Tampilkan postingan dengan label Sekedar perenungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekedar perenungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Maret 2010

Bapak mung sak dermo sopir le

Di bale kambang halaman sebuah rumah, seorang bapak dan istrinya sedang duduk ditemani ketiga anaknya yang sudah mulai beranjak remaja. Bersama mereka menikmati teh poci dengan tempe mendoan yang dibuat oleh sang istri. Penuh canda tawa, kebersamaan hadir di situ, sebuah potret keluarga yang mungkin jarang ditemukan setiap hari.

"Ngger ketiga anak-anakku, bapak akan sedikit bercerita. Sebuah cerita perjalanan yang dahulu menjadi bahan obrolan saat bapak berkumpul dengan teman-teman bapak sesama sopir angkutan. Barangkali bisa menjadi bekal kalian dalam menapaki perjalanan yang akan kalian lakukan" kata sang bapak kemudian diapun berhenti sejenak meminum teh poci yang diberi gula batu dan diberi perasan jeruk nipis.

"Dahulu teman-teman pernah berkeluh kesah sperti ini le, Sopir kuwi opo to? Apa yang bisa di banggakan dari seorang Sopir, Kenapa harus menjadi seorang sopir?. Masih banyak yang lainnya, keputusasan dan pembenaran sesaat muncul akan Nasib yang seolah-olah menjadi pihak yang paling dipersalahkan. Hingga waktu itu bapak hanya bisa berkata "Dahulu ketika waktu belum bisa belajar menyetir, pertama kali belajar ada pelajaran teori mengenai mobil atau motor yang akan dikendarai. Seperti apa itu kaca spion, kenapa ada kanan dan kiri, gunanya spion itu apa hingga menghitung jarak yang sebenarnya dari bayangan yang muncul di spion. Apa itu kopling, gigi, klakson pokoknya yang melekat di mobil atau motor diterangkan kegunaan atau fungsinya dan bagaimana sebaiknya digunakan. Hingga akhirnya setelah mengetahui fungsinya dan bagaimana caranya berfungsi diajarkan belajar mengendarainya. Seperti saat kita lahir, diajarkan yang mana yang disebut mata, hidung, mulut, telinga, kaki, tangan, rambut dan semuanya yang melekat di raga ini. Segenap indra yang ada di diri ini telah diajarkan letak dan fungsinya. Diajarkan juga fungsinya dan cara kerjanya semuanya itu, termasuk organ dalam yang dimiliki. Seiring dengan bertambahnya usia, pengetahuan yang dimiliki, seharusnya semakin lama semakin mengerti dan menerima raga ini sepenuhnya . Kelebihan dan kekurangan yang akan selalu melekat di diri ini. Semakin disadari betapa semuanya itu dipengaruhi dari pikiran serta proses berfikir itu sendiri."

"Tatkala menjadi sopir antar jemput anak-anak sekolah, kujalani pekerjaan itu. Kunikmati dan ternyata banyak yang kudapatkan disitu. Betapa nikmatnya memperhatikan tingkah polah , tegur sapa, canda tawa yang selalu hadir. Kepolosan, kejujuran, kebersamaan muncul diantara mereka. Terkadang memang ada yang berantem, bertikai  namun dengan cepatnya mereka memaafkan satu sama lain, kemudian bermain kembali, seolah-olah tidak ada yang terjadi di hari kemarin. Dengan tekunnya mereka belajar , saling memberi satu dengan yang lainnya. Terus mereka tumbuh bersama dengan beraneka perbedaan yang sebenarnya melekat di diri masing-masing, namun semuanya hilang dalam kebersamaan. Bersama mereka jalani perjalanan yang ada dengan penuh tawa riang "

"Takkala diriku menjadi sopir angkutan umum, kujalani pula pekerjaan itu. Kunikmati akan nikmat yang kuterima, sungguh sebuah karuniaNya yang selalu hadir setiap kali kujalani sebagian hidupku di jalanan. Dengan mengemudikan angkutan umum dengan mengangkut beraneka ragam penumpang dengan berbagai lapisan umur, adat, suku atau semuanya yang berbeda menjadikan diriku harus belajar lebih lagi. Mengamati segala perbedaan yang ada, melayani semuanya hingga akhirnya mereka bisa menikmati perjalanan yang ada. Sebuah perjalanan yang penuh dengan belokan, naik turun, terkadang harus melewati jalan berlobang sehingga harus menginjak rem. Terkadang harus kuinjak gas kuat-kuat karena kalau tidak maka kendaraan tidak akan kuat menaiki bukit yang terjal. Terkadang harus kubunyikan klakson atau kunyalakan lampu sign untuk memberi tanda disekitar agar tidak terjadi kecelakaan. Membuat semua penumpang dapat menikmati perjalanan yang ditempuhnya, bisa merasakan sungguh-sungguh nikmatnya perjalanan yang penuh liku. Begitu juga dengan diri ini yang tetap terus melangkah, terkadang harus terjatuh, terperosok, merasakan sakit dan segala yang selama ini dianggap kesusahan. Terkadang merasakan senang, bahagia, berhasil yang kalau tidak dicermati hati-hati bisa menjadi penyakit bagi diri ini. Terkadang harus memperhatikan tanda-tanda sekitar ataupun alam sekitar hingga diri ini selalu waspada terhadap segala perubahan yang muncul. Melihat semua yang ada sebagai satu kesatuan, tidak lebih dan tidak kurang. Tidak larut dalam keadaan, dan selalu ingat bahwa semuanya itu sebagai bagian dari laku."

"Masih banyak yang dapat digali dari pengalaman bapak wakatu menjadi sopir mungkin lain bapak ceritakan. Sekarang bapak hanya bisa menjadi sopir raga ini hingga saatnya nanti Gusti nimbali, bersama dengan ibumu kami berdua sekarang berusaha menjadi sopir, teman seperjalanan kalian , mengantar kalian hingga menemukan apa yang seharusnya kalian cari. Menemukan kesadaran, kedamaian , kebahagian sejati dan selanjutnya berusaha melepaskan semuanya." kata sang bapak mengakhiri pembicaraannya.

Selanjutnya merekapun melanjutkan santapan berupa makanan yang sudah disiapkan oleh sang ibu.

Dedicated to my son......Dewa, Arjun and Sophie




Senin, 08 Februari 2010

Sak Dermo Kanca Wingking

Termenung Satrio dipinggiran Air Terjun Sekarlangit. Dibiarkannya butir-butir air menyelemuti dirinya, lama dirinya larut dalam suasana alam sekitar. Segala debu yang melekat di dirinya dibersihkan olehnya. Masih terasa hangat pelukan Mbok Wongso saat dirinya datang kerumah Simbok di lereng bukit Telomoyo, kehangatan seorang pengasuh yang selalu memberikan kasihnya. Terbayang senyum dibalik keriput wajahnya yang semakin termakan usia. Masih terngiang-ngiang di telinganya kata-kata simbok saat dia duduk bersamanya di lantai gubug beralaskan tikar pandan dengan minuman wedhang uwoh dan jadhah goreng buatannya.

"Le, Terkadang dalam perjalananmu menapaki hidup ini, pasti kamu merasakan kebosanan, kepenatan, merasakan beban berat harus kaupikul. Hingga akhirnya apabila tidak disadari maka semakin menambah berat dalam melangkah, membuat berhenti dan berpaling. Lari dari kenyataan itu bisa saja dilakukan, namun itu hanya menjadi pembenaran sesaat , sebuah pembiasan tanpa pernah menghilangkan sebab utama. Menyadari segala sesuatunya sebagai akibat dari diri yang terlalu memikirkan, berfikir hingga timbulnya rasa , penderitaan sebagai bagian dari hidup itu sendiri . Seperti saat kamu melakukan perjalanan jauh ke tempat Simbok, bukankah kalau dipikir teramat berat, teramat jauh dan melelahkan. Namun ternyata kamu bisa melakukan semua itu, bisa menikmati perjalanan yang harus kautempuh dimana kamu bisa menyatu dengan alam sekitar, merasakan dan menerima semuanya sebagai satu kesatuan. Ketika kamu merasa tersenyum itu menjadi beban, maka terasa berat untuk melakukan senyum yang mungkin bagi orang lain sesuatu yang mudah. Bahkan mungkin sehelai benang atau bernafaspun akan terasa berat kalau kamu pikir begitu juga. Lepaskan dirimu, bebaskan pikiran dengan menyadari dari mana asalnya semua itu."

"Ngger Satrio anakku, lihatlah pohon cemara itu. Ketika dia masih kecil, masih pendek batangnya, dia hanya bisa mengamati keadaan sekitarnya sebatas kemampuan dia memandang. Ketika dia tumbuh tinggi seperti sekarang, maka dia akan mampu memandang lebih luas lagi. Tentu saja semakin tinggi dia, semakin banyak angin besar yang siap merubuhkan dirinya. Begitu pula dengan dirimu mungkin dahulu kecil kamu tidak tahu, kemudian belajar untuk mendapat pengetahuan yang lebih. Tentu saja dengan semakin banyak belajar semakin banyak pengetahuan yang kamu dapat dan semakin banyak pertanyaan-pertanyaan yang semakin menunjukkan bahwa kamu menjadi tidak tahu. Kembali ke dirimu sendiri apakah kamu ingin seperti pohon cemara waktu kecil, atau akan terus tumbuh mengikuti pertanyaan-pertanyaan yang terus menunjukkan ketidaktahuanmu. Akankah dirimu terkungkung dalam cangkangmu ataukah melepaskan cangkangmu semua kembali kepada dirimu sendiri."

"Ketika dirimu mencintai sesorang, dan mencoba berpasangan dengan seseorang, seringkali kamu menginginkan pasanganmu mengerti dirimu, menginginkan dirinya seperti apa yang kamu inginkan. Keinginan untuk mengubah, membentuk orang lain seperti yang kamu inginkan menjadikan dirimu tidak dapat menerima, menikmati segenap perbedaan menjadi keindahan. Keinginan untuk meminta dari pasangan atau orang lain membuatmu melupakan keindahan untuk memberi, berbagi bagi sesama. Melupakan keindahan keterbukaan, ketelanjangan, kesetiaan, kejururan, tegur sapa yang  seharusnya terjalin indah. Kamu mungkin masih mempermasalahkan keperawanan dan kesucian pasanganmu, orang lain. Namun tidak menyadari betapa dirimu penuh debu-debu kekotoran yang mungkin lebih banyak dari yang lain.  Terkadang kamu terhadang tembok perbedaan yang begitu kuat, namun kalau kamu siap menerima perbedaan , kuatkan dirimu dan pasanganmu karena prahara siap meluluhlantakkan pondasi yang kalian bangun. Semakin kalian nikmati perbedaan yang ada akan semakin merasakan keindahan perbedaan itu sendiri. Simbok sendiri hanya sekedar konco wingking buat pakne, dimana simbok hanya menjadi teman seperjalanan, terkadang harus dibelakang terkadang ada didepan, terkadang harus digendong, terkadang harus menggendong, terkadang kami berdua harus melelanjangi diri kami masing-masing hingga segala panu-panu yang melekat di diri dan pikiran kami tidak ada lagi yang ditutup-tutupi. Terkadang kami berdua harus meleburkan diri  agar  tiada lagi aku atau dia. Berdua kami bermain, belajar, bertengkar, bercengkrama, tertawa, menangis, menyelami kehidupan hingga akhirnya dia mendahului menghadap Hyang Tunggal. Simbok tinggal menunggu kereta yang akan mengantar untuk melakukan perjalanan kembali KepadaNya."





