. Badan terasa tidak enak je mbok" kataku sambil duduk di lantai dekat simbok

Dengan cekatan diramunya jamu pesananku, langsung kuminum terasa hangat menjalar ke sekujur badanku. Kuperhatikan ternyata tinggal jamu yang barusan kuminum, tinggal botol-botol kosong yang tersisa. Kupandang wajah simbok yang sudah renta, namun memancarkan pesona yang semakin bersinar.

"Piye le, enak jamunya? Simbok sengaja memberikan jamu pahit tanpa tak kasih beras kencur atau kunir asem sebagai penawar rasa pahit. Coba rasakan dan nikmati pahitnya, temukan setitik rasa manis yang terkandung di dalam rasa pahit yang ada.  Walaupun cuma setitik, rasakan, nikmati dengan penuh kesadaran. Ingat le, hidupmu juga seperti itu to? Ingat lagi bagaimana kamu waktu lahir ibumu dengan menahan rasa sakit melahirkanmu, bagaima juga dulu waktu bayi kamu belajar berdiri atau berjalan pasti pernah jatuh , pernah sakit. Apakah kamu terus berhenti belajar berdiri atau berjalan? Kamu pasti terus belajar lagi hingga kamu bisa seperti sekarang ini. Itu semua merupakan sebuah proses agar kamu semakin kuat le. Coba kamu renungkan dan ingat-ingat lagi saat dimana kamu merasa sendiri, sedih, kesepian lalu ingat juga saat kamu merasakan kebersamaan, kenyamanan, keberhasilan, kesenangan." kata simbolksambil merapikan botol-botol  yang ada.

Aku dibuat termenung oleh kata-kata simbok. Kuperhatikan sekali lagi muka simbok dengan seksama.
"Coba le kamu rasakan lagi bagaimana kamu bernapas selama ini. Perhatikan dan sadari udara yang keluar dan masuk lewat kedua lubang hidungmu. Rasakan benar-benar, rasakan dan nikmati hadirnya Gusti lewat napas tersebut. Betapa selama ini Dia hadir menemanimu le dikala kamu susah atau senang. Dia selalu ada , sehingga gunakan ragamu untuk berkarya bagi sesama tanpa harus kau harap imbalan yang akan kauterima. Seperti bayang-bayang yang selalu menyertaimu, ikut kemanapun kamu pergi. Dia selalu ada le." kata simbok sambil meneguk minuman yang dibawanya.

"Coba kamu perhatikan barang bawaan simbok, pasti kamu berfikir dann kasihan melihat simbok bawa bawaan yang berat tidak sebanding dengan badan yang sudah mulai merapuh. Memang simbok akui raga ini tidalah seperti dulu, raga ini sudah termakan usia. Tiada yang tatap di raga ini le, tiada kekekalan yang mengikuti raga ini, terus berubah di makan sang waktu. Namun ada yang bisa kamu pelajari le, ternyata simbok masih bisa mengangkat dan berjualan keliling membawa botol-botol ini to? Ketika kamu melihat dan memikirkan sesuatu maka akan menjadi beban yang sangat berat. Seringkali disaat terhimpit beban yang berat kita memohon Gusti semoga diberikan keringanan untuk memanggul beban ini, mungkin lebih baik begini le "Gusti semoga diberikan kekuatan untuk memanggul beban ini", bebaskan pikiranmu akan beratnya beban yang harus kamu pikul agar terasa ringan dan tiada lagi yang membebanimu." 

"Simbok bersyukur le, walaupun tidak mengecap pendidikan seperti yang kamu jalani dan hanya menjadi penjual jamu seperti ini. Dengan menjadi penjual jamu , simbok bisa belajar meramu berbagai jenis tanaman yang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan  untuk kemudian simbok ramu menjadi sebuah jamu. Dengan meramu tadi simbok juga belajar untuk meramu kelebihan dan kekurangan yang ada di diri simbok, teman, keluarga, lingkungan sekitar agar dapat menjadi jamu kehidupan yang lebih baik. " kata simbok lagi.

Aku semakin penasaran mendengar kata-kata simbok maka aku pun bertanya kepadanya, "Mbok, simbok itu agamanya apa to?

"O alah le, kasihan to kamu ini. Apa-apa kok selalu dihubungkan dengan agama dan kepercayaan seseorang. Hati-hati le, jangan sampai kamu terjebak dalam konsep atau kotak-kotak tersebut. Akan berbahaya karena kamu akan terjebak melihat seseorang dari agama sebagai sebuah pakaian yang dikenakan oleh sesorang, sehingga begitu kamu melihat pakaian warna hijau agamanya pasti ini dengan atribut seperti ini. Seperti sekarang seringkali terjebak dalam konsep penamaan Pria dan Wanita, sehingga terjebak dalam aturan kalau pria itu begini kalau wanita begini, hak dan kewajibannya terkadang juga dibedakan. Padahal coba direnungkan lebih dalam kan sama saja to le, sekarang juga ada pria yang jualan jamu kaya simbok. Apa itu salah?. Pria atau wanita sama saja tidak ada yang lebih, sama-sama sebagai manusia le."

"Belajarlah untuk bersikap sumeleh sebagai wong jowo, jalani hidupmu , nikmati dan resapi semua perjalanan dengan penuh kesadaran ya le. Simbok tak pulang dulu ya le, sudah sore besok ngobrol-ngobrol lagi ya. Semoga kamu tidak bosan ya le mendengarkan ocehan simbok ini yang tinggal menunggu saatnya untuk kembali kepada-Nya." kata simbok sambil menggendong kembali tenggok yang berisi botol-botol bekas jamu.

Lama kupandangi jalannya simbok, sampai hilang dari pandangan mataku. Sebuah "Jamu Ayem Tentrem" yang barusan kuminum, kenikmati dan kucoba resapi  lewat perantaran Simbok.

Gusti nyuwun kawelasan.














Kamis, 12 November 2009

Terbaik, Ter Kudus, dan Nomor Satu

Disebuah daerah pegunungan terdapat sebuah Biara yang menjadi tempat rohaniawan bertempat tinggal dan berkarya dalam panggilan hidup yang mereka jalani. Suasana  di biara tersebut sangat asri dan alami. Di pekarangan Biara tumbuh beraneka jenis tanaman dan satwa yang semakin menambah keasriannya. Suatu ketika terjadi sebuah perbincangan yang menarik antara tanaman anggur dan rumput kolonjono yang tumbuh di sekitar biara tersebut.
"Kawan, menurutmu aku ini bagaimana?" tanya tanaman Anggur kepada rumput.


"Bagaimana apanya, aku tidak paham dengan maksudmu?" jawab rumput


"Begini lho kawan, sebenarnya kita ini sebagai tanaman siapa diantara kita yang bisa disebut sebagai tanaman yang nomor satu, tanaman yang mampu menghasilkan bibit terbaik?" kata anggur
"Diriku, dirimu atau yang lain. Kalau menurutku mungkin aku ini bisa masuk ke kelompok itu. Kelompok nomor satu. Bagaimana tidak kawan, engkau pasti juga tahu sendiri anggur yang kuhasilkan ini merupakan anggur yang paling enak, paling baik kualitasnya. Anggurku juga oleh para biarawan digunakan sebagai sarana perjamuan agung yang biasa mereka lakukan. Sebuah perjamuan kudus, sehingga aku pun tentu saja menjadi buah dan tanaman yang kudus yang nantinya mampu memberikan bibit yang terbaik daripada yang lain." kata sang Anggur dengan bangganya


"Bagaimana kawan, benar kan Aku ini Kudus, lebih baik dari yang lainnya?" tanya Anggur kepada rumput


"Aku bingung kawan mau menjawab pertanyaanmu karena ku sendiri tidak mengetahui kriteria bisa disebut Kudus, Nomor satu, Terbaik, Terbenar. Jadi maaf kawan aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu." kata rumput. "Namun aku sendiri sadar kalau aku sebagai rumput mungkin hanya seperti inilah diriku. Aku hanya  akan berusaha menyerap semua intisari makanan yang ada dalam tanah dan kemudian aku olah sehingga  diriku bisa tumbuh dengan subur, bisa menjadi makanan yang sehat bagi ternak sapi yang ada disini sehingga mampu menghasilkan susu yang banyak dan berkualitas."


"Aku juga sadar kawan, kalau aku juga bisa tanaman yang mampu membunuhmu. Coba kalau aku tumbuh berdekatan dengan dirimu, smakin lama aku akan mengurung dan melilitmu hingga engkaupun akan mati karena kehabisan sari makanan. Kalaupun bisa tumbuh tentu buah yang kauhasilkan tidak sebaik yang sekarang. Sama seperti buah yang kauhasilkan, memang benar anggur yang kauhasilkan digunakan perjamuan agung, tapi tentu engkau juga tahu kalau ada sebagian orang menggunakan buahmu kemudian mereka olah hingga digunakan sebagai sarana untuk mabuk-mabukan." kata rumput sambil tersenyum.


