Jumat, 30 Oktober 2009

Pernahkah?





Kawan
Ingin sekali aku bertemu dengan dirimu, namun seakan tak ada waktu
Kurindukan saat-saat dimana kita seringkali bersama
menghabiskan waktu yang ada bersama
siang dan malam bersama membuat lukisan atas hidup kita bersama
Entah kapan dan dimana kita bisa berjumpa kembali


Kawan
Pernahkah dirimu merasa kesepian?
Kalau pernah, syukurilah sebagai nikmat yang kauterima
Dengan begitu dirimu akan terus berusaha membantu sesama agar tidak merasa sendiri,
merasa kesepian lagi, merasa diperhatikan
karena ada dirimu yang akan selalu menemani


Pernahkah  dirimu merasakan kegagalan?
Kalau pernah, bersyukurlah kawan
Dengan pernah merasa gagal, kamu setidaknya sudah pernah menjadi orang yang gagal
Jikalau kamu melihat sesama yang sedang merasakan kegagalan
bantu dia, angkat dia, bangunkan dia, semangati dia
Agar berusaha dirinya tidak menyerah dan bersemangat kembali
hingga tercapai apa yang diinginkannya


Pernahkah dirimu merasakan kesakitan, kelaparan dan kedinginan?
Ucapkan syukur kalau kamu pernah mengalaminya


Dengan begitu kamu akan bisa membantu sesama yang sedang sakit dan kelaparan
Kau bantu sembuhkan lukanya, basuhi dia dengan kasihmu
Kau berikan sebagian dari makananmu sehingga mereka tidak lapar lagi
Kau selimuti dia dan Kau hangatkan dengan cahaya terangmu


Pernahkah dirimu merasa ditinggalkan dan disakiti?
Sebuah nikmat kalau kamu pernah mengalaminya
Dengan begitu kamu menjadi tahu dan terus berusaha untuk tidak menyakiti sesama
Berusaha untuk tidak meninggalkan dan melupakan sesamamu
Kau gandeng, Kau tarik tangannya apabila dia terjatuh


Pernahkah dirimu merasakan keberhasilan, kecukupan?
Jikalau pernah, bagaimana rasanya?
Ucapkan syukur dan jangan pernah lupa
Bantulah sesamamu agar mereka bisa pula merasakan
Keberhasilan, Kecukupan , Kenikmatan


Pernahkah dirimu merasakan kegembiraan, kesenangan?
Jangan lupa pula untuk bersyukur kawan
Bantulah dan ingat selalu sekelilingmu
Bagilah kegembiraan dan kesenanganmu buat mereka
sekecil dan secuil bentuknya amat berguna bagi mereka temanku


Pernahkah?
Pernahkah?
Pernahkah?


Aku hanya bisa bertanya kepadamu
Hanyalah pertanyaan-pertanyaan yang mungkin dirimu sendiri yang bisa menjawabnya
Akupun juga masih bertanya kepada diriku sendiri
Mungkin pertanyaan seperti tu membantumu kawan
Semuanya mungkin telah kaulami Kawan
Sama seperti saat kita membuat lukisan hidup kita
Berbagai macam warna telah kita tumpahkan di kanvas yang ada
Hingga akhirnya cuma ada warna putih di kanvas hidup kita
Semuanya terjadi dan akan terjadi
Sama saja
Semuanya akan musnah, sirna
Hanyalah jiwa mu, jiwa ku dan jiwa lainnya yang tersisa


I miss you, my friends














Kamis, 29 Oktober 2009

Bird Song

A little bird singing a love song that her mother taught. That little bird somehow sings it over and over . She files very high try to find the place she first learnt to fly. She files so very high she wants to seek an answer from the sky. On a misty mountain over the clear water river, but there's no misty mountain let alone a clear water river. And she just wants to go home. She just wants to be at home on a misty mountain, but now turned into barren. She just wants to be singing when the sun rise in the morning on a misty mountain but now turned into barren. She doesn't know what happened. All of those trees has been cut down. In the name of humanity The river runs dry, because now clouds refuse to cry. If I could Then I would Try to make us all Care bout her call (Bird Song by Letto)

Disebuah  hutan di lereng Gunung yang suasananya masih asri dan alami, ditumbuhi oleh beraneka ragam pohon, sehingga menjadi habitat yang menyenangkan bagi komunitas burung. Bermacam-macam jenis burung berada disitu. Tentu saja masing-masing jenis burung mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, ada yang mempunyai bulu yang indah dilihat namun tidak mampu menghasilkan  suara nyanyian yang merdu untuk didengar. Ada yang mempunyai bentuk yang proporsional sehingga kelihatan menawan, namun ada yang mempunyai bentuk yang aneh bahkan menakutkan untuk dilihat.

