Tampilkan postingan dengan label Cerita Dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Dongeng. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 November 2009

Terbaik, Ter Kudus, dan Nomor Satu

Disebuah daerah pegunungan terdapat sebuah Biara yang menjadi tempat rohaniawan bertempat tinggal dan berkarya dalam panggilan hidup yang mereka jalani. Suasana  di biara tersebut sangat asri dan alami. Di pekarangan Biara tumbuh beraneka jenis tanaman dan satwa yang semakin menambah keasriannya. Suatu ketika terjadi sebuah perbincangan yang menarik antara tanaman anggur dan rumput kolonjono yang tumbuh di sekitar biara tersebut.
"Kawan, menurutmu aku ini bagaimana?" tanya tanaman Anggur kepada rumput.


"Bagaimana apanya, aku tidak paham dengan maksudmu?" jawab rumput


"Begini lho kawan, sebenarnya kita ini sebagai tanaman siapa diantara kita yang bisa disebut sebagai tanaman yang nomor satu, tanaman yang mampu menghasilkan bibit terbaik?" kata anggur
"Diriku, dirimu atau yang lain. Kalau menurutku mungkin aku ini bisa masuk ke kelompok itu. Kelompok nomor satu. Bagaimana tidak kawan, engkau pasti juga tahu sendiri anggur yang kuhasilkan ini merupakan anggur yang paling enak, paling baik kualitasnya. Anggurku juga oleh para biarawan digunakan sebagai sarana perjamuan agung yang biasa mereka lakukan. Sebuah perjamuan kudus, sehingga aku pun tentu saja menjadi buah dan tanaman yang kudus yang nantinya mampu memberikan bibit yang terbaik daripada yang lain." kata sang Anggur dengan bangganya


"Bagaimana kawan, benar kan Aku ini Kudus, lebih baik dari yang lainnya?" tanya Anggur kepada rumput


"Aku bingung kawan mau menjawab pertanyaanmu karena ku sendiri tidak mengetahui kriteria bisa disebut Kudus, Nomor satu, Terbaik, Terbenar. Jadi maaf kawan aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu." kata rumput. "Namun aku sendiri sadar kalau aku sebagai rumput mungkin hanya seperti inilah diriku. Aku hanya  akan berusaha menyerap semua intisari makanan yang ada dalam tanah dan kemudian aku olah sehingga  diriku bisa tumbuh dengan subur, bisa menjadi makanan yang sehat bagi ternak sapi yang ada disini sehingga mampu menghasilkan susu yang banyak dan berkualitas."


"Aku juga sadar kawan, kalau aku juga bisa tanaman yang mampu membunuhmu. Coba kalau aku tumbuh berdekatan dengan dirimu, smakin lama aku akan mengurung dan melilitmu hingga engkaupun akan mati karena kehabisan sari makanan. Kalaupun bisa tumbuh tentu buah yang kauhasilkan tidak sebaik yang sekarang. Sama seperti buah yang kauhasilkan, memang benar anggur yang kauhasilkan digunakan perjamuan agung, tapi tentu engkau juga tahu kalau ada sebagian orang menggunakan buahmu kemudian mereka olah hingga digunakan sebagai sarana untuk mabuk-mabukan." kata rumput sambil tersenyum.


"Aku hanya terus berusaha memberikan yang terbaik dari diriku, memberikan bagian tubuhku yang terbaik untuk ternak yang akan memakanku. Semoga aku bisa menghasilkan buah yang terbaik yang berguna bagi sesama makhluk. Semoga diriku bisa memberikan harapan yang terbaik bagi sesama makhluk. Kiranya hanya itu saja yang bisa kujawab kawanku, dan bisa menjadi bahan permenungan buatmu dan tidak memikirkan lagi buah ataupun bibit yang terbaik, ter Kudus dan nomor satu."





Senin, 09 November 2009

Kemana dan dimana harus mencari


Seekor kura-kura keluar dari cangkang yang selama ini membungkus dirinya, masih berselaput sisa-sisa cairan yang selama ini menjadi sumber hidupnya. Walaupun masih lemah, terus dia usahakan membuka matanya mempelajari keadaan sekitarnya.
Dilihatnya segenap makhluk yang ada disekitarnya, diamati, dipelajari semuanya sambil terus melanjutkan hidupnya. Ada rasa kekaguman, keheranan, iri hati, kekecewaan, sesal dan rasa lainnya .Seiring dengan perkembangan tubuhnya, semakin lama semakin banyak pertanyaan-pertanyaan yang terus berkecamuk di dirinya.