"Aku hanya terus berusaha memberikan yang terbaik dari diriku, memberikan bagian tubuhku yang terbaik untuk ternak yang akan memakanku. Semoga aku bisa menghasilkan buah yang terbaik yang berguna bagi sesama makhluk. Semoga diriku bisa memberikan harapan yang terbaik bagi sesama makhluk. Kiranya hanya itu saja yang bisa kujawab kawanku, dan bisa menjadi bahan permenungan buatmu dan tidak memikirkan lagi buah ataupun bibit yang terbaik, ter Kudus dan nomor satu."





Senin, 09 November 2009

Kemana dan dimana harus mencari


Seekor kura-kura keluar dari cangkang yang selama ini membungkus dirinya, masih berselaput sisa-sisa cairan yang selama ini menjadi sumber hidupnya. Walaupun masih lemah, terus dia usahakan membuka matanya mempelajari keadaan sekitarnya.
Dilihatnya segenap makhluk yang ada disekitarnya, diamati, dipelajari semuanya sambil terus melanjutkan hidupnya. Ada rasa kekaguman, keheranan, iri hati, kekecewaan, sesal dan rasa lainnya .Seiring dengan perkembangan tubuhnya, semakin lama semakin banyak pertanyaan-pertanyaan yang terus berkecamuk di dirinya.

Mengapa diriku terlahir sebagai kura-kura?
Mengapa bukan sebagai hewan yang lain atau makhluk lainnya?
Coba aku bisa seperti kijang yang bisa cepat berlari
Coba aku bisa seperti singa yang gagah dan tegap badannya
Sementara diriku
Apa yang bisa membagakan dari kaki-kakiku yang kecil?
Apa yang bisa kubanggakan dari mukaku ini?
Apa yang bisa kubanggakan dari tempurungku ini?
Mengapa kalian sering menghina dan mencemoohku?
Mengapa kalian tidak pernah memperhatiakn diriku?
Adilkah Engkau ?
Dimanakah adanya Keadilan?
Dimanakah adanya Kebenaran?
Dimanakah adanya Kedamaian?

Semakin lama, semakin banyak pertanyaan yang semakin membuat dirinya bingung dan merasa kecewa. Dicarinya tempat dan makhluk lainnya yang bisa memberikan dan memecahkan pertanyaan-pertanyaan yang ada di dirinya. Tidak ada jawaban yang mampu memuaskan dirinya, padahal sudah terasa lelah dia melakukan perjalanan. Hingga akhirnya sang kura-kura dengan duduk termenung dia merenungi nasibnya. Tak dihiraukan keadaan sekelilingnya, sampai pada suatu ketika dilihatnya seekor kijang yang tengah berusaha menyelamatkan dirinya dari terkaman singa namun tidak berhasil dan dimakan oleh sang singa. Saking terkejutnya membuat sang singa terganggu dan berusaha memakannya. Karena takutnya kura-kura menarik segenap anggota tubuhnya kedalam tempurungnya sehingga singa tidak berhasil memakannya dan setelah selesai menyantap sang kijang diapun pergi.

Seketika kura-kura tersadar, sebuah pencerahan dialaminya. Apa yang selama ini menjadi pertanyaan dan beban dirinya sirna sudah. Rasa puji syukur dia panjatkan. Betapa selama ini dirinya disilaukan oleh keadaan sekitar sehingga tidak melihat hati dan pikiranya. Mempelajari hatinya sebagai sebuah buku yang tidak habisnya untuk dipelajari. Mempelajari pikiran nya sendiri, melihat dan mengamatinya. Pikiran yang selama ini membuat dirinya terombang ambing. Betapa selama ini ini yang dia cari-cari ternyata berada dalam dirinya sendiri. Sebuah pencerahan yang akhirnya membuat kura-kura semakin mantap melangkah sambil terus berusaha tersadar dalam segenap gerak hidupnya. Kebenaran dan kedamaian yang selama ini dicarinya telah ditemukannya. Jejak langkah kura-kura dalam menapaki hidup.

Ketika pikiran terang, Anda akan dapat melihat kotoran batin dengan jelas dan juga membersihkannya. 
Kedamaian ada pada diri sendiri, ditemukan di tempat yang sama dengan kesulitan dan penderitaan
Ketika Adnda merasakan penderitaan, Anda juga dapat menemukan kebebasan dari penderitaan
Mencoba lari dari penderitaan sebenarnya justru berlari menuju penderitaan.
(dikutip dari Tidak Ada ~ Ajahn Chah)








Rabu, 04 November 2009

Belajar


Nan-in, a Japanese master during the Meiji era (1868-1912), received a university professor who came to inquire about Zen.
Nan-in served tea. He poured his visitor's cup full, and then kept on pouring.
The professor watched the overflow until he no longer could restrain himself. "It is overfull. No more will go in!"
"Like this cup," Nan-in said, "you are full of your own opinions and speculations. How can I show you Zen unless you first empty your cup? (www.ashidakim.com)


Dalam proses belajar baik itu formal maupun informal selalu ada dua pihak yang secara umum sama yaitu pihak yang belajar dan pihak yang mengajar. Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas dari proses belajar mengajar tersebut, mulai dari faktor intern dan ekstern. Faktor intern pun bisa diperjelas lagi dari pihak pengajar atau pihak yang diajar. Namun faktor intern yang dalam hal ini seringkali terlupakan yaitu faktor internal dari yang sedang belajar yaitu kemauan dia untuk "membuang" semua yang ada dipikirannya, "membu ang rasa ke-Tahu-annya", "membuang semua opini yang ada", "membuang rasa ke-Aku-an", kosongkan barang sejenak apa yang dalam pikiran kemudian serap semua yang dipelajari sampai penuh. Bagaimana mungkin kita dapat mempelajari sesuatu kalau dalam pikiran kita sudah timbul rasa sudah mengetahui apa yang akan dipelajari.

Bagaimana mungkin kita akan mampu menyerap ilmu yang akan dipelajari kalau di pikiran kita sudah merasa penuh, merasa tidak perlu lagi sehingga serasa tidak ada lagi ilmu-ilmu baru yang bisa ditampungnya. Dengan belajar mengkosongkan pikiran kemudian kita serap pelajaran-pelajaran baru , baik itu belajar dari alam, teman, lingkungan, guru ataupun buku atau yang lainnya, semoga semakin meningkatkan kualitas dalam belajar. Dari kutipan diatas "Like this cup," Nan-in said, "you are full of your own opinions and speculations. How can I show you Zen unless you first empty your cup?, semoga bisa membuat dan meningkatkan kualitas kita dalam belajar.





Jumat, 30 Oktober 2009

Pernahkah?





Kawan
Ingin sekali aku bertemu dengan dirimu, namun seakan tak ada waktu
Kurindukan saat-saat dimana kita seringkali bersama
menghabiskan waktu yang ada bersama
siang dan malam bersama membuat lukisan atas hidup kita bersama
Entah kapan dan dimana kita bisa berjumpa kembali


Kawan
Pernahkah dirimu merasa kesepian?
Kalau pernah, syukurilah sebagai nikmat yang kauterima
Dengan begitu dirimu akan terus berusaha membantu sesama agar tidak merasa sendiri,
merasa kesepian lagi, merasa diperhatikan
karena ada dirimu yang akan selalu menemani


Pernahkah  dirimu merasakan kegagalan?
Kalau pernah, bersyukurlah kawan
Dengan pernah merasa gagal, kamu setidaknya sudah pernah menjadi orang yang gagal
Jikalau kamu melihat sesama yang sedang merasakan kegagalan
bantu dia, angkat dia, bangunkan dia, semangati dia
Agar berusaha dirinya tidak menyerah dan bersemangat kembali
hingga tercapai apa yang diinginkannya


Pernahkah dirimu merasakan kesakitan, kelaparan dan kedinginan?
Ucapkan syukur kalau kamu pernah mengalaminya


Dengan begitu kamu akan bisa membantu sesama yang sedang sakit dan kelaparan
Kau bantu sembuhkan lukanya, basuhi dia dengan kasihmu
Kau berikan sebagian dari makananmu sehingga mereka tidak lapar lagi
Kau selimuti dia dan Kau hangatkan dengan cahaya terangmu


Pernahkah dirimu merasa ditinggalkan dan disakiti?
Sebuah nikmat kalau kamu pernah mengalaminya
Dengan begitu kamu menjadi tahu dan terus berusaha untuk tidak menyakiti sesama
Berusaha untuk tidak meninggalkan dan melupakan sesamamu
Kau gandeng, Kau tarik tangannya apabila dia terjatuh


Pernahkah dirimu merasakan keberhasilan, kecukupan?
Jikalau pernah, bagaimana rasanya?
Ucapkan syukur dan jangan pernah lupa
Bantulah sesamamu agar mereka bisa pula merasakan
Keberhasilan, Kecukupan , Kenikmatan


Pernahkah dirimu merasakan kegembiraan, kesenangan?
Jangan lupa pula untuk bersyukur kawan
Bantulah dan ingat selalu sekelilingmu
Bagilah kegembiraan dan kesenanganmu buat mereka
sekecil dan secuil bentuknya amat berguna bagi mereka temanku


Pernahkah?
Pernahkah?
Pernahkah?