Senin, 25 Januari 2010

If

Sesosok makhluk terdiam, teronggok di tengah lapangan. Membisu seperti arca, namun ternyata mengusik alam sekitar. Kemapanan, kenyamanan,  ketentraman yang selama ini tercipta seolah-olah terganggu oleh sesosok yang muncul dihadapan mereka. Rasa ingin tahu yang ada di dalam masing-masing makhluk begitu besar, mengusik dan mendorong keinginan. Semakin lama dipendam rasa itu, semakin merasuk kedalam pikiran hingga timbulah perbuatan.

Masih terdiam sosok itu, hingga timbul rangsangan atas perbuatan makhluk disekitarnya. Karena dianggap sebagai gangguan maka timbulah penyerangan  ke sosok itu yang dibalas dengan penyerangan yang lebih kuat. Semakin besar daya serang yang diberikan, semakin besar pula serangan balik yang diberikan. Bahkan sesorang yang selama ini mereka anggap sebagai Dewa Penolong tidak sanggup juga untuk mengatasi sosok misterius itu. Kekacauan dan kehancuran ditimbulkan akibat serangan saling balas. Tiada lagi yang tersisa hanya berbekal rasa ingin .

Di saat suasana demikian mencekam, seorang anak kecil yang sedang berputus asa karena kehilangan penglihatannya hanya bisa menangisi nasib yang menimpanya. Rasa  kecewa, marah atas keadaannya. Diapun melangkah mendekati sumber kehancuran tempat sosok itu berada. Dikeluarkannya seruling dan diapun meniup seruling itu dengan perasaan kesedihan yang mendalam. Begitu hening hanya suara seruling yang menyayat.   Sebuah keajaiban tercipta, sosok misterius itupun terbangun dari tidurnya mendengar suara seruling itu. Timbul aksi balasan atas suara seruling yang ditangkapnya, seketika ditubuhnya keluar banyak seruling yang mampu  mengeluarkan nada. Semakin lama anak itu meniup seruling, makin banyak bagian sosok itu tumbuh aneka peralatan musik sehingga mengeluarkan simfoni musik yang merdu. Hilang sudah bagian tubuh sosok itu yang tadinya ditumbuhi peralatan akibat kekerasan yang diterimanya, menjadi sesosok dewi yang sedang memainkan musik di tubuhnya sebagai efek musik yang diterima. Kelembutan yang diterimanya direspon dengan kelembutan yang dipancarkan seribu kali lebih besar dari yang diterima.

Seringkali disaat kita bertemu atau menemukan sesuatu, timbul sesuatu yang hadir di pikiran menanggapi obyek yang ada. Pertanyaan seperti apakah itu ? siapa dia ? mengapa dia ada disini?  hingga  Tak nyaman diriku dengan adanya dia atau itu disini? Aku merasa terganggu dengan kehadirannya, sebaiknya dia pergi dari sini. Begitu banyak pertanyaan dan pemikiran yang ditimbulkan karena adanya suatu sosok yang mungkin asing bagi kita yang seringkali mempengaruhi cara pandang dan mengambil sikap yang seharusnya. Padahal mungkin kalau kita bisa membaca pikiran sosok itupun mungkin pertanyan seperti yang kita pikirkan juga bisa saja muncul di dirinya, mengapa dirinya menganggap aku seperti penggganggunya? mengapa sepertinya aku harus pergi , bukankah aku ada dengan tujuan baik mengapa justru aku dijauhi, haruskah kubalas kejahatan dan kedengkian yang kuterima dengan kejahatan yang lebih lagi. Kenapa dia, kenapa?

Tidak bisakah obyek yang ada dilihat hanya sekedar dilihat? Tidak bisakah diamati saja tanpa harus memberikan penilaian baik atau buruk, jahat atau tidak yang akan mempengaruhi sikap kita? Tidak bisakah semuanya itu dinikmati saja, dan membiarkan saja semuanya berlalu? Tidak bisakah kata-kata "if" dihilangkan sehingga begitu sesuatu hadir dihadapan kita tiada lagi pembenaran sesaat yang akan mempengaruhi kita dalam memandang, menikmati dan merasakan hingga akhirnya melepaskan semuanya.

Semoga semua makhluk berbahagia.


Adaptasi dari Ultraman Max - "If"





Selasa, 19 Januari 2010

Saya hanya belajar melukis

Disebuah kelas sedang berkumpul sejumlah orang yang sedang belajar melukis pada seseorang yang mereka anggap sebagai ahlinya dalam bidang melukis. Dari anak-anak sampai usia cukup dewasa ada disitu. Hari itu merupakan hari pertama mereka mengikuti pelajaran melukis. Tidak lama masuk ke dalam ruangan itu seorang kakek yang sudah memutih rambut dan janggutnya, sambil dibantu tongkat dia memasuki ruangan. Hari itu tanpa banyak penjelasan dibagikan masing-masing peserta peralatan  melukis kemudian Sang Guru meninggalkan ruangan tersebut. Hari kedua dan berikutnya sampai dengan hari ketujuh masih seperti itu yang dilakukan oleh Sang Guru.
Di hari ketujuh, sebelum peserta meninggalkan ruangan Sang Guru berdiri di depan semua peserta, ditatapnya satu per satu wajah-wajah peserta dan diberikan senyumnya sebagai penawar bagi semua peserta. Kemudian ditunjuknya salah satu peserta, Bagong namanya untuk maju kedepan.

"Nak Mas Bagong, coba ceritakan kepada teman-teman belajarmu apa yang kau dapatkan selama tujuh hari mengikuti pelajaran melukis ini." kata Sang Guru

Tentu saja Bagong agak terkejut mendengar kata-kata Sang Guru, dikuatkan dirinya untuk berbicara dan kemudian diapun berkata, "Maafkan saya Guru, saya datang ke tempat ini berbekal ketidak tahuan saya untuk melukis dan keinginan untuk belajar. Hari pertama saya masih bingung apa yang harus saya lukis, hanya saya perhatikan peralatan yang saya punyai. Saya lihat teman-teman ada yang suadah asyik melukis, betapa pandainya mereka bisa melukis dengan baik. Saya perhatikan saja, sambil saya bandingkan ternyata dibandingkan peralatan teman-teman, peralatan saya paling jelek. Saya hanya diam , sambil saya goreskan kuas ke kanvas tanpa arah yang jelas. Hari kedua sudah mulai ada gambaran apa yang harus saya lukis, namun kembali lagi ada perbedaan peralatan yang saya terima. Hari kedua sampai dengan ketiga masih seperti itu yang saya alami, selalu ada yang kurang entah itu kuasnya patah, catnya sudah keras, kanvasnya berjamur dan seterusnya. Hingga akhir saya hanya bisa diam, ingin rasanya saya keluar ruangan dan tidak kembali lagi kesini untuk belajar melukis. Namun seperti ada yang membisikkan dan membuat saya tersadar, bukankan saya kesini berawal dari ketidaktahuan dan keinginan untuk belajar. Mengapa saya sekarang harus lari? Mengapa saya harus merasa iri dengan teman sekitar? Mengapa saya selalu ingin yang lebih dari yang saya miliki? Bukankankah ketika kuas saya patah, saya masih memilki jari-jari, siku dan bahkan badan saya ini untuk melukis? Bukankah ketika kanvas saya jelek bukan suatu alasan saya untuk berhenti belajar melukis? Bukankah ini semua sebagai sebuah proses, hingga saya menyadari semua peralatan itu sebagai sebuah sarana untuk berproses? Bukahkah teman-teman juga berproses seperti itu juga? Kenapa sekarang saya harus berhenti, bukahkah sebaik atau sejelek apapun yang saya lukis itulah lukisanku? Haruskah diriku hanya sekedar penikmat dan pencontek lukisan temanku tanpa pernah berproses kedalamnya? Begitu kiranya Guru pelajaran yang saya dapatkan sepanjang hari pertama sampai saat ini. Saya tetap akan belajar melukis dengan media apun, trima kasih Guru atas pelajaran yang diberikan. Kiranya saya tetap saja tidak tahu tentang cara melukis." kata Bagong

Sang Guru hanya tersenyum  sambil mengelus-elus janggutnya, "Kiranya Nak Mas Bagong justru sudah bisa melukis dengan baik. Teruslah berproses, bukan hasil lukisan yang utama namun proses itu sendiri yang utama. Seperti  diri kalian yang selama ini kalian lukis dan batin yang tiada hentinya kalian lukis.Teruslah melukis, mewarnai alam ini sebagaimana kalian melukis. Hingga terwujud lukisan alam semesta yang beraneka warna."

Salam

Rabu, 30 Desember 2009

Sebuah Obor Kehidupan

Disuatu dusun dikaki sebuah gunung sedang diadakan Misa Natal, banyak sekali yang datang mengikuti misa yang waktu itu menggunakan adat jawa. Semua larut dan hanyut dalam misa tersebut sampai akhirnya merekapun pulang ke rumah masing-masing. Selesai misa serombongan yang terdiri dari bapak, ibu dan kedua anaknya meninggalkan misa tersebut dan kembali ke rumahnya. Perjalanan kembali yang melelahkan, maklum rumahnya berada di atas bukit. Terlihat wajah-wajah keceriaan di keluarga tersebut, seakan menikmati perjalanan yang ada. Senda gurau serta ucapan kata-kata diantara mereka sepanjang perjalanan.
"Pak, gelap dan licin ya jalan yang ada. Coba banyak lampu seperti di misa tadi pasti lebih enak." kata anaknya yang besar.
"Ya beginilah le, namanya juga jalan desa habis hujan lagi. Makanya hati-hati jalannya jangan sampai jatuh ya. Oya kita istirahat bentar ya bune, sambil ngobrol-ngobrol. Kasihan anak-anak."kata sang bapak. Dan merekapun beristirahat di sebuah gubuk di tepi jalan.
"Coba le kedua anakku, perhatikan dan rasakan apabila obor ini bapak matikan." katanya sambil mematikan obor sehingga suasana menjadi gelap gulita, karena tiada cahaya satupun bahkan bintang-bintang dilangit seolah malu dan enggan memancarkan sinarnya. Setelah beberapa lamanya, maka dinyalakannya kembali obor tersebut.
"Ndak enak pak, gelap jadi ndak bisa ngapa-ngapain.Takut ."kata anak yang terkecil
"Bener pak, ntar kalau ada ular atau orang jahat jadi ndak tahu pak." kata anak yang besar.