Pada dasarnya semua burung dapat hidup dengan rukun satu dengan yang lain, namun entah karena prubahan atau karena ego yang semakin dikedepankan suasana yang tadinya ayem tentrem menjadi berubah. Masing-masing burung berusaha mengeluarkan suaranya, sekeras-kerasnya tidak peduli merdu atau tidak. Saling berlomba-lomba menjadi yang terkeras, yang tadinya suaranya merdu menjadi tidak merdu lagi, yang tadinya suaranya serak-serak becek makin tambah becek, yang suaranya sumbang menjadi lebih hancur lagi suaranya. Suasana menjadi sedemikian gaduh, menjadi tidak enak dan sudah mengganggu.


Hingga akhirnya membangunkan tidur darès atau manuk darès atau manguni atau Si Burung Hantu. Burung yang diberikan anugrah dengan kedua mata besar yang menghadap ke depan dan memiliki 100 kali lebih dari kepekaan mata manusia. Juga dianugerahi pendengaran yang tajam serta bulu-bulu yang halus sehingga saat dia terbang malam tidak mengeluarkan suara berisik. Sang burung yang dibalik wajahnya yang seram, suara yang tidak merdu namun melambangkan kebijakan didalamnya. Dengan mata yang agak merem-melek, maklum agak silau dengan cahaya matahari dia pun memulai berkata didepan burung-burung lain yang sedang asyik berteriak-teriak

"Wahai kawan, coba diam dulu barang sebetar", suara burung hantu agak meninggi, membuat semua burung terdiam. Maklum dia disegani dan dihormati di komunitas tersebut.

"Cobalah diam sejenak, lihat sekeliling kalian masing-masing. Apa yang telah kalian lakukan sekarang ini? Apa manfaatnya kalian berteriak-teriak sekeras-kerasnya, merdukah suara kalian dengan teriak kayak gitu? Hanya kegaduhan dan kekacauan yang kalian hailkan, tanpa adanya manfaat bagi kalian sendiri maupun lingkungan sekitar kalian. Kalian masing-masing telah diberikan anugrah masing-masing dengan kelebihan dan kekurangan masing. Lihatlah diriku, gantengkah diriku? Merdukah suaraku? Tidak kataku." kata Sang burung Hantu yang membuat burung-burung lainnya termenung

"Tapi aku bersyukur karena aku diberikan kelebihan diluar itu, kusyukuri saja dan kukembangkan saja kelebihanku. Cobalah kalian kalau ingin menciptakan ketentraman dan kedamaian, mulai belajar bernyanyi. Yang suaranya merdu berusaha mengimbangi yang suaranya tidak merdu, yang punya suara tidak merdu juga tidak usah takut untuk bersuara. Saling bagi tugas, saling mengisi satu dengan lainnya, pasti akan tercipta sebuah nyanyian yang penuh dengan keharmonian dan membawa kedamaian, ketenangan bagi yang menikmatinya." kata sang burung hantu. Kemudian diapun asyik memejamkan matanya, sementara burung-burung yang lain terdiam sesat, merenungkan dan meresapi serta mencoba untuk mempraktekkannya. Tanpa mengenal lelah mereka berlatih hingga akhirnya terciptalah sebuah nyanyian burung yang mampu membuat yang mendengarnya terpesona dan terhanyut dalam kedamaian dan ketenangan yang luar biasa.

Seringkali kitapun terjebak dalam suasana seperti itu, segala keegoan, KeAkuan, Kesombongan diri kita muncul. Merasa diri paling hebat, paling benar, paling berkuasa dan paling sebagainya. Merasa bahwa dialah Dewa Penyelamat yang selama ini dinantikan dan tidak ada yang lebih baik dari dirinya. Tak jarang terjebak intrik-intrik untuk saling menjatuhkan satu sama lain, agar kelihatan lebih hebat dari yang lainnya. Seakan-akan nilai-nilai budaya luhur negeri yang sudah ada sejak dulu seperti kerukunan (guyup rukun), kegotongroyongan, tepa seliro, masih banyak budaya luhur yang seakan terlupakan. Masing-masing juga seakan terjebak dengan upaya pemenuhan akan hak-hak mereka yang lebih dahulu diminta tanpa menyelesaikan kewajiban yang ada dipundaknya. Terjebak dalam budaya Meminta, Budaya KeEgoan, KeAkuan yang sangat kental.