Mengapa diriku terlahir sebagai kura-kura?
Mengapa bukan sebagai hewan yang lain atau makhluk lainnya?
Coba aku bisa seperti kijang yang bisa cepat berlari
Coba aku bisa seperti singa yang gagah dan tegap badannya
Sementara diriku
Apa yang bisa membagakan dari kaki-kakiku yang kecil?
Apa yang bisa kubanggakan dari mukaku ini?
Apa yang bisa kubanggakan dari tempurungku ini?
Mengapa kalian sering menghina dan mencemoohku?
Mengapa kalian tidak pernah memperhatiakn diriku?
Adilkah Engkau ?
Dimanakah adanya Keadilan?
Dimanakah adanya Kebenaran?
Dimanakah adanya Kedamaian?

Semakin lama, semakin banyak pertanyaan yang semakin membuat dirinya bingung dan merasa kecewa. Dicarinya tempat dan makhluk lainnya yang bisa memberikan dan memecahkan pertanyaan-pertanyaan yang ada di dirinya. Tidak ada jawaban yang mampu memuaskan dirinya, padahal sudah terasa lelah dia melakukan perjalanan. Hingga akhirnya sang kura-kura dengan duduk termenung dia merenungi nasibnya. Tak dihiraukan keadaan sekelilingnya, sampai pada suatu ketika dilihatnya seekor kijang yang tengah berusaha menyelamatkan dirinya dari terkaman singa namun tidak berhasil dan dimakan oleh sang singa. Saking terkejutnya membuat sang singa terganggu dan berusaha memakannya. Karena takutnya kura-kura menarik segenap anggota tubuhnya kedalam tempurungnya sehingga singa tidak berhasil memakannya dan setelah selesai menyantap sang kijang diapun pergi.

Seketika kura-kura tersadar, sebuah pencerahan dialaminya. Apa yang selama ini menjadi pertanyaan dan beban dirinya sirna sudah. Rasa puji syukur dia panjatkan. Betapa selama ini dirinya disilaukan oleh keadaan sekitar sehingga tidak melihat hati dan pikiranya. Mempelajari hatinya sebagai sebuah buku yang tidak habisnya untuk dipelajari. Mempelajari pikiran nya sendiri, melihat dan mengamatinya. Pikiran yang selama ini membuat dirinya terombang ambing. Betapa selama ini ini yang dia cari-cari ternyata berada dalam dirinya sendiri. Sebuah pencerahan yang akhirnya membuat kura-kura semakin mantap melangkah sambil terus berusaha tersadar dalam segenap gerak hidupnya. Kebenaran dan kedamaian yang selama ini dicarinya telah ditemukannya. Jejak langkah kura-kura dalam menapaki hidup.

Ketika pikiran terang, Anda akan dapat melihat kotoran batin dengan jelas dan juga membersihkannya. 
Kedamaian ada pada diri sendiri, ditemukan di tempat yang sama dengan kesulitan dan penderitaan
Ketika Adnda merasakan penderitaan, Anda juga dapat menemukan kebebasan dari penderitaan
Mencoba lari dari penderitaan sebenarnya justru berlari menuju penderitaan.
(dikutip dari Tidak Ada ~ Ajahn Chah)








Kamis, 29 Oktober 2009

Bird Song

A little bird singing a love song that her mother taught. That little bird somehow sings it over and over . She files very high try to find the place she first learnt to fly. She files so very high she wants to seek an answer from the sky. On a misty mountain over the clear water river, but there's no misty mountain let alone a clear water river. And she just wants to go home. She just wants to be at home on a misty mountain, but now turned into barren. She just wants to be singing when the sun rise in the morning on a misty mountain but now turned into barren. She doesn't know what happened. All of those trees has been cut down. In the name of humanity The river runs dry, because now clouds refuse to cry. If I could Then I would Try to make us all Care bout her call (Bird Song by Letto)

Disebuah  hutan di lereng Gunung yang suasananya masih asri dan alami, ditumbuhi oleh beraneka ragam pohon, sehingga menjadi habitat yang menyenangkan bagi komunitas burung. Bermacam-macam jenis burung berada disitu. Tentu saja masing-masing jenis burung mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, ada yang mempunyai bulu yang indah dilihat namun tidak mampu menghasilkan  suara nyanyian yang merdu untuk didengar. Ada yang mempunyai bentuk yang proporsional sehingga kelihatan menawan, namun ada yang mempunyai bentuk yang aneh bahkan menakutkan untuk dilihat.