Aku hanya bisa bertanya kepadamu
Hanyalah pertanyaan-pertanyaan yang mungkin dirimu sendiri yang bisa menjawabnya
Akupun juga masih bertanya kepada diriku sendiri
Mungkin pertanyaan seperti tu membantumu kawan
Semuanya mungkin telah kaulami Kawan
Sama seperti saat kita membuat lukisan hidup kita
Berbagai macam warna telah kita tumpahkan di kanvas yang ada
Hingga akhirnya cuma ada warna putih di kanvas hidup kita
Semuanya terjadi dan akan terjadi
Sama saja
Semuanya akan musnah, sirna
Hanyalah jiwa mu, jiwa ku dan jiwa lainnya yang tersisa


I miss you, my friends














Kamis, 29 Oktober 2009

Bird Song

A little bird singing a love song that her mother taught. That little bird somehow sings it over and over . She files very high try to find the place she first learnt to fly. She files so very high she wants to seek an answer from the sky. On a misty mountain over the clear water river, but there's no misty mountain let alone a clear water river. And she just wants to go home. She just wants to be at home on a misty mountain, but now turned into barren. She just wants to be singing when the sun rise in the morning on a misty mountain but now turned into barren. She doesn't know what happened. All of those trees has been cut down. In the name of humanity The river runs dry, because now clouds refuse to cry. If I could Then I would Try to make us all Care bout her call (Bird Song by Letto)

Disebuah  hutan di lereng Gunung yang suasananya masih asri dan alami, ditumbuhi oleh beraneka ragam pohon, sehingga menjadi habitat yang menyenangkan bagi komunitas burung. Bermacam-macam jenis burung berada disitu. Tentu saja masing-masing jenis burung mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, ada yang mempunyai bulu yang indah dilihat namun tidak mampu menghasilkan  suara nyanyian yang merdu untuk didengar. Ada yang mempunyai bentuk yang proporsional sehingga kelihatan menawan, namun ada yang mempunyai bentuk yang aneh bahkan menakutkan untuk dilihat.

Pada dasarnya semua burung dapat hidup dengan rukun satu dengan yang lain, namun entah karena prubahan atau karena ego yang semakin dikedepankan suasana yang tadinya ayem tentrem menjadi berubah. Masing-masing burung berusaha mengeluarkan suaranya, sekeras-kerasnya tidak peduli merdu atau tidak. Saling berlomba-lomba menjadi yang terkeras, yang tadinya suaranya merdu menjadi tidak merdu lagi, yang tadinya suaranya serak-serak becek makin tambah becek, yang suaranya sumbang menjadi lebih hancur lagi suaranya. Suasana menjadi sedemikian gaduh, menjadi tidak enak dan sudah mengganggu.


Hingga akhirnya membangunkan tidur darès atau manuk darès atau manguni atau Si Burung Hantu. Burung yang diberikan anugrah dengan kedua mata besar yang menghadap ke depan dan memiliki 100 kali lebih dari kepekaan mata manusia. Juga dianugerahi pendengaran yang tajam serta bulu-bulu yang halus sehingga saat dia terbang malam tidak mengeluarkan suara berisik. Sang burung yang dibalik wajahnya yang seram, suara yang tidak merdu namun melambangkan kebijakan didalamnya. Dengan mata yang agak merem-melek, maklum agak silau dengan cahaya matahari dia pun memulai berkata didepan burung-burung lain yang sedang asyik berteriak-teriak

"Wahai kawan, coba diam dulu barang sebetar", suara burung hantu agak meninggi, membuat semua burung terdiam. Maklum dia disegani dan dihormati di komunitas tersebut.

"Cobalah diam sejenak, lihat sekeliling kalian masing-masing. Apa yang telah kalian lakukan sekarang ini? Apa manfaatnya kalian berteriak-teriak sekeras-kerasnya, merdukah suara kalian dengan teriak kayak gitu? Hanya kegaduhan dan kekacauan yang kalian hailkan, tanpa adanya manfaat bagi kalian sendiri maupun lingkungan sekitar kalian. Kalian masing-masing telah diberikan anugrah masing-masing dengan kelebihan dan kekurangan masing. Lihatlah diriku, gantengkah diriku? Merdukah suaraku? Tidak kataku." kata Sang burung Hantu yang membuat burung-burung lainnya termenung

"Tapi aku bersyukur karena aku diberikan kelebihan diluar itu, kusyukuri saja dan kukembangkan saja kelebihanku. Cobalah kalian kalau ingin menciptakan ketentraman dan kedamaian, mulai belajar bernyanyi. Yang suaranya merdu berusaha mengimbangi yang suaranya tidak merdu, yang punya suara tidak merdu juga tidak usah takut untuk bersuara. Saling bagi tugas, saling mengisi satu dengan lainnya, pasti akan tercipta sebuah nyanyian yang penuh dengan keharmonian dan membawa kedamaian, ketenangan bagi yang menikmatinya." kata sang burung hantu. Kemudian diapun asyik memejamkan matanya, sementara burung-burung yang lain terdiam sesat, merenungkan dan meresapi serta mencoba untuk mempraktekkannya. Tanpa mengenal lelah mereka berlatih hingga akhirnya terciptalah sebuah nyanyian burung yang mampu membuat yang mendengarnya terpesona dan terhanyut dalam kedamaian dan ketenangan yang luar biasa.

Seringkali kitapun terjebak dalam suasana seperti itu, segala keegoan, KeAkuan, Kesombongan diri kita muncul. Merasa diri paling hebat, paling benar, paling berkuasa dan paling sebagainya. Merasa bahwa dialah Dewa Penyelamat yang selama ini dinantikan dan tidak ada yang lebih baik dari dirinya. Tak jarang terjebak intrik-intrik untuk saling menjatuhkan satu sama lain, agar kelihatan lebih hebat dari yang lainnya. Seakan-akan nilai-nilai budaya luhur negeri yang sudah ada sejak dulu seperti kerukunan (guyup rukun), kegotongroyongan, tepa seliro, masih banyak budaya luhur yang seakan terlupakan. Masing-masing juga seakan terjebak dengan upaya pemenuhan akan hak-hak mereka yang lebih dahulu diminta tanpa menyelesaikan kewajiban yang ada dipundaknya. Terjebak dalam budaya Meminta, Budaya KeEgoan, KeAkuan yang sangat kental.

Padahal jika direnungkan masing-masing telah dianugerahi dengan kelebihan dan kekurangan oleh Dia. Sebuah anugerah yang patut disyukuri dan dipergunakan dengan bijaksana. Jikalau masing-masing bisa menjalankan peran atau lakon yang selama ini dijalaninya dengan tetap memegang teguh nilai-nilai luhur, nilai spriritual, berusaha untuk memberikan yang terbaik dari dirinya bagi sesama, mengedepankan kewajiban dari haknya pasti akan tercipta kehidupan yang lebih baik. Yang diberi anugrah untuk berkuasa, berusaha untuk menjadi seorang gembala sejati yang terus memberikan Kasihnya bagi rakyatnya. Rakyatnya pun berusaha untuk tetap memberikan Kasihnya bagi Gembalanya. Niscaya tidak ada lagi yang merasa berkekurangan dan berkelebihan, tidak ada lagi yang merasa hebat dan lemah, tidak ada yang pintar dan bodoh, semuanya sama. Seperti komunitas burung, dengan selalu memberikan kasih, harapan dan terang bagi sesama pasti akan tercipta nyanyian kehidupan yang penuh dengan kedamaian dan ketentraman.





Rabu, 28 Oktober 2009

Kebahagiaan


Manusia mencari kebahagiaan ke mana-mana dan dengan segala cara, namun tidak pernah dapat menemukan kebahagiaan itu. Kebahagiaan tidak bisa ditemukan kalau dicari. Kebahagiaan adalah suatu keadaan batin yang tidak diganggu oleh gejolaknya nafsu. Selama nafsu masih bergejolak dalam batin, tidak mungkin manusia dapat berbahagia, karena dia akan terbentur dengan halangan-halangan dalam mengejar kesenangan seperti yang dikehendaki oleh nafsu. Dalam keadaan tidak berbahagia, bagaimana mungkin menemukan kebahagiaan? Kalau keadaan yang tidak berbahagia itu tidak ada lagi, manusia tidak lagi membutuhkan kebahagiaan. Kenapa? Karena dia sudah bahagia! Kebahagiaan itu sudah ada selalu dalam diri manusia sendiri, namun terselubung oleh bermacam persoalan dan kesukaran yang menjadi akibat dari menuruti nafsu diri. Seperti orang yang mencari kesehatan. Bagaimana mungkin akan dapat mengalami kesehatan kalau tubuhnya sedang sakit? Daripada mencari kesehatan yang tak mungkin dia temukan, lebih baik meneliti dirinya sendiri yang sakit, mengusahakan agar penyakit itu lenyap. Kalau dirinya sudah tidak dihinggapi penyakit lagi, apakah dia butuh mencari kesehatan? Tidak perlu lagi karena dia sudah sehat!