Padahal jika direnungkan masing-masing telah dianugerahi dengan kelebihan dan kekurangan oleh Dia. Sebuah anugerah yang patut disyukuri dan dipergunakan dengan bijaksana. Jikalau masing-masing bisa menjalankan peran atau lakon yang selama ini dijalaninya dengan tetap memegang teguh nilai-nilai luhur, nilai spriritual, berusaha untuk memberikan yang terbaik dari dirinya bagi sesama, mengedepankan kewajiban dari haknya pasti akan tercipta kehidupan yang lebih baik. Yang diberi anugrah untuk berkuasa, berusaha untuk menjadi seorang gembala sejati yang terus memberikan Kasihnya bagi rakyatnya. Rakyatnya pun berusaha untuk tetap memberikan Kasihnya bagi Gembalanya. Niscaya tidak ada lagi yang merasa berkekurangan dan berkelebihan, tidak ada lagi yang merasa hebat dan lemah, tidak ada yang pintar dan bodoh, semuanya sama. Seperti komunitas burung, dengan selalu memberikan kasih, harapan dan terang bagi sesama pasti akan tercipta nyanyian kehidupan yang penuh dengan kedamaian dan ketentraman.





Rabu, 28 Oktober 2009

Kebahagiaan


Manusia mencari kebahagiaan ke mana-mana dan dengan segala cara, namun tidak pernah dapat menemukan kebahagiaan itu. Kebahagiaan tidak bisa ditemukan kalau dicari. Kebahagiaan adalah suatu keadaan batin yang tidak diganggu oleh gejolaknya nafsu. Selama nafsu masih bergejolak dalam batin, tidak mungkin manusia dapat berbahagia, karena dia akan terbentur dengan halangan-halangan dalam mengejar kesenangan seperti yang dikehendaki oleh nafsu. Dalam keadaan tidak berbahagia, bagaimana mungkin menemukan kebahagiaan? Kalau keadaan yang tidak berbahagia itu tidak ada lagi, manusia tidak lagi membutuhkan kebahagiaan. Kenapa? Karena dia sudah bahagia! Kebahagiaan itu sudah ada selalu dalam diri manusia sendiri, namun terselubung oleh bermacam persoalan dan kesukaran yang menjadi akibat dari menuruti nafsu diri. Seperti orang yang mencari kesehatan. Bagaimana mungkin akan dapat mengalami kesehatan kalau tubuhnya sedang sakit? Daripada mencari kesehatan yang tak mungkin dia temukan, lebih baik meneliti dirinya sendiri yang sakit, mengusahakan agar penyakit itu lenyap. Kalau dirinya sudah tidak dihinggapi penyakit lagi, apakah dia butuh mencari kesehatan? Tidak perlu lagi karena dia sudah sehat!

Manusia biasanya tidak dapat menikmati kesehatan kalau dia sehat. Baru merindukan kesehatan kalau dia sakit. Demikian pula manusia tidak dapat menikmati kebahagiaan kalau dia berbahagia. Baru merindukan kebahagiaan dikala dia sedang tidak berbahagia. Hidup itu sendiri adalah indah, hidup itu sendiri adalah bahagia. Mengapa repot-repot mencari kebahagiaan dengan segala cara?

Kalau kita renungkan secara mendalam, kita dapat bersama-sama menyelidiki tentang kebahagiaan itu. Kebahagiaan berada di atas susah dan senang. Bahkan diwaktu mendapatkan kesusahan, kita masih berbahagia. Bahagia tidak disentuh dan tidak diubah oleh susah senang yang hanya lewat seperti lewatnya segumpal awan diangkasa yang cepat lewat dan lenyap. Kebahagiaan tidak mungkin dapat ditemukan dengan jalan mencarinya. Kebahagiaan tidak dapat dicari. Makin didambakan dan dicari, makin menjauhlah dia.