Pada dasarnya semua burung dapat hidup dengan rukun satu dengan yang lain, namun entah karena prubahan atau karena ego yang semakin dikedepankan suasana yang tadinya ayem tentrem menjadi berubah. Masing-masing burung berusaha mengeluarkan suaranya, sekeras-kerasnya tidak peduli merdu atau tidak. Saling berlomba-lomba menjadi yang terkeras, yang tadinya suaranya merdu menjadi tidak merdu lagi, yang tadinya suaranya serak-serak becek makin tambah becek, yang suaranya sumbang menjadi lebih hancur lagi suaranya. Suasana menjadi sedemikian gaduh, menjadi tidak enak dan sudah mengganggu.


Hingga akhirnya membangunkan tidur darès atau manuk darès atau manguni atau Si Burung Hantu. Burung yang diberikan anugrah dengan kedua mata besar yang menghadap ke depan dan memiliki 100 kali lebih dari kepekaan mata manusia. Juga dianugerahi pendengaran yang tajam serta bulu-bulu yang halus sehingga saat dia terbang malam tidak mengeluarkan suara berisik. Sang burung yang dibalik wajahnya yang seram, suara yang tidak merdu namun melambangkan kebijakan didalamnya. Dengan mata yang agak merem-melek, maklum agak silau dengan cahaya matahari dia pun memulai berkata didepan burung-burung lain yang sedang asyik berteriak-teriak

"Wahai kawan, coba diam dulu barang sebetar", suara burung hantu agak meninggi, membuat semua burung terdiam. Maklum dia disegani dan dihormati di komunitas tersebut.

"Cobalah diam sejenak, lihat sekeliling kalian masing-masing. Apa yang telah kalian lakukan sekarang ini? Apa manfaatnya kalian berteriak-teriak sekeras-kerasnya, merdukah suara kalian dengan teriak kayak gitu? Hanya kegaduhan dan kekacauan yang kalian hailkan, tanpa adanya manfaat bagi kalian sendiri maupun lingkungan sekitar kalian. Kalian masing-masing telah diberikan anugrah masing-masing dengan kelebihan dan kekurangan masing. Lihatlah diriku, gantengkah diriku? Merdukah suaraku? Tidak kataku." kata Sang burung Hantu yang membuat burung-burung lainnya termenung

"Tapi aku bersyukur karena aku diberikan kelebihan diluar itu, kusyukuri saja dan kukembangkan saja kelebihanku. Cobalah kalian kalau ingin menciptakan ketentraman dan kedamaian, mulai belajar bernyanyi. Yang suaranya merdu berusaha mengimbangi yang suaranya tidak merdu, yang punya suara tidak merdu juga tidak usah takut untuk bersuara. Saling bagi tugas, saling mengisi satu dengan lainnya, pasti akan tercipta sebuah nyanyian yang penuh dengan keharmonian dan membawa kedamaian, ketenangan bagi yang menikmatinya." kata sang burung hantu. Kemudian diapun asyik memejamkan matanya, sementara burung-burung yang lain terdiam sesat, merenungkan dan meresapi serta mencoba untuk mempraktekkannya. Tanpa mengenal lelah mereka berlatih hingga akhirnya terciptalah sebuah nyanyian burung yang mampu membuat yang mendengarnya terpesona dan terhanyut dalam kedamaian dan ketenangan yang luar biasa.