Sang bapak dan ibu tersenyum-senyum mendengar ucapan buah hatinya, kemudian sang bapak menanggapinya,"Benar ngger anakku berdua, memang tidak enak berada dalam kegelapan. Namun coba pahami lagi betapa disaat gelap diri kalian akan lebih hati-hati , kalian gunakan pendengaran dan perasaan kalian untuk mengamati keadaan sekitar karena indera penglihatan kalian tidak  bisa digunakan dengan sempurna. Lebih waspada akan bahaya yang datang. Di saat berada dalam kegelapan seakan kalian membuat benteng yang kuat untuk menghadapi segala gangguan yang mungkin datang. Sebaliknya di saat obor bapak nyalakan, tentu kalian akan lebih bisa melihat dan mengamati keadaan sekitar dengan baik. Segenap indra yang kalian gunakan tentu bisa kalian gunakan, bahkan tidak jarang kalian manjakan hingga terlena. Tidak jarang segenap indramu terbuai kenikmatan yang ada, hingga terjebak dalam keinginan , keakuan yang makin lama merasuki dirimu. Padahal kegelapan dan terang sebenarnya sama saja, seharusnya kalian tetap dalam kewaspadaan yang sama, dengan benteng yang sama kuat pula.Tidak seharusnya semua itu menjadi alasan pembenaran sesat."

"Seperti obor ini , dia akan terus menyala selama ada minyak, sumbu, dan ada yang menyalakan. Dia selalu menyala, hingga akhirnya ada yang mematikan dan minyak serta sumbunya habis. Dalam diri kalian juga ada obor yang akan selalu menyala menerangi perjalanan kalian. Di saat dalam kegelapan sebenarnya obor kalian akan senantiasa menerangi kalian agar selalu terjaga, dan  syukur kalau bisa menerangi sesama kalian.  Obor kehidupan yang diberikan DIA .Disaat kalian dalam terangnya hidup  sebenarnya cahaya obor senantiasa menerangi pula, namun seringkali justru disaat itulah biasanya kalian terlena karena sudah menemukan dan menikmati terang dari sekitar kalian dan meniadakan obor yang terus menyala ,  terlalu asyik menikmati cahaya obor penerang sekitar dan melupakan obor didirinya hingga mungkin nyala obor itu akan semakin mengecil kalau kalian tidak menyadarinya dan mengisinya kembali. Seharusnya di dalam terang terus kau jaga nyala obormu, teruslah kau jaga nyalanya jangan sampai padam, saling memberi terang, tidak disilaukan oleh cahaya-cahaya obor disekitarmu. Bukankah lebih indah anakku." kata sang bapak.

"Ibu hanya sedikit menambahkan anakku, seperti kata bapakmu. Dengan kalian sadari, rasakan, jaga  obor  hidup dari DIA yang ada didalam diri kalian mudah-mudahan kalian bisa melalui perjalanan terang dan gelapnya jalan dengan porsi yang sama, menerima segalanya dengan apa adanya, slalu kalian syukuri yang kalian terima. Nikmati hidup kalian dengan selalu waspada dan ingat sama DIA sing gawe urip." kata sang ibu.

Setelah segala penat hilang, merekapun meneruskan berjalan, diterangi obor yang mereka pegang. Tanjakkan, tikungan, turunan dilalui dengan  penuh rasa syukur, tiada beban seakan alam semesta menyatu dengan mereka untuk melangkah. Memberikan nyala-nyala obor untuk kehidupan ini.


Sebuah catatan kisah keluarga, yang berfikir dengan cara-cara sederhana, pola-pola sederhana. Mencoba menggali hidup dalam kederhanaan. Sekedar menjalani hidup untuk merangkai kisah hidup di dalam sebuah rumah. Rumah kita yang sebenarnya....Salam Cahaya

Kamis, 17 Desember 2009

Celoteh Sang Kakek

Di sebuah gubuk di tengah areal persawahan tampak seorang kakek yang sedang berisitirahat ditemani seorang cucu laki-laki yang selalu menyusul ke sawah sehabis pulang sekolah. Diusianya yang masih muda 8 tahun, dirinya telah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Setiap hari dirinya  hanya bersama kakek dan neneknya. Terkadang dirinya  selalu bertanya kenapa  sang ayah dan ibunya meninggalkan dirinya seorang diri. Sang kakek dan nenek hanya mampu menahan nafas sambil sesekali diberikan jawaban yang mungkin mampu membuat sang cucu lebih tegar.

Seperti pada saat tengah hari itu, terjadi perbincangan antara sang kakek dan cucunya yang sepertinya sedang membicarakan sesuatu.
"Kek, kenapa aku harus ada dan kenapa aku harus sendirian ?" tanya sang cucu kepada kakeknya

Sang kakek hanya bisa tersenyum, sambil menahan nafasnya dia menjawab pertanyaan cucunya, "Cucuku kenapa kamu menanyakan lagi hal itu? Ngger cucuku, satu hal yang pasti kamu ada karena kamu harus ada, ingat cu kamu tidak sendirian . Ada kakek ada nenek, ada teman-temanmu juga tho le. Coba lihat sekelilingmu cu, indah bukan? Coba cermati alam sekitar, kehidupan yang ada di alam sekitar. Mereka juga temanmu, mereka saudara-saudaramu yang senantiasa menemani dan menyertai dirimu." kata sang kakek sambil menghirup rokok klembak menyan yang dilintingnya sambil tersenyum ke arah cucunya.

"Coba lihat tanaman kacang panjang itu cu, perhatikan dengan sesama betapa tanaman itu tumbuh dengan sulurnya yang mengikuti bambu bergerak keatas seakan-akan bergerak menuju Gusti yang selalu menyinari dirinya. Coba lihat  gemercik air itu , air yang selalu bergerak secara alami mencari tempat yang lebih rendah. Kalaupun dia bergerak ke atas pasti ada tekanan yang menyebabkannya keatas. Dirimu juga seperti aliran air yang terus mengalir, namun jangan terlena dengan aliran air hingga engkau dapat terhanyut dan tenggelam didalamnya. Lihat burung pipit itu le, betapa mereka memakan bulir-bulir padi secukupnya saja. Seperti juga doa yang biasa kamu ucapakan "Gusti, berilah kami rejeki hari ini secukupnya" hendaknya hidupnya juga seperti doa dan burung pipit itu, nikmati anugerah yang kauterima dengan penuh syukur tanpa merasa selalu berkekurangan. Lihat daun-daun pohon itu le, bukankah disamping daun baru tumbuh  daun-daun kering akan berjatuhan ke tanah , berguguran ke tanah. Hal itu tidak bisa ditawar-tawar lagi, sifatnya alami. Begitu juga dengan hidup ini disaat ada kelahiran ada kematian, ada kesusahan tentu ada kegembiraan . Kedua sisi yang  selalu ada dalam hidup dan tidak bisa dilewatkan." sambil klempas-klempus Sang Kakek berhenti sejenak.

"Lihat cu pohon pisang raja itu. Betapa dirinya tidak pernah protes takkala buahnya diambil, tetap saja dia tumbuh dengan tunas-tunas baru dan menghasilkan buah-buah lagi buat sesama yang membutuhkan. Begitu juga dengan dirimu hendaknya kamu belajar untuk menghasilkan buah yang berguna dan memberikan dengan ketulusan bagi sesamamu tanpa pernah mengharapkan imbalan. Coba dengarkan juga suara katak kalau malam hari, bukankah terdengar indah bersaut-sautan mungkin diikuti suara jangkerik. Terasa damai kan cucuku. Coba kalau kalau katak itu bersuara bersamaan dengan satu nada yang sama dan ketukan yang sama pasti akan terasa lain, bukankah perbedaan yang ada akan semakin menambah keindahan. Bukankah kamu dan teman-temanmu juga berbeda, perbedaan yang ada diantara kalian akan semakin menambah keindahan hidup ini. Lihat juga pematang sawah yang barusan kakek bersihkan, bukankah kamu kalau jalan di pematang sawah ini akan hati-hati supaya jangan terpeleset dan tidak jatuh ke sawah. Lihat juga jalan kampung itu, bagaimana saat kamu berjalan disana. Seharusnya saat dia jalan kampung itu kamu juga lebih berhati-hati karena dengan jalan yang rata itu seringkali membuat terlena dan tidak sadar akan bahaya disekitarnya. Seperti juga saat kamu menapak dalam jalan hidup ini, tetaplah selalu untuk tersadar jangan sampai terlena." kata sang kakek.

"Lihat juga gagang cangkul ini, kalau tidak pernah dipakai pasti akan terasa lain ditangan dibandingkan dengan cangkul yang biasa dipakai. Terasa lebih halus, lembut dan tidak membuat telapak tangan sakit. Begitu juga dengan dirimu hendaknya kamu belajar dan mengasah hati dan pikiranmu, pelajari hingga hati dan pikiranmu menjadi semakin halus dan tajam. Lihat juga kaki dan tangan kakek ini, sehabis kena lumpur pasti kakek basuh dengan air dan sabun agak bersih dan bebas dari kuman. Begitu juga dengan raga dan jiwa ini perlu juga untuk dibersihkan dengan bermatiraga, bersihkan kotoran batin dan pikiran saat bermatiraga. Saat kamu membuat pengakuan dosa, pernahkah kamu sadari hingga kamu tidak mengulangi dosa-dosa yang sama? Kalau tidak berhati-hati maka kamu akan terjebak dalam tradisi puasa dan pengakuan dosa yang menurut ajaran agama diwajibkan. Seharusnya semakin kamu sadari dengan bermatiraga dan pengakuan dosa semakin membuat hati dan pikiranmu bersih , semakin hari semakin bertambah bersih seiring perjalanan sang waktu. Semoga seiring jejak-jejak langkah yang terus kaubuat, semakin besar sinar di dirimu yang semakin menyinari kehidupan. Masih banyak pelajaran dari Saudaramu Alam Sekitar yang bisa kau pelajari dan semoga semakin membuat dirimu lebih mencintai alam sekitar dan lebih bijak dalam menggunakannya" lanjut sang kakek

Karena  sudah saatnya pulang, maka Sang kekek mengajak cucunya untuk pulang. Tampak sinar ilahi yang memancar di raut muka kedua makhluk itu. Sinar Ilahi yang selalu memberikan sinarnya di kehidupan ini.

Salam










Jumat, 11 Desember 2009

Sang Penerus

Suatu ketika di sebuah padepokan yang dipimpin oleh Ki Ageng  memanggil dua orang muridnya untuk membahas sesuatu yang teramat penting, membicarakan penerus padepokan dikarenakan Ki Ageng ingin menyepi dan melepaskan dirinya dari hal-hal yang bersifat keduniawian. Kedua muridnya , dipanggilnya murid yang tertua Gajah Seto dan murid termuda Rara Wilis. Di hadapan Ki Ageng yang sangat mereka hormati, tampak kedua murid tersebut msih kebingungan dan tidak mengerti akan maksud dari guru mereka, dan Ki Ageng tampaknya bisa mengetahui apa yang sedang berkecamuk di pikiran kedua muridnya hingga akhirnya diapun berkata, "Muridku, Gajah Seto dan Rara Wilis aku tahu apa yang menjadi pertanyaan di diri kalian. Aku sudah mempertimbangkan masak-masak, dan aku melihat kalian berdualah yang kulihat mampu menjadi penerusku kelak. Namun belum saatnya kalian mengetahui alasanku. Sambil menunggu saat itu, aku menyuruh kalian untuk sementara waktu mengembara selama dua belas purnama." kata Ki Ageng, dengan perlahan namun dari getar suara dan sorot matanya tersirat wibawa yang begitu besar.