Daripada bersusah payah mencari kebahagiaan, lebih baik orang meneliti ketidak-bahagiaan. Ketidak-bahagiaan ini dapat terasa oleh setiap orang. Merasa tidak berbahagia. Kita lalu meneliti dan mengamati diri sendiri, apa yang menyebabkan kita tidak bahagia? Kalau sebab adanya ketidak-bahagiaan ini sudah tidak ada lagi, kita tidak membutuhkan bahagia. Kenapa? Karena kita sudah berbahagia! Berarti bahwa kebahagiaan itu sudah ada dan selalu ada dalam diri kita. Seperti halnya kesehatan. Kesehatan itu sudah ada pada kita. Akan tetapi biasanya kita tidak merasakan adanya kesehatan ini, tidak dapat menikmati. Baru kalau kita jatuh sakit, kita mendambakan kesehatan. Demikian pula kebahagiaan. Selalu terutup oleh ulahnya nafsu, senang susah, sedih gembira, dan segala macam perasaan yang didorong oleh nafsu. Karena kita menjadi budak nafsu kita sendiri, maka kebahagiaan itu tertutup dan tidak pernah dapat dirasakan. Yang dapat dirasakan hanya kesenangan dan kesenangan inipun ulah nafsu. Nafsu mendorong kita agar selalu mengejar kesenangan. Orang yang tidak lagi menjadi budak nafsu, melainkan menjadi majikan nafsu, mungkin sekali akan dapat merasakan kebahagiaan itu. Nafsu tidak lagi menyeret kita ke dalam perbuatan yang hanya mengejar kesenangan sehingga untuk mencapai kesenangan, kita halalkan segala macam cara.

Nafsu merupakan peserta hidup yang amat penting dan berguna, kalau saja kita yang mengendalikannya. Akan tetapi kalau nafsu menguasai kita, maka malapetakalah yang akan menimpa diri kita. Tanpa nafsu kita tidak akan dapat hidup di dunia ini. Nafsu yang mendorong kita untuk hidup layak sebagai manusia. Akan tetapi dengan nafsu menjadi majikan, kita akan hidup sesat. Nafsu bagaikan api. Kalau kita dapat menguasainya, maka api itu amat berguna nagi kehidupan kita. Akan tetapi kalau terjadi sebaliknya, api yang mengamuk menguasai kita, api itu akan membakar segala yang ada!

Lalu bagaimana caranya untuk menguasai dan mengendalikan nafsu yang demikian kuatnya? Diri kita sudah menjadi gudang nafsu, maka akan sia-sialah kalau kita berusaha untuk menundukkannya. Pikiran itu sendiri yang ingin menguasai nafsu, sudah bergelimang dengan nafsu. Juga ilmu pengetahuan tidak dapat dipergunakan untuk menguasai nafsu. Lalu bagaimana? Satu-satunya jalan untuk menguasai nafsu hanya MENYERAH kepada KEKUASAAN TUHAN! Hanya Tuhanlah yang dapat menundukkan nafsu. Siapa lagi yang dapat menundukkan nafsu selain YANG MAHA PENCIPTA? Kalau kita menyerahkan diri dengan penuh keimanan, tawakal dan kepasrahan yang ikhlas, maka kekuasaan Tuhan akan bekerja dalam diri kita!

(Dari Cersil Pendekar Kelana by Kho Ping Hoo)



Selasa, 27 Oktober 2009

Perlukah berubah dan bagaimana menyingkapi perubahan?



Disuatu tempat dan disuatu masa terdapat sekelompok lebah dengan dipimpin seekor ratu lebah yang cantik dalam keadaan yang aman tenteram, serba berkecukupan dan berada dalam lingkungan alam yang begitu bersahabat dengan mereka. Ada yang menarik dalam komunitas tersebut dimana mereka hanya mencari nectar dari satu jenis bunga pohon tertentu saja, padahal dilingkungan tersebut dipenuhi oleh beraneka ragam tanaman dan beraneka ragam bunga namun mereka tidak mau mengambilnya, tetap saja mereka menghisap nectar dari jenis tertentu tersebut. Mereka beraggapan bahwa nectar dari pohon tersebut adalah yang terbaik, nomor satu, tanpa pernah sekalipun berusaha untuk mempelajari dan merasakan jenis lainnya. Seringkali pohon tersebut mereka anggap sebagai dewa penyelamat bagi mereka dan mereka keramatkan . Turun temurun kejadian tersebut berlangsung, tidak ada yang berubah, semuanya berada dalam kondisi yang membuat mereka terlena , dinina bobokan oleh keadaan, hingga mereka tidak sadar akan kelebihan alam yang sama sekali belum mereka olah untuk kesejahteraan mereka. Hingga akhirnya karena suatu bencana alam semua diporak porandakan, pohon yang selama ini mereka dewa-dewakan musnah sudah. Mereka yang selama ini terlena oleh keadaan menjadi kebingungan, menjadi serba salah, saling menyalahkan satu dengan lainnya. Mereka tidak siap menghadapi perubahan keadaan yang ada, sibuk meratapi nasib yang mereka alami.