Seringkali kitapun terjebak dalam suasana seperti itu, segala keegoan, KeAkuan, Kesombongan diri kita muncul. Merasa diri paling hebat, paling benar, paling berkuasa dan paling sebagainya. Merasa bahwa dialah Dewa Penyelamat yang selama ini dinantikan dan tidak ada yang lebih baik dari dirinya. Tak jarang terjebak intrik-intrik untuk saling menjatuhkan satu sama lain, agar kelihatan lebih hebat dari yang lainnya. Seakan-akan nilai-nilai budaya luhur negeri yang sudah ada sejak dulu seperti kerukunan (guyup rukun), kegotongroyongan, tepa seliro, masih banyak budaya luhur yang seakan terlupakan. Masing-masing juga seakan terjebak dengan upaya pemenuhan akan hak-hak mereka yang lebih dahulu diminta tanpa menyelesaikan kewajiban yang ada dipundaknya. Terjebak dalam budaya Meminta, Budaya KeEgoan, KeAkuan yang sangat kental.

Padahal jika direnungkan masing-masing telah dianugerahi dengan kelebihan dan kekurangan oleh Dia. Sebuah anugerah yang patut disyukuri dan dipergunakan dengan bijaksana. Jikalau masing-masing bisa menjalankan peran atau lakon yang selama ini dijalaninya dengan tetap memegang teguh nilai-nilai luhur, nilai spriritual, berusaha untuk memberikan yang terbaik dari dirinya bagi sesama, mengedepankan kewajiban dari haknya pasti akan tercipta kehidupan yang lebih baik. Yang diberi anugrah untuk berkuasa, berusaha untuk menjadi seorang gembala sejati yang terus memberikan Kasihnya bagi rakyatnya. Rakyatnya pun berusaha untuk tetap memberikan Kasihnya bagi Gembalanya. Niscaya tidak ada lagi yang merasa berkekurangan dan berkelebihan, tidak ada lagi yang merasa hebat dan lemah, tidak ada yang pintar dan bodoh, semuanya sama. Seperti komunitas burung, dengan selalu memberikan kasih, harapan dan terang bagi sesama pasti akan tercipta nyanyian kehidupan yang penuh dengan kedamaian dan ketentraman.





Selasa, 27 Oktober 2009

Perlukah berubah dan bagaimana menyingkapi perubahan?



Disuatu tempat dan disuatu masa terdapat sekelompok lebah dengan dipimpin seekor ratu lebah yang cantik dalam keadaan yang aman tenteram, serba berkecukupan dan berada dalam lingkungan alam yang begitu bersahabat dengan mereka. Ada yang menarik dalam komunitas tersebut dimana mereka hanya mencari nectar dari satu jenis bunga pohon tertentu saja, padahal dilingkungan tersebut dipenuhi oleh beraneka ragam tanaman dan beraneka ragam bunga namun mereka tidak mau mengambilnya, tetap saja mereka menghisap nectar dari jenis tertentu tersebut. Mereka beraggapan bahwa nectar dari pohon tersebut adalah yang terbaik, nomor satu, tanpa pernah sekalipun berusaha untuk mempelajari dan merasakan jenis lainnya. Seringkali pohon tersebut mereka anggap sebagai dewa penyelamat bagi mereka dan mereka keramatkan . Turun temurun kejadian tersebut berlangsung, tidak ada yang berubah, semuanya berada dalam kondisi yang membuat mereka terlena , dinina bobokan oleh keadaan, hingga mereka tidak sadar akan kelebihan alam yang sama sekali belum mereka olah untuk kesejahteraan mereka. Hingga akhirnya karena suatu bencana alam semua diporak porandakan, pohon yang selama ini mereka dewa-dewakan musnah sudah. Mereka yang selama ini terlena oleh keadaan menjadi kebingungan, menjadi serba salah, saling menyalahkan satu dengan lainnya. Mereka tidak siap menghadapi perubahan keadaan yang ada, sibuk meratapi nasib yang mereka alami.

Tidak jauh dari komunitas tersebut terdapat juga komunitas lebah yang dipimpin seekor ratu lebah yang cacat secara fisik, namun sang ratu dengan bijaknya memimpin warganya. Walaupun daerah dimana mereka berada tidak kaya pohon maupun bunga yang bisa dihisap nectarnya, namun warganya disadarkan untuk menerima kekayaan alam yang ada dengan penuh syukur, dinikmati, dan diolah sebaik mungkin sambil terus menemukan sumber daya alam baru atau menemukan cara-cara inovasi terbaru. Tatkala merekapun menerima bencana alam maka mereka lebih siap menghadapinya, dengan cepatnya mereka bangun. Tegak berdiri kembali, dengan sisa-sisa tenaga dan sumber daya yang ada. Seolah-olah tidak ada kejadian yang menimpa mereka, hadapi saat ini dan masa depan dengan penuh semangat.