Manusia biasanya tidak dapat menikmati kesehatan kalau dia sehat. Baru merindukan kesehatan kalau dia sakit. Demikian pula manusia tidak dapat menikmati kebahagiaan kalau dia berbahagia. Baru merindukan kebahagiaan dikala dia sedang tidak berbahagia. Hidup itu sendiri adalah indah, hidup itu sendiri adalah bahagia. Mengapa repot-repot mencari kebahagiaan dengan segala cara?

Kalau kita renungkan secara mendalam, kita dapat bersama-sama menyelidiki tentang kebahagiaan itu. Kebahagiaan berada di atas susah dan senang. Bahkan diwaktu mendapatkan kesusahan, kita masih berbahagia. Bahagia tidak disentuh dan tidak diubah oleh susah senang yang hanya lewat seperti lewatnya segumpal awan diangkasa yang cepat lewat dan lenyap. Kebahagiaan tidak mungkin dapat ditemukan dengan jalan mencarinya. Kebahagiaan tidak dapat dicari. Makin didambakan dan dicari, makin menjauhlah dia.

Daripada bersusah payah mencari kebahagiaan, lebih baik orang meneliti ketidak-bahagiaan. Ketidak-bahagiaan ini dapat terasa oleh setiap orang. Merasa tidak berbahagia. Kita lalu meneliti dan mengamati diri sendiri, apa yang menyebabkan kita tidak bahagia? Kalau sebab adanya ketidak-bahagiaan ini sudah tidak ada lagi, kita tidak membutuhkan bahagia. Kenapa? Karena kita sudah berbahagia! Berarti bahwa kebahagiaan itu sudah ada dan selalu ada dalam diri kita. Seperti halnya kesehatan. Kesehatan itu sudah ada pada kita. Akan tetapi biasanya kita tidak merasakan adanya kesehatan ini, tidak dapat menikmati. Baru kalau kita jatuh sakit, kita mendambakan kesehatan. Demikian pula kebahagiaan. Selalu terutup oleh ulahnya nafsu, senang susah, sedih gembira, dan segala macam perasaan yang didorong oleh nafsu. Karena kita menjadi budak nafsu kita sendiri, maka kebahagiaan itu tertutup dan tidak pernah dapat dirasakan. Yang dapat dirasakan hanya kesenangan dan kesenangan inipun ulah nafsu. Nafsu mendorong kita agar selalu mengejar kesenangan. Orang yang tidak lagi menjadi budak nafsu, melainkan menjadi majikan nafsu, mungkin sekali akan dapat merasakan kebahagiaan itu. Nafsu tidak lagi menyeret kita ke dalam perbuatan yang hanya mengejar kesenangan sehingga untuk mencapai kesenangan, kita halalkan segala macam cara.

Nafsu merupakan peserta hidup yang amat penting dan berguna, kalau saja kita yang mengendalikannya. Akan tetapi kalau nafsu menguasai kita, maka malapetakalah yang akan menimpa diri kita. Tanpa nafsu kita tidak akan dapat hidup di dunia ini. Nafsu yang mendorong kita untuk hidup layak sebagai manusia. Akan tetapi dengan nafsu menjadi majikan, kita akan hidup sesat. Nafsu bagaikan api. Kalau kita dapat menguasainya, maka api itu amat berguna nagi kehidupan kita. Akan tetapi kalau terjadi sebaliknya, api yang mengamuk menguasai kita, api itu akan membakar segala yang ada!

Lalu bagaimana caranya untuk menguasai dan mengendalikan nafsu yang demikian kuatnya? Diri kita sudah menjadi gudang nafsu, maka akan sia-sialah kalau kita berusaha untuk menundukkannya. Pikiran itu sendiri yang ingin menguasai nafsu, sudah bergelimang dengan nafsu. Juga ilmu pengetahuan tidak dapat dipergunakan untuk menguasai nafsu. Lalu bagaimana? Satu-satunya jalan untuk menguasai nafsu hanya MENYERAH kepada KEKUASAAN TUHAN! Hanya Tuhanlah yang dapat menundukkan nafsu. Siapa lagi yang dapat menundukkan nafsu selain YANG MAHA PENCIPTA? Kalau kita menyerahkan diri dengan penuh keimanan, tawakal dan kepasrahan yang ikhlas, maka kekuasaan Tuhan akan bekerja dalam diri kita!

(Dari Cersil Pendekar Kelana by Kho Ping Hoo)



Selasa, 27 Oktober 2009

Perlukah berubah dan bagaimana menyingkapi perubahan?



Disuatu tempat dan disuatu masa terdapat sekelompok lebah dengan dipimpin seekor ratu lebah yang cantik dalam keadaan yang aman tenteram, serba berkecukupan dan berada dalam lingkungan alam yang begitu bersahabat dengan mereka. Ada yang menarik dalam komunitas tersebut dimana mereka hanya mencari nectar dari satu jenis bunga pohon tertentu saja, padahal dilingkungan tersebut dipenuhi oleh beraneka ragam tanaman dan beraneka ragam bunga namun mereka tidak mau mengambilnya, tetap saja mereka menghisap nectar dari jenis tertentu tersebut. Mereka beraggapan bahwa nectar dari pohon tersebut adalah yang terbaik, nomor satu, tanpa pernah sekalipun berusaha untuk mempelajari dan merasakan jenis lainnya. Seringkali pohon tersebut mereka anggap sebagai dewa penyelamat bagi mereka dan mereka keramatkan . Turun temurun kejadian tersebut berlangsung, tidak ada yang berubah, semuanya berada dalam kondisi yang membuat mereka terlena , dinina bobokan oleh keadaan, hingga mereka tidak sadar akan kelebihan alam yang sama sekali belum mereka olah untuk kesejahteraan mereka. Hingga akhirnya karena suatu bencana alam semua diporak porandakan, pohon yang selama ini mereka dewa-dewakan musnah sudah. Mereka yang selama ini terlena oleh keadaan menjadi kebingungan, menjadi serba salah, saling menyalahkan satu dengan lainnya. Mereka tidak siap menghadapi perubahan keadaan yang ada, sibuk meratapi nasib yang mereka alami.

Tidak jauh dari komunitas tersebut terdapat juga komunitas lebah yang dipimpin seekor ratu lebah yang cacat secara fisik, namun sang ratu dengan bijaknya memimpin warganya. Walaupun daerah dimana mereka berada tidak kaya pohon maupun bunga yang bisa dihisap nectarnya, namun warganya disadarkan untuk menerima kekayaan alam yang ada dengan penuh syukur, dinikmati, dan diolah sebaik mungkin sambil terus menemukan sumber daya alam baru atau menemukan cara-cara inovasi terbaru. Tatkala merekapun menerima bencana alam maka mereka lebih siap menghadapinya, dengan cepatnya mereka bangun. Tegak berdiri kembali, dengan sisa-sisa tenaga dan sumber daya yang ada. Seolah-olah tidak ada kejadian yang menimpa mereka, hadapi saat ini dan masa depan dengan penuh semangat.

Seringkali dalam hidup kita menghadapi berbagai perubahan yang ada. Baik perubahan diri pribadi sendiri maupun lingkungan sekitar kita. Tidak ada yang tetap. Seringkali kita juga terjebak dalam kondisi kemapapan yang kita alami, terlena, sehingga tidak siap untuk menerima perubahan yang ada. Dalam bukunya Managing Change at Work, Scott & Jaffe menjelaskan tahapan respon terhadap perubahan yang dialami oleh individu, sebagai berikut:
Menyangkal/Denial 
Pada tahap ini, individu berusaha menyangkal atau menolak informasi, dengan cara melindungi diri dengan bersikap acuh, meremehkan, meminimalisir dampak perubahan terhadap diri kita sendiri, seakan-akan perubahan ini hanya bersifat sementara. Penyangkalan ini merupakan suatu reaksi terhadap kondisi-kondisi eksternal lingkungan yang berubah. 
Bertahan/Resistance 
Tahap berikutnya adalah bertahan untuk tidak berubah. Kondisi ini muncul sebagai suatu reaksi yang datang dari dalam/internal individu itu sendiri (perasaan). Biasanya muncul dalam bentuk anakronisme (kebiasaan masa lalu), menyalahkan orang lain atau berpura-pura seakan perubahan itu tidak terjadi.
Mencari Tahu/Exploration
Tahap ini merupakan awal dari suatu tahap penyesuaian diri. Pada tahap ini individu mulai menyadari bahwa perubahan tidak dapat dihindari dan mulai mencari tahu atau melakukan eksplorasi tentang kemungkinan-kemungkinan atau cara-cara baru dalam melakukan sesuatu.
Komitmen/Commitment
Individu pada tahap ini sudah berhasil menyesuaikan dirinya terhadap perubahan yang terjadi dan berkomitmen mendukung perubahan itu sendiri. Individu tersebut memiliki fokus perhatian pada bagaimana caranya membuat sistem tetap berjalan dan meningkatkan cara kerja sistem itu. Pada tahap ini individu terus mencari kesempatan dan peluang untuk berkembang dan beradaptasi lebih jauh lagi.