"Gajah Seto, kamu turuni lereng bukit ini. Kamu bawa perbekalan secukupnya, aku  titipkan air dalam bumbung bambu ini sebagai tanda penyertaanku kepadamu. Bawalah bekal secukupnya, nanti saat kamu temui dusun pertama kamu berhentilah dan tinggalah disitu. Selama dua belas purnama baru kamu kembali kesini dan aku minta dibawakan sesuatu yang paling berharga," kata Sang Guru, kemudian diapun melihat muridnya yang termuda .

"Rara wilis, aku tahu kamu pasti masih kebingungan. Tidak usah hal itu menjadi beban buatku, nanti kembali aku beritahu alasaku. Bawalah bekal secukupnya, aku titipkan air dalam bumbung bambu ini sebagai tanda penyertaanku kepadamu. Kamu naiki perbukitan ini, berjalanlah ke arah barat, hingga kautemukan dusun pertama. Selama dua belas purnama pula kamu tinggal disana dan kembalilah kesini." kata Sang Guru. "Saat mentari memancarkan sinarnya esok hari kalian berangkatlah, doa  restuku selalu menyertai langkah kalian dan ingat ya kedua muridku Gusti akan selalu meyertai kalian. Sekarang istirahat dan persiapkan untuk perjalanan esok hari."

Setelelah itu kedua murid tersebut meminta doa restu dan berpamitan , kembali ke bilik mereka masing-masing. Masih menyisakan pertanyaan besar di  diri mereka. Namun dengan tekad yang bulat keesokan harinya pada saat sang fajar muncul mereka telah meninggalkan pedepokan tersebut.

Hari berganti hari, purnama berganti purnama hingga akhirnya pada purnama ke dua belas kedua murid tersebut kembali. Yang pertama muncul Gajah Seto, dibalik kelelahan tampak dirinya semakin gagah saja . Tampak bawaan yang dibawanya lebih banyak dari saat di berangkat. Selang beberapa lama tampak pula Rara Wilis, terlihat paras mukanya memancarkan sinar-sinar kecantikan yang terbalut senyumnya dan kelelahan dirinya. Dengan berseri-seri di melangkah. Keduanya tampak saling berjabat tangan, bercengkrama melepas kerinduan yang ada di keduanya. Saking asyiknya mereka bercengkrama , tidak disadari oleh mereka berdua Ki Ageng telah lama memperhatikan mereka berdua.

"Selamat datang kedua muridku yang kukasihi, senang rasanya melihat kalian kembali ke padepokan ini dengan keadaan sehat dan kiranya tidak ada satupun yang kurang. Nikmatilah waktu yang ada, lepaskan segala beban yang selama ini kalian pendam. Beristirahatlah karena besok pagi masih ada yang harus kalian kerjakan. Gajah Seto pergilah ke atas gunung esok hari dan kembalilah saat senja, sedangkan Rara Wilis masuklah ke ruangan samadhi dan hanya beloh keluar saat aku memanggilmu. Kita bertemu besok malam sambil kalian ceritakan pengalaman dan apa buah tangan yang kalian bawa untukku." kata Ki Ageng ,kemudian dia meninggalkan pendopo meninggal kedua insan yang masih asyik bercengkrama.

Keesokan harinya Gajah Seto pergi ke puncang Gunung, dan Rara Wilis masuk ke ruangan samadhi. Sore hari Gajag Seto kembali, dan Rara Wilis pun sudah keluar dari ruangan samadhi, hingga malam harinya mereka bertemu di pendopo. Disitu sudah ditunggu oleh Ki Ageng, disuruhnya kedua murid tersebut duduk di hadapannya. Kemudian diapun melihat ke Gajah Seto, "Gajah Seto aku ingin dengar apa yang kau dapat dari pengembaraaanmu selama ini dan hasil pendakianmu ke puncak gunung?' tanya Ki Ageng

"Maaf guru, tidak banyak yang saya dapat dari pengembaraan ini. Saya hanya bisa membawakan barang-barang yang mungkin guru menyukainya. Air yang dulu dibawakan juga saya kembalikan lagi, masih utuh seperti semula. Sungguh pengembaraan yang sangat berat, saya harus membawa air ini terus-menerus. Di dusun tempat saya tinggal memang cukup makmur sehingga saya senang berada di sana namun seringkali ada gangguan. Untung dengan bekal ilmu kanuragan yang guru ajarkan semua bisa saya kalahkan. Kemudian dari hasil pendakian gunung tersebut saya hanya dapat menikmati keindahan suasana alam. Kiranya hanya itu yang saya dapatkan, maaf guru kalau salah," kata Gajah Seto.

"Kalau kamu muridku Rara Wilis, bagaimana hasil pengembaraanmu dan hasil di ruangan semedi?" tanya Ki Ageng

"Maafkan muridmu yang bodoh ini guru, awalnya sungguh terasa berat rasanya menerima perintah untuk mengembara karena saya masih baru dan saya sudah terlanjur cinta dengan suasana disini. Namun dalam perjalanan pendakian gunung dengan membawa bekal dan air yang guru berikan saya bulatkan langkah menempuh perjalanan ke dusun yang harus saya tuju. Semakin lama saya melangkah semakin terasa lelah, hingga akhirnya saya istirahat sejenak. Saat itulah saya tersadar, berat ringannya perjalanan yang saya lakukan karena saya terlalu memikirkan beban air dan beratnya medan yang harus ditempuh. Bukankah terasa ringan apabila pikiran terbebas dari berapa berat air dan seberapa berat medan perjalanan? Bukankah berjalan naik atau turun sama saja saya tetap berjalan? Bukankah jarak 1 km ataupun berpuluh-puluh kilo juga sama saja selama sepanjang saya bisa menikmati perjalanan yang harus ditempuh? Bukankah dengan medan yang terjal membuat saya lebih hati-hati dalam melangkah, sekalipun saya harus terjatuh pasti saya akan lebih berhati-hati kembali? Banyak pertanyaan di diri saya yang akhirnya membuat tersadar, dan membuat saya sampai ke tempat tujuan." kata Rara Wilis, sambil melirik ke Gajah Seto dan memberikan senyum manisnya.

"Sesampai ke temapat dusun pertama saya terkejut dengan kondisi dusun tersebut yang serba kekurangan, kondisi alam yang tidak bersahabat, kerasnya hidupnya, kerasnya perilaku warga dusun, kerasnya persaingan demi mempertahankan hidup yang mereka jalani. Saya bersyukur Guru, setidaknya berbekal perjalanan yang sulit akhirnya sayapun bisa melihat, menerima semua seprti apa adanya, bahkan memudahkan saya untuk masuk ke lingkungan yang berbeda. Saya belajar menggunakan prinsip garam dimana rasa garam itu selalu ada, dan tidak lebih tidak kurang. Karena kalau kurang akan terasa hambar, dan kalau lebih akan terasa asin. Saya mencoba masuk ke segala sisi, tanpa harus lebur musnah." katanya lagi, Ki Ageng hanya tersenyum mendengar cerita murid termuda.

"Sewaktu saya di ruangan samadi, awalnya melalui lubang yang ada saya bisa mengamati ruangan sekitar, namun seiiring dengan berjalannya waktu maka suasan menjadi temaram hingga akhirnya gelap. Udara yang saya rasakan juga semakin pengap, seakan tidak ada udara lagi. Hingga akhirnya saya hanya bisa mengambil sikap samadhi, berbekal perjalanan sebelumnya membuat saya hanyut kedalamnya sampai akhirnya guru memanggil saya. Trima kasih guru, berkat bimbingan guru hingga saya berhasil mencari apa yang selama ini saya cari, semakin yasa bisa menerima semuanya sebagai sebuah anugrah, semakin saya bisa menghargai raga ini, melihat, menyadari hingga melepaskan semuanya. Hanya semua itulah yang bisa berikan sebagai hadiah buat Guru, sekaligus saya mau minta maaf karena air yang Guru berikan telah habis saya minum di perjalanan, dan saya juga mempelajari ilmu dari luar perguruan ini sebagai pelengkap diri saya." kata Rara Wilis


Ki Ageng hanya manggut-manggut sambil tersenyum mendengarkan cerita muridnya, kemudian diapun memulai bicara,"Ngger, kedua muridku. Sengaja dahulu aku memilih kalian berdua dengan pertimbangan kalian berdua mewakili dua sisi pria dan wanita yang kulihat terbaik. Walaupun Rara Wilis termasuk muridku yang termuda namun kulihat dialah wakil dari sisi wanita yang terbaik. Akupun memberikan bekal air dalam bumbung bambu dengan ukuran yang sama sebagai bentuk keadilan untuk kalian bawa, air yang sebagai tanda aku selalu menyertai langkah kalian tentu saja boleh kalian minum kalau merasa haus. menjadi sangat aneh kalau air itu kalian simpan dan menjadi seolah ajimat atau kalian dewakan agar dapat memberikan kekuatan bagi kalian. Kekuatan sejati yang sebenarnya ada dalam diri kalian sendiri. Aku sengaja memberikan kalian jalan yang berbeda dan medan yang berbeda, Rara Wilis kuberikan jalan dan medan susah agar dia menyadari bahwa sisi kewanitaan yang dia miliki tidak menjadi alasan pembenaran untuk mendapatkan kesulitan yang lebih ringan dibanding kamu Gajah Seto. Begitu juga dengan alasan kenapa dia kumasukan ke ruangan Samadi, dimana cahaya dan udara aku atur sedemikian rupa agar dia merasakan apa yang dia ceritakan. Sedangkan kamu Gajah Seto ternyata dibalik kepandaian ilmu kanuragan yang kuakui teratas di padepokan ini atas ilmu yang kuberikan namun kamu belum bisa menyerap makna lain selain ilmu kanuragan."

"Rara Wilis, kiranya dirimulah yang selama ini aku nanti-nantikan sebagai penerus padepokan ini.."kata Ki Ageng selanjutnya dan membuat Rara Wilis terkejut, lebih terkejut lagi Gajah Seto.