Tidak jauh dari komunitas tersebut terdapat juga komunitas lebah yang dipimpin seekor ratu lebah yang cacat secara fisik, namun sang ratu dengan bijaknya memimpin warganya. Walaupun daerah dimana mereka berada tidak kaya pohon maupun bunga yang bisa dihisap nectarnya, namun warganya disadarkan untuk menerima kekayaan alam yang ada dengan penuh syukur, dinikmati, dan diolah sebaik mungkin sambil terus menemukan sumber daya alam baru atau menemukan cara-cara inovasi terbaru. Tatkala merekapun menerima bencana alam maka mereka lebih siap menghadapinya, dengan cepatnya mereka bangun. Tegak berdiri kembali, dengan sisa-sisa tenaga dan sumber daya yang ada. Seolah-olah tidak ada kejadian yang menimpa mereka, hadapi saat ini dan masa depan dengan penuh semangat.

Seringkali dalam hidup kita menghadapi berbagai perubahan yang ada. Baik perubahan diri pribadi sendiri maupun lingkungan sekitar kita. Tidak ada yang tetap. Seringkali kita juga terjebak dalam kondisi kemapapan yang kita alami, terlena, sehingga tidak siap untuk menerima perubahan yang ada. Dalam bukunya Managing Change at Work, Scott & Jaffe menjelaskan tahapan respon terhadap perubahan yang dialami oleh individu, sebagai berikut:
Menyangkal/Denial 
Pada tahap ini, individu berusaha menyangkal atau menolak informasi, dengan cara melindungi diri dengan bersikap acuh, meremehkan, meminimalisir dampak perubahan terhadap diri kita sendiri, seakan-akan perubahan ini hanya bersifat sementara. Penyangkalan ini merupakan suatu reaksi terhadap kondisi-kondisi eksternal lingkungan yang berubah. 
Bertahan/Resistance 
Tahap berikutnya adalah bertahan untuk tidak berubah. Kondisi ini muncul sebagai suatu reaksi yang datang dari dalam/internal individu itu sendiri (perasaan). Biasanya muncul dalam bentuk anakronisme (kebiasaan masa lalu), menyalahkan orang lain atau berpura-pura seakan perubahan itu tidak terjadi.
Mencari Tahu/Exploration
Tahap ini merupakan awal dari suatu tahap penyesuaian diri. Pada tahap ini individu mulai menyadari bahwa perubahan tidak dapat dihindari dan mulai mencari tahu atau melakukan eksplorasi tentang kemungkinan-kemungkinan atau cara-cara baru dalam melakukan sesuatu.
Komitmen/Commitment
Individu pada tahap ini sudah berhasil menyesuaikan dirinya terhadap perubahan yang terjadi dan berkomitmen mendukung perubahan itu sendiri. Individu tersebut memiliki fokus perhatian pada bagaimana caranya membuat sistem tetap berjalan dan meningkatkan cara kerja sistem itu. Pada tahap ini individu terus mencari kesempatan dan peluang untuk berkembang dan beradaptasi lebih jauh lagi.

Cerita lebah diatas dan teori diatas sebagai gambaran akan pribadi kita masing-masing dalam menghadapi perubahan yang selalu ada di depan mata dan di diri kita. Ditahapan mana kita dalam menyingkapi perubahan? Perlukah berubah dan bagaimana menyingkapi perubahan ? Hanya diri kita masing-masing. yang mengetahui. Selalu eling dan waspada mungkin ini sikap yang seringkali kita dengar. Semoga kita semua bisa menerima dan menghadapi perubahan dengan lebih bijak, lebih dewasa, kita terima semuanya dalam porsi yang sama. Selama kita masih bisa bernapas tidak akan pernah kita lewatkan perubahan yang ada. 