Cerita lebah diatas dan teori diatas sebagai gambaran akan pribadi kita masing-masing dalam menghadapi perubahan yang selalu ada di depan mata dan di diri kita. Ditahapan mana kita dalam menyingkapi perubahan? Perlukah berubah dan bagaimana menyingkapi perubahan ? Hanya diri kita masing-masing. yang mengetahui. Selalu eling dan waspada mungkin ini sikap yang seringkali kita dengar. Semoga kita semua bisa menerima dan menghadapi perubahan dengan lebih bijak, lebih dewasa, kita terima semuanya dalam porsi yang sama. Selama kita masih bisa bernapas tidak akan pernah kita lewatkan perubahan yang ada. 













Jumat, 09 Oktober 2009

Praktis dan Instan


Belajar tidak mengenal waktu dan usia. Dahulu dan sekarang mungkin mata pelajaran yang seringkali menjadi momok bagi siswa antara lain pelajaran fisika,kimia atau matematika. Mungkin ada juga mata pelajaran lainnya tergantung respon siswa dalam mempelajari mata pelajaran tersebut. cara pandang berubah ternyata dengan memahami rumus-rumus yang kelihatannya sulit tersebut akan memudahkan dalam menyelesaikan soal-soal yang ada,sehingga walaupun soalnya diganti dan menjadi kelihatan lebih sulit namun karena sudah memahaminya tetap saja tidak menemukan kesulitan dalam mengerjakannya. Kemudian untuk mempercepat penyelesaian soal-soal kemudian dibuatlah meteode penyelesaian seperti penggunaan rumus-rumus praktis yang akan mempercepat penyelesaian soal yang kelihatan rumit. Yang menjadi persoalan berikutnya apakah dengan rumus praktis tersebut mampu menghapus kesan momok pada pelajaran tersebut? Kurasa tidak. Rumus praktis memang akan mampu mempercepat penyelesaian soal namun apabila tidak memahami rumus dasarnya akan terjebak dalam proses penghafalan rumus. Kunci sebenarnya adalah dengan memahami konsep dari rumus dasar sehingga dengan memahami maka sebenarnya dapat diturunkan rumus-rumus praktis yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan

Begitu juga dengan mie instan, memang sekarang sudah menjadi trend hidup. Apabila merasa lapar maka bagi sebagian orang akan berusaha mencari atau membuat mie instan. Seorang ibu mungkin begitu juga apabila tidak ada lauk atau sayuran di rumah akan dengan mudahnya membuat mie instan. Akan menjadi hal yang aneh apabila dihadapkan pada sebungkus mie telur berikut bumbu-bumbu yang harus dimasak, belum tentu semua orang bisa mengolah dan memasaknya menjadi masakan yang mungkin rasanya bisa melebihi dari mie instan. Berbagai alasan mungkin muncul apabila dihadapkan pada kejadian seperti ini dari mulai tidak bisa memasak, ribet dan mungkin bisa lari ke masalah gender. Padahal sebenarnya banyak yang bisa dipelajari dari proses membuat mie dari bagaimana memilih jenis mie, bumbu, seberapa lama merebus mie dan sebagainya. Belajar untuk memahami proses tersebut, sehingga semakin paham akan bisa menciptakan inovasi masakan-masakan baru dengan bahan dasar mie yang beraneka ragam.

Dari rumus praktis dan mie instan, terdapat dua kata "Praktis" dan "Instan". Dalam hiduppun mungkin kita seringkali terjebak hal-hal praktis dan instan. Bahkan bagi sebagian orang mungkin ada yang berusaha mencari cara-cara praktis dan instan agar memperoleh keuntungan yang secepatnya, proses-proses alami mungkin dikorbankan tanpa memikirkan efek sampingnya semisal pemakaian pupuk kimia yang berlebihan. Orang pun mungkin ada yang berusaha mencari kesuksesan dan harta dengan cara-cara praktis dan instan namun tidak mau berusaha dan malas untuk mengeksplorasi dirinya, hingga yang diperolehnya hanyalah kenikmatan sesaat dan begitu dia jatuh tidak mampu untuk bangun kembali. Dalam menyelesaikan masalah terkadang karena hanya memikirkan solusi praktis dan instan tanpa berusaha menyentuh akar permasalahan yang ada hingga memahami dan dihasilkan solusi yang benar-benar menyelesaikan masalah. Dalam berkomunikasipun terkadang karena praktis dan instan seseorang terjebak menggunakan sms, email dsb untuk menyelesaikan masalah yang ada tanpa melihat seberapa jauh efek dari sms atau email yang dia kirim. Masih banyak kasus-kasus sehari-hari dimana kalau kita tidak bijak dan memahami benar-benar akan segala sesuatunya maka cara praktis dan instan akan menjadi bumerang bagi diri sendiri dan orang lain. Diperlukan permenungan masing-masing hingga akhirnya bisa menyadari apakah menggunakan cara-cara praktis dan instan? Sudah tepatkan cara tersebut digunakan dengan bijak? Ataukan terus digunakan sebagai pembenaran sesat? Tinggal masing-masing mencari jawabannya, sayapun masih terus mencarinya.







Minggu, 27 September 2009

Catatan Seekor Kucing

Ketika kulihat seekor kucing yang sedang asyik bercermin di depanku, aku merasa geli dan sedikit terlintas di pikiranku sesuatu hal yang selama ini seringkali kudengar dari teman-temanku. Kata-kata yang seringkali terucap apabila mendengar seuatu yang tidak disetujui mengani dirinya semisal "Aku ini anak Setu Paing, jadi ya beginilah diriku watakku. Aku tidak bisa untuk menjadi seperti itu. Pokoknya ya kayak gini, itulah diriku" kata temenku sambil agak ngotot atau "Aku ini Shio Macan, watakku keras tidak mau diatur, jadi jangan ngatur diriku ya," kata temenku lainnya. Masih banyak kata-kata lainnya dengan alasan-alasan seperti itu dari mulai hari lahir, shio, mangsa sampai dengan alasan lainnya yang seolah-olah bisa menjadi alasan mereka dan juga terkadang diriku seringkali terlena hal-hal seperti itu.

Menipu orang lain dengan berbagai alasan diatas memang seringkali mudah, namun apakah memang benar hal itu bisa menjadi alasan yang menjadikan diri kita benar? Apakah hal itu bukan merupakan sesuatu bagian dimana kita juga berusaha menipu diri sendiri? Apakah selamanya cara-cara seperti itu akan digunakan kawanku? Segala macam atribut yang seringkali digunakan sebagai alasan akan lebih bijak bila dianggap sebagai sebuah "parameter " yang bisa digunakan untuk mengenal diri kita, membantu dalam bercermin. Semakin kita mengenal dan memahami parameter yang ada dan semakin kita mengenal diri kita maka seharusnya kita semakin paham akan profil diri kita. Profil diri yang pasti memilki sisi positif dan negatif yang masing-masing orang berbeda-beda. Tinggal kemauan dan kesadaran dari masing-masing orang, apakah akan menambah sisi positif yaang dimilikinya dengan terus belajar dan meng upgrade dirinya ataukah akan terus menambah sisi negatif dengan terus menjadikan segala hal yang semula merupakan parameter untuk menjadikan pembenaran dirinya. Dibutuhkan keberanian untuk berdamai dan menerima dengan ikhlas profil diri yang sebenarnya. Sebuah profil diri yang benar-benar mencerminkan diri kita sendiri, dan tidak berusaha untuk mencontek ataupun menjadi profil orang lain.

Semoga dengan adanya keberanian, kemauan, kesabaran, keikhlasan diri kita masing-masing dapat membuat profil diri yang sejati dan dapat menjadi seorang manusia dengan cara-cara yang lebih manusia.