"Guru, bukankah Rara Wilis seorang wanita. Sungguh tidak lazim dan belum ada sejarahnya padepokan ini dipimpin seorang wanita?" tanya Gajah Seto

"Gajah Seto, lupakah dirimu akan pelajaran yang telah kuajarkan selama ini. Beginilah kalau dirimu sudah terjebak dalam konsep pria dan wanita, padahal itu hanya sebuah sebutan yang kita berikan untuk membedakan saja. Tidak ada yang lebih baik atau lebih tinggi antara seorang yang disebut pria atau wanita. Keduanya sama-sama mempunyai raga yang sama, yang kita sebut sebagai manusia. Manusia yang terdiri dari raga dan jiwa, sehingga tidak perlu dipersoalkan siapa yang harus memimpin. Kalau kamu sadari lagi di dalam dirimu juga ada sisi kewanitaan yang terkandang muncul dan berbincang dengan sisi kepriaanmu. Kedua sisi yang saling mengisi, memberi, menerima  satu sama lain. Begitu juga kamu Rara Wilis. Satu lagi yang harus kalian ingat tentang raga ini, raga yang harus kalian sadari dimana jiwa kalian ada tentu saja ada kelebihan dan kekurangan. Terimalah, nikmati apa adanya, raga yang merupakan rumah sebenarnya dari diri kalian. Cintailah rumah kalian, namun jangan merusaha untuk mengikatnya. Biarlah raga ini berjalan searah dengan sang waktu, tidak ada yang bisa dicegah. Lihatlah rambutku ini yang terus memutih dan rontok meninggalkan kepala ini tanpa bisa kucegah. Rumah yang nantinya akan rapuh, namun hendaknya pikiran kalian jangan sampai rapuh. Bebaskan dia dari kerapuhan raga ini. Kiranya sekarang aku sudah bisa mulai mempersiapkan dirimu Rara Wilis untuk menjadi peneruskku, dan tentu saja Gajah Seto yang tentu akan selalu mendapingimu. Berjalanlah kalian berdua , beriringan satu sama lain, kedua sisi wanita dan pria yang berjalan beringan saling mengisi dan memberi. Berikan cahaya terangmu, berikan garammu bagi sesama makhluk. Kurestui kalian berdua." kata Ki Ageng sambil tersenyum dan mengandengkan tangan Gajah seto ke Rara Wilis

Sehabis memberikan restunya, Ki Ageng masuk ke ruangan meditasi. Meninggalkan Gajah Seto dan Rara Wilis yang sedang berbunga-bunga, merajut kasih mereka berdua.

Salam

Senin, 07 Desember 2009

Seorang Jai Hwa Cat

Suatu  ketika di sebuah tempat makan berkumpul para tetua dari berbagai aliran dalam dunia persilatan. Mereka semua sedang mengadakan upacara penyambutan seseorang, seorang pendekar gila . Sebutan yang disandangnya karena dirinya tidak pernah mau menyebutkan namanya, namun sebagai sesosok remaja dia sudah membuat geger dengan tindakan dan ucapannya seringkali diluar penalaran masyarakat pada umumnya. Tampak ditengah-tengah ruangan duduk di meja tengah sesosok pemuda didampingi tetua-tetua sedang asyikanya berbincang-bincang sambil menikmati makanan yang dihidangkan. Masih tersisa satu tempat duduk di meja tersebut.

Ditengah-tengah asyiknya mereka semua menikmati hidangan, suasana dibikin gaduh oleh kedatangan seorang pemuda tampan yang dengan langkah pasti memasuki ruangan tersebut. Dengan tatapan dan senyuman dibibirnya dia menuju ke meja dimana pendekar gila sedang duduk, keduanya saling bertatap mata sambil saling melemparkan senyum. Disambutnya pemuda tampan tersebut dengan ramah dan disuruhnya duduk disamping dirinya. Sepontan tindakan tersebut membuat para tetua dan hadirin yang hadir disitu terperangah dan tidak terima dengan perlakuan yang diberikan kepada sang pemuda. Ada yang berbisik-bisik, ada yang memperlihatkan muka tidak puas, ada juga yang langsung memberikan komentar dengan lantang.

"Hai Pendekar Gila, tidak tahukah kamu siapa yang barusan kau sambut? Masak seorang Jai Hwa Cat kau berikan kesempatan untuk duduk disamping dirimu dan para tetua yang terhormat?" kata hadirin
"Sungguh tidak pantas dirinya ada disini, usir saja dia dari sini!" suruh hadirin yang lainnya.
"Sungguh tak pantas kami berkumpul disini dengan seorang pendekar pemetik bunga yang selalu mengumbar nafsu birahinya," seru lainnya
"Benar pendekar gila, suruh keluar dirinya. Tidak pantas kita golongan putih bersanding dengan dirinya. Kalau engkau benar-benar menghormati kami para tetua kiranya suruh dirinya pergi keluar dari sini. Kedatangan dan penghormatan dirinya membuat kami terhina dengan perlakukan yang pendekar berikan kepadanya,, tidak pantas kami disejajarkan dirinya" kata salah satu tetua yang duduk bersama dengan Pendekar Gila.
Masih banyak seruan lainnya yang memperlihatkan ketidaksenangan mereka terhadap seorang Jai Hwa Cat yang menjadi teman Pendekar Gila

Sang pendekar gila hanya tersenyum sambil dilihatnya wajah-wajah sekitar yang menunjukkan rasa ketidaksukaannya kepada temannya, kemudian sambil tersenyum pula dilihatnya wajah temannya seorang yang mereka sebut Jai Hwa Cat. Berdua mereka saling melempar dan membalas tatapan, sang temannya pun mengerti dan menganggukkan kepalanya seakan sudah mengetahui apa yang akan dilakukan Pendekar Gila. Dengan tanpa beban pendekar gila berdiri sambil memberikan salam dulu kepada para tetua dan temannya, diapun mulai berbicara.

"Para tetua dan hadirin sekalian , maaf kiranya apabila perlakuan yang kuberikan kepada sahabatku menyinggung kalian semuanya. Sebuah perlakuan yang sebenarnya wajar diberikan bagi tamu yang datang, namun ternyata menjadi batu sandungan dan menjadi persoalan yang sebenarnya tidak perlu dipersoalkan.  Salahkah diriku menyambut, mempersilakan seseorang yang datang kepadaku siapapun orangnya?  Dimana letak kesalahan dan kebenaran? Apakah sekiranya saya makan menggunakan tangan kiri itu juga salah, karena tidak seperti yang para tetua atau hadirin yang makan dengan tangan kanan? Apakah kalau saya melangkah menggunakan kaki kanan dulu baru kemudian kaki kiri juga salah, karena berbeda dengan kebanyakan orang? Apakah kalau saya menggunakan pakaian wanita itu juga merupakan kesalahan? Apakah kalian juga akan memberikan penghormatan kepadaku dengan cara seperti ini apabila aku masuk kesini dengan badan yang bau dan penuh luka?" kata Pendekar Gila sambil tetap memberikan senyumnya

"Sangat menyedihkan melihat betapa para tetua dan kalian semua melihat dan menghakimi sesorang hanya dengan melihat segi terluar dari sesorang. Hingga akhirnya kalian bisa membaginya menjadi dua kelompok antara golongan yang kalian sebut hitam dan putih, sehingga yang putih harus berkumpul dengan yang putih karena dialah golongan yang terbaik. Kalian tutup mata dan hati kalian, sehingga tidak terlihat adanya kebaikan di dalam diri temanku ini yang kalian anggap golongan hitam.. Seolah olah pasti  selalu ada kebaikan di dalam golongan putih yang kalian agung-agungkan, tanpa pernah adanya terselip kejahatan yang ada diantara kalian.  Temanku kalian anggap golongan hitam karena perbuatannya di masa lalu, dimana sang pemetik bunga dan bunga yang dipetik melakukan kesalahan. Kenapa kesalahan hanya kalian tumpahkan kepada dirinya? Kenapa bunga yang dia petik tidak kalian  persoalkan? Bukankah mereka berdua melakukan hal yang sama dengan kesadaran mereka berdua. Mengapa kalian perlakukan temanku seolah-olah dia kotor banyak dosanya, apakah kalian juga manusia yang tanpa dengan dosa? Sangat menyedihkan tatkala sesorang menghakimi orang lain sementara diapun juga tidak luput dari apa yang kalian namakan dosa. Menyedihkan melihat topeng-topeng yang kalian pakai, dibalik jubah kemegahan serta status yang kalian sandang ternyata banyak kebusukan yang tersembunyi. Tidak sedikit dari kalian yang menggunakan aspek legalitas dari dogma atau kepercayaan yang kalian pegang untuk melakukan pembenaran atas tindakan yang kalian ambil. Dibalik sikap pertapa kalian ternyata pikiran, hati dan batin masih belum terbebas akan nafsu-nafsu duniawi yang ada. Dibalik sebutan pendekar yang kalian sandang ternyata tidak mencerminkan sikap seorang pendekar sejati. Ketika seseorang mengatakan orang lain tidak pantas dan layak untuk hidup berdampingan dengan dirinya pernahkan dirinya bertanya kepada dirinya seberapa pantaskah dirinya untuk bisa berdampingan dengan orang lain? Ketika sesorang akan melakukan kesalahan kemudian kalian kucilkan, pernarkah kalian menyadari kalian juga mungkin pernah berbuat kesalahan dan sudah layakkah perbuatan kalian itu? Saya sendiri mungkin tidak pantas berada disini di tengah-tengah golong kalian, untuk itu saya mohon diri pada para tetua, hadirin semua untuk meneruskan pngembaraan bersama teman sejati saya, seorang yang kalian sebut Jai Hwa Cat. Salam." kata pendekar gila sambil memberikan hormat dan senyum  diapun mengajak temannya meninggalkan ruangan tersebut.

Suasana menjadi diam, para tetua seakan dipukul dengan palu betapa piciknya mereka, begitu pula sebagian hadirin. Namun tidak sedikit pula yang masih memasang muka tidak senang dan tidak puas atas ucapan dan tingkah laku pendekar gila. Pendekar Gila yang sadar bahwa diapun juga belum terbebas akan nafsu yang selalu menggodanya....

Salam

Rabu, 18 November 2009

Jamu Ayem Tentrem

Ditengah teriknya cuaca siang itu, mataku tertuju pada sesosok penjual jamu yang  biasa menawarkan jamunya ke tempatku. Dengan langkah-langkah kecil dia berjalan kerumahku, terlihat peluh dikeningnya. Namun semua itu seakan sirna oleh senyum yang selalu terpancar di wajahnya yang sudah mulai termakan usia."Jamu-jamune mas' kata-kata yang selalu terdengar saat dia menawarkan jamunya. Dan seperti biasa biasa dia menyapaku dengan kata-kata Ngger atau Le, katanya aku suadah dianggap seperti anaknya sendiri. Terkadang kami berdua terlibat dalam perbincangan yang semakin membuatku mengerti makna hidup seperti perbincangan pada siang itu.
"Gimana Le, mau beli jamu apa?" kata Simbok Jamu sambil menaruh dagangannya di teras rumah sambil membasuh peluh dikeningnya dengan selendangnya.

"Biasa mbok,jamu sehat ya. Badan terasa tidak enak je mbok" kataku sambil duduk di lantai dekat simbok

Dengan cekatan diramunya jamu pesananku, langsung kuminum terasa hangat menjalar ke sekujur badanku. Kuperhatikan ternyata tinggal jamu yang barusan kuminum, tinggal botol-botol kosong yang tersisa. Kupandang wajah simbok yang sudah renta, namun memancarkan pesona yang semakin bersinar.