Jumat, 09 Oktober 2009

Praktis dan Instan


Belajar tidak mengenal waktu dan usia. Dahulu dan sekarang mungkin mata pelajaran yang seringkali menjadi momok bagi siswa antara lain pelajaran fisika,kimia atau matematika. Mungkin ada juga mata pelajaran lainnya tergantung respon siswa dalam mempelajari mata pelajaran tersebut. cara pandang berubah ternyata dengan memahami rumus-rumus yang kelihatannya sulit tersebut akan memudahkan dalam menyelesaikan soal-soal yang ada,sehingga walaupun soalnya diganti dan menjadi kelihatan lebih sulit namun karena sudah memahaminya tetap saja tidak menemukan kesulitan dalam mengerjakannya. Kemudian untuk mempercepat penyelesaian soal-soal kemudian dibuatlah meteode penyelesaian seperti penggunaan rumus-rumus praktis yang akan mempercepat penyelesaian soal yang kelihatan rumit. Yang menjadi persoalan berikutnya apakah dengan rumus praktis tersebut mampu menghapus kesan momok pada pelajaran tersebut? Kurasa tidak. Rumus praktis memang akan mampu mempercepat penyelesaian soal namun apabila tidak memahami rumus dasarnya akan terjebak dalam proses penghafalan rumus. Kunci sebenarnya adalah dengan memahami konsep dari rumus dasar sehingga dengan memahami maka sebenarnya dapat diturunkan rumus-rumus praktis yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan

Begitu juga dengan mie instan, memang sekarang sudah menjadi trend hidup. Apabila merasa lapar maka bagi sebagian orang akan berusaha mencari atau membuat mie instan. Seorang ibu mungkin begitu juga apabila tidak ada lauk atau sayuran di rumah akan dengan mudahnya membuat mie instan. Akan menjadi hal yang aneh apabila dihadapkan pada sebungkus mie telur berikut bumbu-bumbu yang harus dimasak, belum tentu semua orang bisa mengolah dan memasaknya menjadi masakan yang mungkin rasanya bisa melebihi dari mie instan. Berbagai alasan mungkin muncul apabila dihadapkan pada kejadian seperti ini dari mulai tidak bisa memasak, ribet dan mungkin bisa lari ke masalah gender. Padahal sebenarnya banyak yang bisa dipelajari dari proses membuat mie dari bagaimana memilih jenis mie, bumbu, seberapa lama merebus mie dan sebagainya. Belajar untuk memahami proses tersebut, sehingga semakin paham akan bisa menciptakan inovasi masakan-masakan baru dengan bahan dasar mie yang beraneka ragam.

Dari rumus praktis dan mie instan, terdapat dua kata "Praktis" dan "Instan". Dalam hiduppun mungkin kita seringkali terjebak hal-hal praktis dan instan. Bahkan bagi sebagian orang mungkin ada yang berusaha mencari cara-cara praktis dan instan agar memperoleh keuntungan yang secepatnya, proses-proses alami mungkin dikorbankan tanpa memikirkan efek sampingnya semisal pemakaian pupuk kimia yang berlebihan. Orang pun mungkin ada yang berusaha mencari kesuksesan dan harta dengan cara-cara praktis dan instan namun tidak mau berusaha dan malas untuk mengeksplorasi dirinya, hingga yang diperolehnya hanyalah kenikmatan sesaat dan begitu dia jatuh tidak mampu untuk bangun kembali. Dalam menyelesaikan masalah terkadang karena hanya memikirkan solusi praktis dan instan tanpa berusaha menyentuh akar permasalahan yang ada hingga memahami dan dihasilkan solusi yang benar-benar menyelesaikan masalah. Dalam berkomunikasipun terkadang karena praktis dan instan seseorang terjebak menggunakan sms, email dsb untuk menyelesaikan masalah yang ada tanpa melihat seberapa jauh efek dari sms atau email yang dia kirim. Masih banyak kasus-kasus sehari-hari dimana kalau kita tidak bijak dan memahami benar-benar akan segala sesuatunya maka cara praktis dan instan akan menjadi bumerang bagi diri sendiri dan orang lain. Diperlukan permenungan masing-masing hingga akhirnya bisa menyadari apakah menggunakan cara-cara praktis dan instan? Sudah tepatkan cara tersebut digunakan dengan bijak? Ataukan terus digunakan sebagai pembenaran sesat? Tinggal masing-masing mencari jawabannya, sayapun masih terus mencarinya.