Rabu, 23 September 2009

Kura-kura dan Gembala

Sekali waktu pernah kuperhatikan reptil yang ada di rumah, binatang kura-kura atau kuya-kuya (kata anakku yang masih belajar ngomong). Dengan tenangnya dia berenang-renang di kolam sambil mencari makanan yang ada. Tatkala ada sedikit yang mengejutkan dirinya maka akan ditariknya kepalanya kedalam tempurungnya, terkadang kaki-kakinya ditariknya pula. Betapa tenangnya dirinya berada dalam tempurungnya, karena dia yakin akan kekuatan yang ada dalam dirinya. Dengan kesadaran pula kita dapat belajar untuk seperti kura-kura berusaha untuk menarik dan menguasai segenap panca indra yang ada di diri kita, tangan, kaki, mata, mulut, telinga, hidung dan segenap yang ada yang dalam badan kita. Kita kenali semuanya, pikiran kita pun kita pelajari hingga akhirnya kita dapat belajar menyelami betapa liarnya pikiran kita. Dengan kesadaran untuk belajar menyelami pikiran kita dan belajar menguasai segenap indra kita, mudah-mudahan akan semakin membangkitkan kesadaran hidup dan pengendalian diri serta kitapun semakin bijak dalam menjalani hidup.

Begitu juga dengan seorang gembala itik, sungguh tidak mudah untuk menggembalakan sekawanan itik terkadang ada satu atau dua ekor itik yang susah untuk diaturnya. Dengan sabarnya dia menggembalakan itiknya, dan kalaupun ada satu-dua yang melenceng jalannya dan hilang maka dia akan berusaha untuk meluruskan dan mencarinya dan mengarahkan hingga semuanya sampai ketujuan. Kalaupun ada satu yang sakit diapun akan mengobatinya hingga sembuh. Seperti seorang gembala kitapun juga bisa belajar untuk menggembalakan segenap panca indra kita dan pikiran kita. Terkadang perut ingin makanan namun mulut rasanya malas untuk mengunyahnya. Terkadang ingin main namun kaki terasa berat untuk melangkah. Menggembalakan segenap indra dan pikiran kita dibutuhkan sebuah kesadaran dan kesabaran serta kemauan untuk terus belajar. Mencoba belajar untuk menggembalakan segenap ego dan ke-Aku-an yang ada dalam diri kita dibutuhkan keberanian. Belajar untuk melayani dengan ketulusan sungguh mengagumkan. Minimal belajar untuk menjadi seorang gembala bagi diri kita dahulu. Kemudian bisa diperluas menjadi gembala bagi keluarga dan lingkungan sekitar kita, apabila kita sadar kalau kita mampu menjadi seorang gembala yang sejati.

Sebuah cacatan perjalanan mencari kesadaran dari seekor kura-kura dan seorang penggembala itik

Rabu, 09 September 2009

Ketika Duka Itu Datang

Orang yang dilanda duka selalu ber­usaha untuk menghindarkan rasa duka itu dengan erbagai macam hiburan berupa kesenangan maupun hiburan, baik hiburan berupa kesenangan maupun hiburan berupa pelarian diri kepada filsafat-filsafat atau petuah-petuah yang menghibur. Atau ada pula yang menyerah dan taluk membiar­kan dirinya tenggelam ke dalam duka sampai menjadi putus asa, bunuh diri menjadi gila dan sebagainya. Namun, segala macam pelarian tidak mungkin membebaskan kita dari duka. Mengapa? Karena duka adalah kita sendiri. Duka adalah kita, yang ingin melarikan diri itu pula. Duka tidak terpisah dari kita sen­diri, takkan dapat kita tinggalkan, ke manapun kita melarikan diri. Jika kita menutupinya dengan berbagai hiburan, baik hiburan badaniah maupun batiniah, maka penutupan itu hanya sementara saja. Si duka masih ada, kadang-kadang menyelinap ke bawah sadar dan selalu menghantui kehidupan kita.


Lalu bagaimana agar kita benar-benar terbebas dari pada duka? Terbebas dari pada kecewa? Tanpa menyerah dan ta­luk? Pertanyaan ini perlu kita ajukan kepada diri kita masing-masing, karena tanpa menyelidiki hal ini sedalam-dalam­nya, kehidupan kita akan selalu penuh dengan kecewa dan duka sepanjang hidup, hanya dengan adanya kesenangan sekilas lintas sebagai selingan lemah saja.


Kecewa bukanlah akibat dari peris­tiwa di luar diri, melainkan seuatu pro­ses dari penilaian pikiran atau si aku. Pikiran membentuk suatu gambaran ten­tang diri sendiri, yaitu si aku yang selalu menginginkan hal-hal yang menyenangkan. Keinginan-keinginan untuk senang ini kalau tidak tercapai akan menimbulkan kekecewaan. Keinginan-keinginan itu dapat juga dinamakan harapan-harapan berlangsungnya sesuatu yang telah ter­jadi. Pikiran atau gambaran si aku ini tak terpisahkan dari kenang-kenangan akan kesenangan yang menimbulkan ikat­an kuat sekali. Si aku terikat erat dengan kesenangan, baik kesenangan badani maupun rohani, dan kalau ikatan itu putus, akan menimbulkan rasa sakit. Kalau kesenangan dijauhkan dari si aku, maka si aku merasa sakit, kecewa, dan duka. Lalu si aku pula yang menilai bahwa duka amat tidak enak, maka si aku pula yang berusaha melarikan diri dari kecewa dan duka itu, dengan ber­bagai macam hiburan lahir maupun batin. Padahal, sang suka itu ya si aku itu juga, yang agar tidak ingin duka. Dengan begini, tercipta lagi suatu keinginan lain, yaitu ingin tidak duka! Betapa berbelit-belitnya pikiran ini bekerja, betapa licinnya.


KITA akan menjadi permainannya, diombang-ambingkan oleh permain­an pikiran yang membentuk si aku. Si aku selalu mengejar senang, selalu menjauh­kan yang tidak enak. Mula-mula meng­inginkan kesenangan, lalu tidak tercapai, lalu kecewa dan duka, lalu menganggap kecewa dan duka tidak enak, lalu ingin lari dari itu pula, bukan lain karena ingin agar senang, agar terlepas dari keadaan yang tidak enak itu. Dan demikian seterusnya. Padahal, justeru keingin­an untuk lari dari duka inilah yang memberi pupuk dan memperkuat adanya duka! Karena memperkuat si aku, me­nambah subur keinginan-keinginan si aku.


Habis bagaimana? Kalau tidak melari­kan diri dari duka, kalau tidak mencari hiburan dari duka lalu apakah kita harus menerima begitu saja, membiarkan duka menenggelamkan kita? Sama sekali tidak demikian, karena sikap “menerima nasib” ini hanya akan mendatangkan kelemahan jiwa, membuat orang menjadi frustasi dan apatis, menjadi masa bodoh! ini mendatangkan kemalasan dan mengurangi semangat atau gairah hidup!


Kalau datang kecewa? Kalau datang rasa duka? Pernahkah kita MENGHADAPINYA? Bukan membiarkan pikiran sibuk sendiri, memikirkan hal-hal yang menim­bulkan, kecewa dan duka itu, melainkan menghadapi dan mengamati perasaan kecewa atau duka itu dengan penuh per­hatian, penuh kewaspadaan dan tidak lari daripadanya? Beranikah kita mengamati diri sendiri ketika kecewa atau duka datang, mengamati tanpa penilaian baik atau buruk, tanpa keinginan melenyapkannya, melainkan hanya pengamatan saja yang ada? Bukan si aku yang mengamati luka, karena kalau begitu, tentu akan timbul penilaian dan tanggapan dari si aku dan kita kembali terseret ke dalam iingkaran setan dari permainan si aku lagi. Yang ada hanya kewaspadaan saja, pengamatan penuh perhatian, tanpa pamrih apa pun melainkan hanya kewas­padaan. Maukah dan beranikah kita men­cobanya? Mungkin hanya inilah rahasia pemecahannya, tanpa teori melainkan harus dihayati oleh diri masing-masing.

(diambil dari Serial Suling Emas dan Naga Siluman karya Kho Ping Hoo)


Senin, 07 September 2009

Tak Ada Yang Abadi


Pada saat menjelang puasa dua orang sepupu yang telah lama tidak bertemu sehabis nyekar ke makam lelulurnya bertemu di rumah neneknya. Mereka habiskan waktu untuk menceritakan pengalamannya merantau selama ini. Kedua sepupu tersebut mempunyai jalan hidup yang berbeda, yang satu sebagai seorang gigolo dan satunya sebagai seorang yang suka berderma. Namun pada saat bertemu di rumah neneknya keduanya sedang dalam kondisi titik nol alias hancur, apa yang selama ini mereka miliki karena suatu hal musnah sudah.

Si gigolo , karena memiliki wajah dan badan yang atletis tentu tidak susah untuk memerankan perannya . Dengan mudahnya dicarinya pelanggan-pelanggan kelas atas, tante-tante kesepian dan wanita single yang tidak segan-segan mengucurkan uang demi kenikmatan sesaat yang diperolehnya. Namun ada yang aneh pada anak tersebut, uang dan harta yang selama ini diperolehnya dinikmati sebagian, dan sebagian besar dia bagi-bagikan kepada yang membutuhkan pertolongannya. Sungguh sebuah jalan hidup yang mungkin terasa aneh.