"Piye le, enak jamunya? Simbok sengaja memberikan jamu pahit tanpa tak kasih beras kencur atau kunir asem sebagai penawar rasa pahit. Coba rasakan dan nikmati pahitnya, temukan setitik rasa manis yang terkandung di dalam rasa pahit yang ada.  Walaupun cuma setitik, rasakan, nikmati dengan penuh kesadaran. Ingat le, hidupmu juga seperti itu to? Ingat lagi bagaimana kamu waktu lahir ibumu dengan menahan rasa sakit melahirkanmu, bagaima juga dulu waktu bayi kamu belajar berdiri atau berjalan pasti pernah jatuh , pernah sakit. Apakah kamu terus berhenti belajar berdiri atau berjalan? Kamu pasti terus belajar lagi hingga kamu bisa seperti sekarang ini. Itu semua merupakan sebuah proses agar kamu semakin kuat le. Coba kamu renungkan dan ingat-ingat lagi saat dimana kamu merasa sendiri, sedih, kesepian lalu ingat juga saat kamu merasakan kebersamaan, kenyamanan, keberhasilan, kesenangan." kata simbolksambil merapikan botol-botol  yang ada.

Aku dibuat termenung oleh kata-kata simbok. Kuperhatikan sekali lagi muka simbok dengan seksama.
"Coba le kamu rasakan lagi bagaimana kamu bernapas selama ini. Perhatikan dan sadari udara yang keluar dan masuk lewat kedua lubang hidungmu. Rasakan benar-benar, rasakan dan nikmati hadirnya Gusti lewat napas tersebut. Betapa selama ini Dia hadir menemanimu le dikala kamu susah atau senang. Dia selalu ada , sehingga gunakan ragamu untuk berkarya bagi sesama tanpa harus kau harap imbalan yang akan kauterima. Seperti bayang-bayang yang selalu menyertaimu, ikut kemanapun kamu pergi. Dia selalu ada le." kata simbok sambil meneguk minuman yang dibawanya.

"Coba kamu perhatikan barang bawaan simbok, pasti kamu berfikir dann kasihan melihat simbok bawa bawaan yang berat tidak sebanding dengan badan yang sudah mulai merapuh. Memang simbok akui raga ini tidalah seperti dulu, raga ini sudah termakan usia. Tiada yang tatap di raga ini le, tiada kekekalan yang mengikuti raga ini, terus berubah di makan sang waktu. Namun ada yang bisa kamu pelajari le, ternyata simbok masih bisa mengangkat dan berjualan keliling membawa botol-botol ini to? Ketika kamu melihat dan memikirkan sesuatu maka akan menjadi beban yang sangat berat. Seringkali disaat terhimpit beban yang berat kita memohon Gusti semoga diberikan keringanan untuk memanggul beban ini, mungkin lebih baik begini le "Gusti semoga diberikan kekuatan untuk memanggul beban ini", bebaskan pikiranmu akan beratnya beban yang harus kamu pikul agar terasa ringan dan tiada lagi yang membebanimu." 

"Simbok bersyukur le, walaupun tidak mengecap pendidikan seperti yang kamu jalani dan hanya menjadi penjual jamu seperti ini. Dengan menjadi penjual jamu , simbok bisa belajar meramu berbagai jenis tanaman yang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan  untuk kemudian simbok ramu menjadi sebuah jamu. Dengan meramu tadi simbok juga belajar untuk meramu kelebihan dan kekurangan yang ada di diri simbok, teman, keluarga, lingkungan sekitar agar dapat menjadi jamu kehidupan yang lebih baik. " kata simbok lagi.

Aku semakin penasaran mendengar kata-kata simbok maka aku pun bertanya kepadanya, "Mbok, simbok itu agamanya apa to?

"O alah le, kasihan to kamu ini. Apa-apa kok selalu dihubungkan dengan agama dan kepercayaan seseorang. Hati-hati le, jangan sampai kamu terjebak dalam konsep atau kotak-kotak tersebut. Akan berbahaya karena kamu akan terjebak melihat seseorang dari agama sebagai sebuah pakaian yang dikenakan oleh sesorang, sehingga begitu kamu melihat pakaian warna hijau agamanya pasti ini dengan atribut seperti ini. Seperti sekarang seringkali terjebak dalam konsep penamaan Pria dan Wanita, sehingga terjebak dalam aturan kalau pria itu begini kalau wanita begini, hak dan kewajibannya terkadang juga dibedakan. Padahal coba direnungkan lebih dalam kan sama saja to le, sekarang juga ada pria yang jualan jamu kaya simbok. Apa itu salah?. Pria atau wanita sama saja tidak ada yang lebih, sama-sama sebagai manusia le."

"Belajarlah untuk bersikap sumeleh sebagai wong jowo, jalani hidupmu , nikmati dan resapi semua perjalanan dengan penuh kesadaran ya le. Simbok tak pulang dulu ya le, sudah sore besok ngobrol-ngobrol lagi ya. Semoga kamu tidak bosan ya le mendengarkan ocehan simbok ini yang tinggal menunggu saatnya untuk kembali kepada-Nya." kata simbok sambil menggendong kembali tenggok yang berisi botol-botol bekas jamu.

Lama kupandangi jalannya simbok, sampai hilang dari pandangan mataku. Sebuah "Jamu Ayem Tentrem" yang barusan kuminum, kenikmati dan kucoba resapi  lewat perantaran Simbok.

Gusti nyuwun kawelasan.














Jumat, 09 Oktober 2009

Praktis dan Instan


Belajar tidak mengenal waktu dan usia. Dahulu dan sekarang mungkin mata pelajaran yang seringkali menjadi momok bagi siswa antara lain pelajaran fisika,kimia atau matematika. Mungkin ada juga mata pelajaran lainnya tergantung respon siswa dalam mempelajari mata pelajaran tersebut. cara pandang berubah ternyata dengan memahami rumus-rumus yang kelihatannya sulit tersebut akan memudahkan dalam menyelesaikan soal-soal yang ada,sehingga walaupun soalnya diganti dan menjadi kelihatan lebih sulit namun karena sudah memahaminya tetap saja tidak menemukan kesulitan dalam mengerjakannya. Kemudian untuk mempercepat penyelesaian soal-soal kemudian dibuatlah meteode penyelesaian seperti penggunaan rumus-rumus praktis yang akan mempercepat penyelesaian soal yang kelihatan rumit. Yang menjadi persoalan berikutnya apakah dengan rumus praktis tersebut mampu menghapus kesan momok pada pelajaran tersebut? Kurasa tidak. Rumus praktis memang akan mampu mempercepat penyelesaian soal namun apabila tidak memahami rumus dasarnya akan terjebak dalam proses penghafalan rumus. Kunci sebenarnya adalah dengan memahami konsep dari rumus dasar sehingga dengan memahami maka sebenarnya dapat diturunkan rumus-rumus praktis yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan

Begitu juga dengan mie instan, memang sekarang sudah menjadi trend hidup. Apabila merasa lapar maka bagi sebagian orang akan berusaha mencari atau membuat mie instan. Seorang ibu mungkin begitu juga apabila tidak ada lauk atau sayuran di rumah akan dengan mudahnya membuat mie instan. Akan menjadi hal yang aneh apabila dihadapkan pada sebungkus mie telur berikut bumbu-bumbu yang harus dimasak, belum tentu semua orang bisa mengolah dan memasaknya menjadi masakan yang mungkin rasanya bisa melebihi dari mie instan. Berbagai alasan mungkin muncul apabila dihadapkan pada kejadian seperti ini dari mulai tidak bisa memasak, ribet dan mungkin bisa lari ke masalah gender. Padahal sebenarnya banyak yang bisa dipelajari dari proses membuat mie dari bagaimana memilih jenis mie, bumbu, seberapa lama merebus mie dan sebagainya. Belajar untuk memahami proses tersebut, sehingga semakin paham akan bisa menciptakan inovasi masakan-masakan baru dengan bahan dasar mie yang beraneka ragam.

Dari rumus praktis dan mie instan, terdapat dua kata "Praktis" dan "Instan". Dalam hiduppun mungkin kita seringkali terjebak hal-hal praktis dan instan. Bahkan bagi sebagian orang mungkin ada yang berusaha mencari cara-cara praktis dan instan agar memperoleh keuntungan yang secepatnya, proses-proses alami mungkin dikorbankan tanpa memikirkan efek sampingnya semisal pemakaian pupuk kimia yang berlebihan. Orang pun mungkin ada yang berusaha mencari kesuksesan dan harta dengan cara-cara praktis dan instan namun tidak mau berusaha dan malas untuk mengeksplorasi dirinya, hingga yang diperolehnya hanyalah kenikmatan sesaat dan begitu dia jatuh tidak mampu untuk bangun kembali. Dalam menyelesaikan masalah terkadang karena hanya memikirkan solusi praktis dan instan tanpa berusaha menyentuh akar permasalahan yang ada hingga memahami dan dihasilkan solusi yang benar-benar menyelesaikan masalah. Dalam berkomunikasipun terkadang karena praktis dan instan seseorang terjebak menggunakan sms, email dsb untuk menyelesaikan masalah yang ada tanpa melihat seberapa jauh efek dari sms atau email yang dia kirim. Masih banyak kasus-kasus sehari-hari dimana kalau kita tidak bijak dan memahami benar-benar akan segala sesuatunya maka cara praktis dan instan akan menjadi bumerang bagi diri sendiri dan orang lain. Diperlukan permenungan masing-masing hingga akhirnya bisa menyadari apakah menggunakan cara-cara praktis dan instan? Sudah tepatkan cara tersebut digunakan dengan bijak? Ataukan terus digunakan sebagai pembenaran sesat? Tinggal masing-masing mencari jawabannya, sayapun masih terus mencarinya.







Kamis, 21 Mei 2009

Jati Diri

Sambil minum segelas kopi pahit dan menikmati kicauan burung prenjak di teras rumah teringat kembali kisah dua remaja yang sudah kuanggap adikku sendiri. Sebut namanya Monica dan Sisca. Keduanya merupakan dua orang sahabat yang sedang beranjak remaja, kemana-mana selalu bersama. Suatu sore mereka main ke kostku waktu aku sedang di rantau
"Sore mas kham, lagi ngapain?" kata Monica, biasa itu anak lebih aktif, lebih ceplas-ceplos kalau bicara dibandingkan dengan Sisca yang agak pendiam.
"Biasa Mon lagi main game, abis mau jalan-jalan malas, macet dimana-mana. Kok tumben sore-sore ketempatku, biasanya kan jalan-jalan ke mall."
"Iya nih mas, mau nanyain sesuatu." kata Monica lagi sambil cari tempat untuk duduk.
"Boleh-boleh saja, asal jangan nanyain cowok ya Sis. Dari tadi diam saja, lagi mikirin cowok ya, sudah kangen ya?
"Enggak-enggak, mas kham nih suka nggodain aku saja." jawab Sisca sambil tersipu-sipu.
"Gini mas ,cuma mau nanya kok. Kalau mau beli komputer PC itu bagusnya yang bagaimana ya?" tanya Monica.
"O gitu ya, kirain mau nanya aja. Baca aja PC Media, PC Plus, atau yang lainnya. Ada tuh di rak,ambil dan bawa pulang juga boleh kok." kataku sambil, mengatur strategi game. Maklum lagi tanggung main game football manager.
Kemudian mereka membaca buku-buku, atau majalah yang ada. Kubiarkan saja sambil kuteruskan game kesukaanku. Serius sekali mereka membacanya, tak terasa sudah menjelang Adzan Magrib.
"Gimana sudah ketemu, kakak mau mandi nih. Bawa pulang aja, dibaca-baca dulu ya." kataku
"Kasih tau saja yang gampang gimana mas, buat referensi, Ntar kami terusin bacanya di rumah" kata Monica.
"Begini ya sebenarnya dalam menentukan komputer yang akan dibeli kalian pikirkan saja mulai dari akan digunakan untuk apa komputer tersebut, buat mengerjakan tugas sekolah, mengedit foto atau film atau untuk yang lainnya. Budget yang dipunyai berapa untuk membeli komputer. Jenis komputer yang akan dibeli, "rakitan" atau "branded". Kalau itu sudah kalian putuskan , mungkin akan memberikan yang terbaik bagi kalian." kataku menjelaskan kepada Monica dan Sisca.
" Oke deh mas kham yang baik, kita pulang dulu. Thanks U " kata Monica. sambil tersenyum simpul. Memang sedikit "nakal" adikku yang satu itu. Kemudian mereka berdua pergi pulang. Dan akupun langsung mandi, siap-siap keluar mencari makanan buat makan malam. Maklum anak kost, perut sudah keroncongan belum makan dari tadi siang.


Kemudian selang beberapa bulan mereka datang lagi ke temapat kostku, biasa sambil ngobrol-ngobrol kesana-kemari layaknya anak remaja, mereka menceritakan pula komputer yang mereka beli. Monica ternyata lebih menyukai PC Rakitan dengan budget yang sama dengan yang dimiliki oleh Sisca. Dia selektif memilihnya sesuai dari fungsi komputer yang akan dia gunakan untuk multimedia, procesor, motherboard dengan chipsetnya, hardisk, ram, vga card, soundcard, diskdrive, hingga sampai ke chasing dan monitor dicermati betul-betul. Sehingga dengan budget yang ada terwujud sebuah komputer yang benar-benar mencerminkan keinginan dirinya. Disamping itu dia juga membaca buku-buku, majalah yang selama ini dipinjamnya, maupun membeli buku-buku komputer sehingga pengetahuan dia akan komputer semakin bertambah. Lain halnya dengan Sisca anaknya memang lebih kalem, dan dia tidak mau repot sehingga lebih memilih PC branded. Yang penting punya komputer itu sudah cukup. Tersenyum aku melihat tingkah polah mereka, senang sekali melihatnya. Ternyata setelah kuperhatikan benar-benar, terdapat perbedaan karakter yang mencolok antara keduanya.

Seiring dengan berjalannya waktu, aku harus pindah ke kota Lain dan memulai kehidupan baru. Lama tidak kudengar kabar dari mereka berdua, kangen juga sebenarnya melihat mereka yang sudah seperti adikku sendiri. Ketika kubuka emailku, aku memperoleh email dari Monica. Langsung kubuka email dan kubaca. Lama sekali aku membacanya, tertegun aku membacanya. Sungguh haru, bangga bercampur sedih perasaanku saat itu, mungkin kalau tidak malu dengan teman sekantor sudah keteteskan air mataku. Monica bercerita dan berterima kasih atas saran-saranku waktu akan menentukan komputer yang akan dibelinya. Dia memanfaatkan benar komputer yang ada, dan terus belajar tentang ilmu-ilmu komputer. Hingga akhirnya sekarang dia sudah hidup berkecukupan dan berbahagia berbekal program-program komputer yang dia ciptakan dan mampu menghidupinya untuk menjalani hidup. Monica juga menceritakan juga bagaimana hidup Sisca sekarang yang sangat menderita, keluarganya berantakan, dan dia sekarang masih menganggur. Luntang-lantung tidak karuan, bahkan terjerumus ke dalam kehidupan malam. Kubalas email Monica, kukabarkan juga keadaanku sekarang baik-baik saja , kutuliskan rasa kangenku buat adikku tersayang.

Pulang kerja, kusapa anak dan istriku. Kutumpahkan rasa kasih sayangku kepada mereka. Kusyukuri segala nikmat yang dikaruniakan Sang Pencipta selama ini. Tengah malam dikala semua angota keluargaku tertidur, aku bangun merenungkan kembali cerita Monica. Sungguh sebuah pengalaman hidup yang teramat indah untuk dilupakan. Ternyata berbekal sebuah benda yang sangat sederhana sebuah "Komputer" banyak pelajaran hidup yang bisa digali. Monica walaupun masih remaja ternyata mampu berfikir jauh kedepan. Sebuah komputer apabila diibaratkan dengan tubuh kita, maka terdiri dari berbagai macam bagian mulai dari badan sebgai chasingnya yang , otak sebagai prosesornya, kemudian bagian-bagian lainnya yang merupakan accesoris. Mungkin Sang Pencipta sudah menentukan jenis procesor, mainboard, hardisk, ram, vga card, sondcard sampai chipsetnya yang ada dalam tubuh kita. Masing-masing memilki karateristik sendiri-sendiri. Monica mengajariku untuk mengetahui komponen, kelebihan dan kekurangan yang ada dalam diriku. Berusaha untuk menerimanya dengan iklas dan belajar untuk mengupgrade kekurangan yang dimilki. Mengunakan kelebihan dan kekurangan secara bijak untuk memperoleh hakikat hidup yang hakiki. Berusaha menemukan jatidiriku, sehingga semakin mengenal akan diriku. Berusaha menjadi diri sendiri, tanpa berusaha mencontek kehidupan orang lain. Semakin aku mengenal diriku secara lebih dalam, semakin memudahkanku dalam melangkah, semakin ringan dalam menjalani hidup ini. Semoga jalan hidup yang kutempuh "benar" arahnya, terus kutempuh perjalanan sambil kupasrahkan semuanya kepadaNya.

Terinspirasi dari lagu "Jati Diri" dari Lilo-Kla

Dedicated to "Dewa (Keshav)" , "Sophie or Arjun"




Kamis, 07 Mei 2009

Hakekat Perkawinan

Setiap kali ada acara Sakramen Perkawinan dalam suatu gereja pasti tidak ketinggalan disitu disamping dekorasi gereja, ada suatu lilin yang jumlahnya 3 (tiga) buah yang terdiri dari dua buah lilin dan satu lilin yang posisinya diapit oleh kedua lilin tersebut, dan ukurannya biasanya lebih besar. Kemudian proses menyalakan lilin tersebut, kedua lilin dinyalakan bersama oleh kedua mempelai terlebih dahulu pada saat awal acara sakramen berlangsung, kemudian baru setelah pemberian "sakramen perkawinan "lilin yang lebih besar dinyalakan oleh kedua mempelai. Mungkin bagi yang beragama Kristiani ada sebagian yang tida memperhatikan hal seperti itu dan tidak tau maksud dibalik kejadian tersebut atau mungkin juga bagi yang memeluk agama non kristiani tidak mengetahuinya. Sebenarnya lilin-lilin tersebut mengandung makna yang begitu dalam, dan sungguh teramat "indah" apabila semua orang bersungguh-sungguh melakukannya. Lilin-lilin tersebut mengambarkan kedua pribadi dari masing-masing mempelai dimana masing-masing pribadi diibaratkan sebuah lilin yang mempunyai cahaya dan sinar kecil terkandung dalam dirinya yang kemudian dengan adanya ikatan perkawinan diharapkan akan terwujud "satu" lilin yang lebih besar dengan sinar yang lebih kuat, dari dua sinar lilin menjadi satu sinar. Sehingga tidak ada "Aku" melainkan "Kita".

Menyadari akan hakikat suatu perkawinan, dan belajar dari sebuah lambang dari "lilin-lilin" diatas maka sungguh berat untuk mewujudkannya, namun juga bisa menjadi terasa ringan dan menyenangkan apabila seseorang atau kita sadar dan menyadari adanya hambatan-hambatan yang seringkali muncul dalam menjalin suatu ikatan. Sehingga bisa belajar untuk mengeleminir segala hambatan yang akan muncul. Secara garis besar permasalahan yang muncul sebenarnya bisa dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu hambatan dari dalam pribadi baik itu disri sendiri ataupun pasangan, kemudian hambatan yang timbul dari lingkungan luar semisal orangtua ataupun masyarakat.