Si penderma, anaknya memang baik hati suka, santun, menolong sesama yang sedang kesusahan. Karier di juga cukup bagus kalau tidak mau dikatakan sebagai sukses. Setiap kali ada yang membutuhkan pertolonganya dia tidak ragu-ragu untuk menolongnya. Namun dibalik semua yang dia lakukan ternyata ada sesuatu dibalik itu semua. Berbagai pujian dan prestasi yang selama ini diperolehnya membuat dirinya terlena, sehingga dia melakukan perbuatan tersebut namun dia juga mengharapkan dengan sangat adanya pujian dan harapan agar kariernya semakin menanjak. Apapun akan dia dermakan asal dia memperoleh manfaat dari semua itu. Segala tipu daya dimilikinya dibalik wajahnya dan sifatnya yang suka berderma.

Sebuah jalan yang saling berbeda diantara keduanya, saling bertolak belakang. Namun ternyata memiliki kesaman bahwa saat ini mereka tidak memiliki apa yang selama ini dibanggakannya, harta, kebanggan, harga diri telah musnah. Dalam keadaan yang sama, sama-sama menderita menghapus semua perbedaan yang selama ini mereka anggap benar. Saking akrabnya mereka ngobrol, tanpa menyadari neneknya yang memperhatikan dengan seksama obrolan kedua cucunya. Dia simak baik-baik, sambil diselesaikannya kelontong ketupat yang akan dimasaknya dan dijualnya di pasar. Memang sang nenek walaupun sudah berumur, penglihatan yang sudah mulai berkurang namun semangat bekerjanya masih tetap ada. Tiap hari sang nenek membuat ketupat dan pulang berjualan biasanya memberikan oleh-oleh buat cucu dan cicitnya semisal nasi jagung, nasi urap, jenang blendung, clorot, timus dan segala macam jajanan pasar. Menu makanan desa yang slalu membuat cucu dan cicitnya datang.

Sang nenek sambil merapikan kelontongan ketupat kemudian menyapa cucunya, ” Ngger cucuku, kesini nak. Nenek turut bersedih mendengar cerita kalian. Nenek bersedih bukan karena sekarang kalian tidak punya apa-apa lagi. Buat kamu cucuku aku tidak pernah menilai seseorang dari pekerjaannya, semuanya sama saja. Kalian bisa saja menipu orang lain, namun kalian tidak akan bisa menipu dirimu sendiri, hati kecil kalian tidak akan bisa kalian tipu. Kamu menjadi gigolo memang benar hasilnya tidak kamu nikmati sendiri, namun kamu juga sudah turut larut kedalam kenikmatan seksual dan kenikmatan duniawi yang selama ini kamu terima. Ini tidak bisa kamu sembunyikan. Nenek akan senang apabila kamu bisa memasuki daerah kegelapan namun kamu bisa memberikan pelita bagi kegelapan, kamu berikan cahayamu sehingga wanita-wanita yang selama ini mencari kenikmatan sesaat menjadi tersadar dan tidak melakukan perzinahan. Kalau kamu memang mau memasuki jalan kegelapan, kuatkan dirimu, jagalah cahayamu jangan sampai mati, usahakan terus kau jaga nyalanya, berikan slalu terang dimanapun kamu berada.” kata nenek itu kepada cucunya yang menjadi gigolo.

”Kemudian kamu cucuku, aku juga sedih karean ternyata dibalik sifat kedermawanamu masih melekat ke-aku-an yang begitu kuat, alangkah membahayakan dirimu terbelenggu oleh pujian dan keegoisan yang selama ini menyelimutimu. Bebaskan dirimu dari semua nafsu yang selama ini menguasaimu, lakukan semuanya tanpa kemelekatan. Segala pujian dan harapan yang selama ini kau dambakan harus kau buang jauh-jauh, jalankan semuanya dengan penuh keikhlasan, sama seperti sepupumu terus kau nyalakan lilinmu dengan kemauan untuk terus melumerkan lilinmu. Kalau kamu tidak mau membagikan sedikit harapan dan terangmu maka lilinmu pasti tidak mau menyala. Jalan yang kau pilih memang jalan terang yang kalau tidak kau jaga lilinmu maka kau akan disilaukan oleh terang jalan. ” kata sang nenek kepada cucu yang satunya

”Jalan kegelapan, jalan remang-remang, dan jalan terang pasti akan terus kalian lalui tergantung pilihan kalian. Siapkan diri kalian dan jangan lupa untuk selalu tersadar, jagalah selalu nyala lilin yang ada didirimu, berikan semuanya dengan penuh keikhlasan, belajarlah untuk menjadi seputih merpati namun selicik ular, dan belajarlah untuk menghindari keterikatan dan kemelekatan ke hal-hal yang bersifat didunia ini. Tiada yang abadi yang abadi hanyalah jiwa-jiwa kalian. Kalian beserta semua cucu dan cicitku , kupercaya mempunyai cahaya lilin yang ada didalam dirimu dan kupercaya bisa memberikan nyala terang yang nenek banggakan. Jangan lupa mengucapkan syukur dan eling marang sing gawe urip. Nenek hanya bisa memberikan apa yang nenek bisa berikan selanjutnya terserah kalian. Sejelek apapun kalian, tetap cucu-cucu nenek yang kusayangi.” kata sang nenek sambil tersenyum

”Kalau tiba saatnya nati nenek dijemput ajalnya aku ingin kalian dan semuanya jangan menangisinya. Kematian bukalah hal yang perlu kalian tangisi dan ratapi, ketika ada kematian pasti ada kelahiran. Terimalah dalam porsi yang sama saat kalian sedih ingatlah saat senang, saat menerima kesulitan seperti sekarang ini ingatlah saat betapa kalian pernah memperoleh berbagai kemudahan. Jalani semuanya, dan teruslah belajar. Ngelmu iku kalakone kanthi laku ngger.”

Kedua cucunya mendengarkan dengan seksama dan setelah waktu liburan nyadrannya habis merekapun pulang ke tempat mereka semula. Dua bulan kemudian sang nenek meninggal dalam keadaan tenang, tersungging senyum di bibirnya. Terlihat wajah yang damai, dan bagi kedua cucunya sang nenek masih tetap hidup didalam hati mereka, tetap selalu menyertai langkah-langkah mereka. Kematian tidaklah memisahkan mereka dengan sang nenek. Dan mereka pun terus menjalani hidup sambil mengikuti yang dikatakan neneknya.


Takkan selamanya tanganku mendekapmu. Takkan selamanya raga ini menjagamu. Seperti alunan detak jantung, ku tak bertahan melawan waktu. Dan s'mua keindahan yang memudar atau cinta yang t'lah hilang, Biarkan aku bernafas sejenak, sebelum hilang. Takkan selamanya tanganku mendekapmu, Takkan selamanya raga ini menjagamu. Jiwa yang lama segera pergi. Bersiaplah para pengganti.Tak ada yang abadi (By Peterpan)

Im memoriam :eyang uti
Tak sempat kubahagiakan dirimu

Kamis, 03 September 2009

Ayam Dan Pasangan Jiwa


Kadangkala aku bertanya dimana cinta berada, tersembunyi tiada kunjung menghampiri. Dua angsa memadu rindu di danau biru bercumbu, pagut sepi ku di sini letih hati. Begitu jauh waktu ku tempuh sendiri mengayuh biduk kecil, hampa berlayar akankah berlabuh ? hanya diam menjawab kerisauan. Kadangkala aku berkhayal seorang di ujung sana juga tengah menanti tiba saatnya . Begitu ingin berbagi batin mengarungi hari yang berwarna dimana dia pasangan jiwaku ? ku mengejar bayangan kian menghilang penuh berharap (Pasangan Jiwa by Katon Bagaskara)

Ditengah pekarangan rumah terlihat seekor burung merpati jantan dan sahabatnya seekor ayam jantan bangkok sedang asik mengobrol. Keduanya merupakan dua orang sahabat yang saling mengerti satu sama lain, terkadang keduanya memecahkan masalah pribadi masing-masing berdua terutama sekali si ayam selalu punya masalah. Dan saat ini dia sedang ada masalah tentang pasangan jiwanya.

"Gimana ya kawan, dimana harus kutemukan ayam betina yang bisa menjadi pasangan jiwaku?" tanya ayam
"Lha bukannya banyak ayam disini, mau jenis yang mana. Tinggal dipilih saja lalu kawin seperti biasanya kamu lakukan, gitu aja kok repot." jawab merpati
"Bosan kawan, mosok kawin, putus, kawin gitu terus." jawab ayam, kemudian dia menceritakan pengalaman kawinnya.

Kawin pertama dengan ayam arab (ayam yang warnanya blirik), mula mula di tertarik dengan bodynya yang menarik, bikin kesengsem. Namun ternyata setelah kawin suka ngatur dirinya sehingga ditinggalkannya. Kawin kedua ditemukannya ayam trondol (ayam yang bulunya sedikit), kembali lagi dia terjebak dengan nafsunya kemolekan dan balutan pakaian mini yang membalut tubuhnya membuatnya tertarik, namun ternyata dia cuma diporotin hartanya dan akhirnya putus di tengah jalan. Kawin ketiga dia kecantol dengan ayam cemani, ternyata dibalik kulitnya yang hitam manis tersembunyi sosok yang mau menang sendiri, susah diatur dan belum bisa diajak untuk hidup berumah tangga. Rasa cemburu selalu menghantui hubungannya, tiada rasa saling percaya, saling curiga hingga akhirnya putus juga. Kawin keempat dicarinya ayam mutiara yang dari segi body menarik terlihat santun, manutan, tidak aneh aneh namun ternyata suka selingkuh sehingga dia tidak kuat dan ditinggalkannya. Begitu seterusnya dicarinya jenis ayam lainnya semisal ayam hutan merah, ayam hutan hijau, ayam kinantan , ayam sumatra dan sebagainya namun tidak ditemukannya apa yang benar-benar dicarinya. Begitu banyak harapan yang diinginkannya dari pasangannya dari yang penyabar, agamis, santun, lemah lembut, penyayang, pengertian pokoknya segala kebaikan yang diinginkan, sedangkan yang jelek tidak mau diterimanya. Sampai dengan orientasi sex yang dia inginkan dari kamasutra, treesome dan sebagianya, semua yang diinginkan harus ada dalam diri pasangannya.

Lama si ayam menceritakan kepada kawannya, merpati pun dengan seksama mendengarkan apa yang di ceritakan sobatnya. Hingga akhirnya diapun mengeluarkan pendapatnya

"Begini lho sobat, aku bisa memahami apa yang selama ini kamu cari-cari. Memang hal yang lumrah kalau kamu berusaha mencari ayam yang sesuai dengan kriteria yang kamu inginkan , dengan kesempurnaan yang kamu bayangkan. Namun apakah ada ayam yang 100% sempurna dengan tidak adanya kejelekan yang ada di dalamnya, aku rasa sangat tidak mungkin ditemukan. Kemudian dirimu sendiri apakah juga sesempurna yang seperti kriteriamu, aku rasa juga tidak. Banyak kejelekan yang selama ini melekat didirimu yang mungkin selama ini kamu sadari atau tidak. Sungguh tidak adil apabila kamu menginginkan pasanganmu sesempurna mungkin namun dirimu juga tidak belajar untuk menjadi sempurna. Tidak ada yang bisa sesempurna 100% namun kuyakin tiap makhluk bisa belajar untuk bisa mendaki kesempurnaan. Kebaikan dan kejelekan tetap akan melekat dalam diri tiap makhluk, tinggal kesadaran tiap makhluk untuk menyadari kebaikan dan kejelekan yang ada. Saling menerima kebaikan dan kejelekan, saling melengkapi, saling mengisi dan saling percaya harus ditumbuhkan dalam dirimu dan pasanganmu. Belajarlah untuk selalu berjalan beriringan, sejajar, tiada yang merasa menang atau kalah dalam menempuh hidup. Kalau kamu terjatuh pasanganmu berusaha untuk mengangkat dan menggendongmu, begitu juga sebaliknya. Berusaha untuk menerima, memberi tanpa harus ingin mengubah seperti yang kau mau biarlah seperti apa adanya. Kalau kamu bisa menyadarinya aku yakin akan kau temukan pasangan jiwa yang telah menunggumu.

Kemudian merekapun melanjutkan obrolannya, dan karena sudah sore merpati pamit ke sobatnya untuk kembali kerumahnya bertemu dengan pasangan dan anak-anaknya. Diceritakan kepada pasangannya apa yang barusan dibicarakan dengan sobatnya ayam. Merpati betina hanya tresenyum mendengar cerita pasangannya, dihadiahinya dengan ciuman kanan-kiri dan saling berpelukan.

"Aku sungguh berbahagia akhirnya menemukanmu, sebuah anugrah terindah yang kuterima diberi kesempatan untuk hidup bersama denganmu. Kau mau menerima diriku dengan segala kekurangannya yang melekat didiriku, darimu kubelajar banyak tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup. Saat kuterjatuh kau selalu setia mendapingiku, kau tutupi kelemahanku dengan kelebihanmu. Terkadang ada saatnya aku harus berada di barisan terdepan namun ada kalanya dirimu mengambil alih untuk berada di depan. Selalu bergandengan, sambil sesekali diperlukan sedikit perselisihan dan perbedaan sebagai bumbu agar perjalanan tidak terasa hampa. Kauberikan pelita-pelita kecil sebagai anugrah yang menemani langkah kita berdua." kata sang merpati jantan.

Waktu terus berlalu sejak di hari itu, engkau dan aku menyulam janji, berbagi hidup ini. Meski orang mengira kita 'tak akan lama, tapi ternyata senyuman cinta terus mekar di jiwa. Kau yang s'lalu di sampingku membelai saat tidurku, tempat curahan rasa, satu-satunya kini sampai s'lamanya . Masih tumbuh dan segar wangi kasih menyebar, semakin kuat hasrat melekat cinta kita berdua, menggelora (Mekar di jiwa by Katon Bagaskara)

Dedicated to my wife and two my little Krishna

Senin, 24 Agustus 2009

Profile, Mapping, Benchmark, Analisis and ....

Hidup merupakan sebuah misteri, yang terkadang susah untuk menguraikannya namun terus saja kita jalani. Suka tidak suka harus kita jalani hidup yang penuh dengan lika-liku dan penuh warna. Mungkin karena terlalu disibukan dengan rutininas hidup seringkali kita lupa untuk memaknai hidup yang telah kita jalani, bahkan terkadang mungkin ada sebagian dari kita yang tidak mau ambil pusing. Dianggap angin lalu dan tidak dianggap sama sekali hingga kematian menjemput nantinya. Yang berbahaya apabila kita terlena dan hidup dengan keterikatan duniawi sehingga justru menjadi beban kita untuk melangkah.

Dalam menjalani hidup kiranya kita perlu untuk mengenal profil, mapping, bencmark hingga akhirnya analisa dan tindak lanjut yang akan kita jalankan dalam menjalani hidup.

Profil sendiri merupakan penjabaran dari diri kita sendiri dahulu. Kita harus belajar untuk mengenal seluk beluk dari diri kita sendiri. Mungkin tidak mungkin kita untuk mengenal 100% dari diri kita sendiri, namun setidaknya terus berusaha untuk menggali diri kita hingga kita lebih mengenal diri kita. Segala seluk beluk mulai dari suku, 'agama' , weton, mangsa, shio atau yang lainnya yang membantu untuk kita untuk menggambarkan profile diri kita. Hingga akhirnya kita akan merasa 'bangga' dan menerima dengan 'ikhlas' untuk menyebutkan profile saya 'A', 'B', dan seterusnya. Setelah kita merasa sudah mengenal profile diri kita mungkin bisa dilanjutkan untuk mengenal profile sekitar kita. Mengenal lebih dalam tanpa harus menghakimi , merasa yang paling benar. Dengan mengenal sekitar kita akan semakin memperkaya wawasan dan pola pikir kita.

Mapping sendiri merupakan pemetaan dari profile diri kita dan sekitar kita. Mapping sendiri bisa dilakukan dengan bantuan mengenal segala macam seluk-beluk diatas., terserah kita masing-masing mau dipetakan dengan cara apa. Kegunaan dari mapping sendiri akan membatu kita untuk mengetahui posisi kita sendiri dan juga untuk memetakan sekeliling kita, sehingga memudahkan dan menjembatani kita untuk masuk kedalam lingkungan sekitar kita. Semoga dengan mengenal posisi kita akan membantu dalam menggali dan mengeksplor lebih dalam diri kita, mungkin juga akan memudahkan kita untuk membantu sesama agar bisa turut menggali pula dirinya.

Bencmark sendiri merupakan sebuah 'cermin hidup' bagi diri kita untuk menilai diri kita dan membantu menyadarkan kita . Sebuah nilai-nilai hidup yang mungkin diperlukan agar kita selalu tersadar. Perlu keberanian, kedewasaan, kebijakan diri kita untuk memberikan nilai bagi diri kita pribadi dan sekitar kita.

Hingga akhirnya kita bisa menentukan analisa akan perjalanan hidup yang selama ini telah kita tempuh, apakah kita sudah menempuh perjalanan yang memang seperti yang kita harapkan dan sekitar kita. Analisa yang perlu terus dilakukan tanpa merasa paling benar dan terus belajar hingga akhirnya kita menemukan hidup yang lebih 'manusia'. 'Manusia' yang terus mencari 'Kesadaran Hidup' dan menemukan hidup yang penuh Makna. 'Manusia' yang terus berusaha untuk memberikan 'Terang', 'Harapan', dan 'Kasih'