Hambatan yang dari diri sendiri ataupun pasangan

  • Karakter atau sifat dasar dari masing-masing pasangan, sebenarnya sebagai manusia kita dilahirkan telah membawa sifat/karakter masing-masing. Sebagai orang jawa yang hidup didalam lingkungan jawa kita menganal adanya "Pranata Mongso" yang berpengaruh terhadap sifat seseorang. Orang jawa mengenal akan adannya "Ilmu Titen". Secara garis besar sifat seseorang akan dipengaruhi oleh mongso atau musim disaat dia dilahirkan (mungkin sama dengan Sio atau Zodiak ) memiliki kelebihan dan kekurangan , karakter sendiri-sendiri. Sehingga tiap-tiap pasangan harus mengetahui benar-benar karakter pasangannya, dan apabila sudah memahami dan mau menerima karakter pasangannya maka niscaya kelak tidak menimbulkan permasalahan dikemudian hari, saling menyalahkan , merasa tidak cocok dan sebagainya. Seseorang ataupun pasangan yang telah mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing, secara bijak akan bisa memanfaatkan sehingga yang tadinya merupakan kelemahan bisa menjadi kelebihan.
  • Keterbukaan dan kejujuran, disini penting sekali adanya kejujuran ataupun keterbukaan dari masing-masing pribadi. Akan lebih bagus apabila saat mulai pacaran atau "pedekate" tak ada yang ditutup-tutupi, bukalah semua yang ada dalam diri baik itu kebaikan maupun keburukan, kalau memang kita tidak suka katakan terus terang. Biasanya kita menutup-nutupi kekurangan kita, kita poles diri kita agar kelihatan menarik, bertingkah laku yang kadang-kadang tidak sesuai dengan pribadi kita yang sebenarnya. semua itu hanyalah semu belaka, karena adanya suatu keinginan untuk menarik hati atau memiliki. Mungkin ada sebagian yang lebih suka memakai "topeng", namun suatu saat pasti akan ketahuan oleh pasangannya. Sehingga lebih baik , dibuang "topeng", "polesan-polesan yang tidak sesuai dengan pribadi kita sebenarnya", belajarlah untuk jujur dan terbuka dengan pasangannya.
  • Belajar untuk berusaha memberi jangan belajar untuk meminta. Seringkali kita meminta kepada pasangan kita, kamu harus begini-begitu, aku pinginnya kamu begini dan lain sebagainya. Meminta memang diperbolehkan namun akan lebih baik apabila kita berusaha untuk memberikan apa yang kita miliki dengan kelebihan dan kekurangan kita untuk membahagiakan baik itu materi maupun rohani kepada pasangan kita. Belajar dari filosofi sebuah lilin (baca "Jadilah Terang") maka kita masing-masing pasangan harus dengan sukarela memberikan sebagian diri kita, karena dalam suatu perkawinan sebenarnya tidak ada lagi "aku" yang ada hanyalah "kita". Jadi mau-tidak mau masing-masing harus mencoba untuk 'melelehkan" dirinya dan memberikan dirinya kepada pasangan hidupnya.
  • Saling percaya antar pasangan. Kepercayaan ini penting sekali dipupuk antar pasangan, karena sekali ada rasa saling tidak percaya maka diotak kita yang timbul hanya curiga, sehingga timbul fikiran yang macam-macam, jangan-jangan istriku ??? jangan-jangan suamiku????. Sekali timbul rasa curiga maka akan mengganggu harmonisasi dalam membina suatu hubungan.
  • Perlu membentuk suatu tujuan, visi dan misi yang akan dibangun dalam suatu hubungan (rumah tangga). Hal ini perlu sekali dirumuskan oelh kedua pasangan agar dalam menjalani hubungan yang lebih lanjut mempunyai pedoman dan arah serta tujuan yang jelas. Namun kiranya penyusunan tersebut jangan terlalu dipaksakan dan jangan terlalu kaku misalnya harus begini maka ya mau-tidak mau harus. Dalam perjalanan hubungan rumah tangga nantinya dilihat perkembangan situasi dan kondisi lingkungan memungkinkan atau tidak dengan tujuan,visi dan misi yang telah ditetapkan. Kalau memang ditengah jalan harus dirubah demi kebaikan bersama akan lebih baik bila diadakan perubahan. Ibarat pada saat kita akan membangun suatu rumah maka yang pertama kali dilakukan membuat design rumah yang dibangun (eksterior dan interior), kemudian membuat rancangan biaya pembangunan, mengurus IMB dan seterusnya, sehingga nantinya akan terbentuk sebuah rumah beserta isinya sesuai yang telah direncanakan.
  • Komunikasi antar pasangan. Komunikasi disini dalam arti yang luas dan bisa multi dimensi. Dan masing-masing pasangan harus pintar-pintar menggunakan media komunikasi dan bahasa komunikasi yang akan digunakan , disesuaikan dengan kondisi, karakter pasangannya. Misalnya untuk membicarakan permasalahan yang berat sebaiknya dilakukan dengan duduk bersama, mencari waktu bersama, bicara sambil menatap muka pasangannya sehingga bisa melihat perubahan dari mimik muka, bahasa dari pasangan kita sehingga bisa mengeliminir pertengkaran yang bisa ditimbulkan.
Hambatan dari sekitar
Hambatan dari orangtua. Seperti sudah menjadi rahasia umumnya orangtua biasanya pada saat-saat awal anaknya menikah atau berumah tangga biasanya masih suka ikut campur dengan permasalahan yang ada dalam keluarga, dan bila mempunyai cucu maka orangtua sebagai kakeknya jusa seringkali tidak rela apabika cucunya dimarahi. Sebenarnya mereka ingin menunjukan rasa kasih sayangnya terhadap anak dan cucunya nanum mungkin caranya yang tidak tepat dan tidak sesuai dengan yang dikehendaki oleh kedua pasangan. Mungkin dalam dal ini bisa belajar dari pelajaran filsafat "Cinta Kasih" dari "Cersil Kho Ping Hoo" dibawah ini
  • Ada yang bertanya bahwa kalau kita bebas daripada ikatan dengan keluarga, bukankah itu berarti bahwa kita tidak mencinta keluarga kita lagi? Sama sekali bukan demikian.
  • Cinta kasih sama sekali bukanlah ikatan! Kalau kita mencinta anak kita, benar-benar mencin­tanya, hal itu bukan berarti bahwa kita harus terikat dengan anak kita itu. Yang ada hanya bahwa kita ingin melihat anak kita berbahagia hidupnya! Sebaliknya, ikatan menimbulkan keinginan untuk me­nyenangkan diri sendiri, karena memang ikatan diciptakan oleh si aku yang ingin senang tadi.
  • Cinta yang mengandung ikatan bukanlah cinta kasih namanya, melainkan keinginan untuk memuaskan dan menyenangkan diri sendiri.
  • Cinta yang mengikat kepada anak menimbulkan keinginan untuk menguasai anak itu, untuk memperoleh kesenangan batin me­lalui si anak, dan terasa berat kalau berpisah, karena si aku merasa dipisah­kan dengan sumber yang menyenangkan diri. Tidakkah demikian?
  • Demikian pula dengan isteri atau suami atau keluarga atau benda, atau juga gagasan. Semua itu hanya merupakan alat untuk menye­nangkan diri sendiri dan karenanya me­nimbulkan ikatan.
  • Cinta kasih baru ada kalau tidak terdapat keinginan untuk menyenangkan diri sendiri. Dan tanpa adanya cinta kasih, tidak mungkin ada kebaikan atau kebajikan, karena tanpa adanya cinta kasih, segala yang nampak baik itu adalah semu, berpamrih, dan segala macam pamrih itu sumbernya adalah pada si aku yang ingin senang
Orang tua dalam hal ini cukup "Tut Wuri Handayani", baru setelah memang benar-benar jalan yang ditempuh baru diberi nasehat yang berguna bagi kedua pasangan.

Hambatan dari lingkungan sekitar, tergantung seberapa kuat pondasi yang dibangun dari kedua pasangan apabila pondasi yang dibangun kokoh dan kuat maka sekuat apapun godaan di lingkungan niscaya akan terlewati. Memang rumput tetangga lebih indah daripada halaman sendiri,karena seringkali kita kurang mensyukuri nikmat yang telah diberikan yang Kuasa.

Akan lebih bagus lagi apabila disamping agama/kepercayaan yang masing-masing dianut, belajar pula tentang konsep "asta brata " atau "hasta brata" yang sangat mungkin diterapkan dalam kehidupan berkeluarga. Sehingga tercipta suatu hitungan yang kelihatannya susah yakni "1 + 1 =1" apabila kita mengetahui hakikat suatu perkawinan dan mau belajar mendalaminya. Sebagai keluarga hendaknya mau belajar untuk terus mengembangkan ikatan yang telah dijalani sehingga tercipta suatu ikatan yang lebih kuat. Pembelajaran hidup ini mudah-mudahan bermanfaat bagai yang hendak menempuh suatu ikatan maupun yang sudah menikah.


Didicated to "Dewa (Keshav) , Arjun or Sophie"



Jumat, 01 Mei 2009

Salah


Renungan hidup ini bersumber pada pengalaman hidupku maupun semua orang yang mungkin pernah mengalaminya. Apabila kita suatu ketika mengalami suatu kecelakaan , apakah yang pertama kali terlintas di pikiran, akal kita?. Secara alamiah spontan pasti akan timbul amarah dalam diri kita, kemudian akan menyalahkan yang menjadi lawan kita. Pasti kita akan mengumpat-umpat lawan kita, dan merasa diri paling benar. Begitu juga sebaliknya lawan kita akan berbuat begitu juga, merasa paling benar, mungkin ikut memaki atau mengumpat-umpat kita juga. Sehingga seringkali terjadi baku hantam yang seharusnya tidak perlu terjadi.


Jarang sekali kita mau menerima, mengingat-ingat lagi sebenarnya bagaimana posisi kita waktu kita mengemudikan mobil/ motor, sudahkah kita mengemudikan dengan benar dan sesuai antara kecepatan dan kondisi jalan yang dilalui?. Ataupun dalam menyeberang jalan, sudahkah kita melihat dengan benar kekanan-kiri sebelum menyeberang?? misalnya seringkali kita menyeberang sambil menelpon sehingga konsentrasi kita buyar.


Dari kejadian diatas sebenarnya ada beberapa hal yang dapat diambil sebagai pembelajaran hidup. Pelajaran hidup yang bias diambil Maukah kita melihat dan mengakui kesalahan kita sendiri, sampai yang terkecil sekalipun dan meminta maaf apabila kita memang salah, walaupun itu kan membuat harga diri kita jatuh, memalukan, dan mendapatkan sumpah-serapah dari orang lain, teman-teman taupun lingkungan sekitar kita. Maukah kita menerima dan memaafkan kesalahan orang lain, walaupun itu sangat menyakitkan bagi kita, telah membuat kita jatuh, malu, terhina karena perbuatannya. Maukan kita berusaha untuk menjadi orang yang lebih sabar yang tidak menuruti “Aku” yang selalu kita agung-agungkan. Maukah kita berusaha untuk menjadi manusia yang lebih “MANUSIA”.


Banyak sekali permasalah yang seringkali kita hadapi, namun apabila kita belajar dari permasalah yang ada niscaya akan tercipta kehidupan yang lebih baik.



Dedicated to “Keshav (Dewa)”, “Arjun or Sophie”


Selasa, 14 April 2009

Jadilah Terang



Sekelumit kisah ini diilhami waktu aku mendengarkan “homili” atau kotbah dari romoku waktu kuikuti misa minggu

Ceritanya pada suatu malam ditengah keceriaan sebuah keluarga , digambarkan si bapak sedang “leyeh-leyeh” membaca koran sambil ngemil gorengan, si ibu sedang asik melihat reality show “termehek-mehek”, si pembantu tau sedang ngapain, anak-anak sedang main game.. Mendadak listrik padam sehingga gelap gulita. Reaksi yang ada “si bapak ngomel-ngomel”, “si ibu ngomel-ngomel juga”, “anak-anak juga”, “mungkin si pembantu kalau berani juga ikutan ngomel-ngomel”, sehingga di dalam gelap suasana menjadi semakin kacau, semakin panas, saling menyalahkan satu dengan yang lain

Mungkin begitu juga yang kita lakukan bila mengalami hal seperti itu, pasti akan mengumpat-umpat, mencari-cari kesalahan yang lain. Padahal langkah lebih baiknya apabila kita pribadi melakukan sesuatu yang konkret seperti mencari lilin kemudian menyalakan lilin sehingga suasana menjadi terang, atau kalau tidak menyiapkan alat penerangan seperti “senter” lilin di tempat yang sudah tetap sehingga apabila mati lampu tidak perlu kebingungan lagi, tinggal mengambil di tempat yang disediakan dan menyalakannya..Namun hal hal seperti itu seringkali tidak terpikirkan, yang ada hanya sikap mencari kesalahan orang lain. “Pokoke” kamu yang salah, kadang aku juga sering tersenyum sendiri karena aku juga sering juga berlaku seperti itu.


Belajar filosofi dari sebuah lilin, “lilin baru bisa menerangi di kala gelap apabila sudah dinyalakan dan ada bagian dari dirinya yang meleleh”. Mungkinkah kita mau menyalakan ‘lilin-lilin’ di dalam diri kita sendiri agar bisa membagi terang kepada yang lain, ataukah kita hanya mengharapkan terang darai orang lain???
Maukah kita memberikan sedikit bagian dari diri kita berupa harapan, cita-cita, ide-ide bagi orang lain, melumerkan diri kita agar orang lain merasakan “terang”. Apabila semuanya melakukannya niscara akan tercipta lilin-lilin kecil yang akhirnya akan membentuk lilin yang besar yang akan menerangi semuanya..

Semuanya ini bukan acara kampanye, namun kiranya suadah saatnya untuk merubah “mindset” yang ada dalam diri kita bukan terang yang kubutuhkan namun sudah adakah terang yang kuberikan bagi yang lain

“Jadilah terang bukan ditempat yang terang, jadilah harapan bukan hanya berharap”

By. Kham
Dedicated to "Dewa(Keshav)", "Arjun or Sophie"