Seringkali dalam hidup kita menghadapi berbagai perubahan yang ada. Baik perubahan diri pribadi sendiri maupun lingkungan sekitar kita. Tidak ada yang tetap. Seringkali kita juga terjebak dalam kondisi kemapapan yang kita alami, terlena, sehingga tidak siap untuk menerima perubahan yang ada. Dalam bukunya Managing Change at Work, Scott & Jaffe menjelaskan tahapan respon terhadap perubahan yang dialami oleh individu, sebagai berikut:
Menyangkal/Denial 
Pada tahap ini, individu berusaha menyangkal atau menolak informasi, dengan cara melindungi diri dengan bersikap acuh, meremehkan, meminimalisir dampak perubahan terhadap diri kita sendiri, seakan-akan perubahan ini hanya bersifat sementara. Penyangkalan ini merupakan suatu reaksi terhadap kondisi-kondisi eksternal lingkungan yang berubah. 
Bertahan/Resistance 
Tahap berikutnya adalah bertahan untuk tidak berubah. Kondisi ini muncul sebagai suatu reaksi yang datang dari dalam/internal individu itu sendiri (perasaan). Biasanya muncul dalam bentuk anakronisme (kebiasaan masa lalu), menyalahkan orang lain atau berpura-pura seakan perubahan itu tidak terjadi.
Mencari Tahu/Exploration
Tahap ini merupakan awal dari suatu tahap penyesuaian diri. Pada tahap ini individu mulai menyadari bahwa perubahan tidak dapat dihindari dan mulai mencari tahu atau melakukan eksplorasi tentang kemungkinan-kemungkinan atau cara-cara baru dalam melakukan sesuatu.
Komitmen/Commitment
Individu pada tahap ini sudah berhasil menyesuaikan dirinya terhadap perubahan yang terjadi dan berkomitmen mendukung perubahan itu sendiri. Individu tersebut memiliki fokus perhatian pada bagaimana caranya membuat sistem tetap berjalan dan meningkatkan cara kerja sistem itu. Pada tahap ini individu terus mencari kesempatan dan peluang untuk berkembang dan beradaptasi lebih jauh lagi.

Cerita lebah diatas dan teori diatas sebagai gambaran akan pribadi kita masing-masing dalam menghadapi perubahan yang selalu ada di depan mata dan di diri kita. Ditahapan mana kita dalam menyingkapi perubahan? Perlukah berubah dan bagaimana menyingkapi perubahan ? Hanya diri kita masing-masing. yang mengetahui. Selalu eling dan waspada mungkin ini sikap yang seringkali kita dengar. Semoga kita semua bisa menerima dan menghadapi perubahan dengan lebih bijak, lebih dewasa, kita terima semuanya dalam porsi yang sama. Selama kita masih bisa bernapas tidak akan pernah kita lewatkan perubahan yang ada. 













Minggu, 27 September 2009

Catatan Seekor Kucing

Ketika kulihat seekor kucing yang sedang asyik bercermin di depanku, aku merasa geli dan sedikit terlintas di pikiranku sesuatu hal yang selama ini seringkali kudengar dari teman-temanku. Kata-kata yang seringkali terucap apabila mendengar seuatu yang tidak disetujui mengani dirinya semisal "Aku ini anak Setu Paing, jadi ya beginilah diriku watakku. Aku tidak bisa untuk menjadi seperti itu. Pokoknya ya kayak gini, itulah diriku" kata temenku sambil agak ngotot atau "Aku ini Shio Macan, watakku keras tidak mau diatur, jadi jangan ngatur diriku ya," kata temenku lainnya. Masih banyak kata-kata lainnya dengan alasan-alasan seperti itu dari mulai hari lahir, shio, mangsa sampai dengan alasan lainnya yang seolah-olah bisa menjadi alasan mereka dan juga terkadang diriku seringkali terlena hal-hal seperti itu.

Menipu orang lain dengan berbagai alasan diatas memang seringkali mudah, namun apakah memang benar hal itu bisa menjadi alasan yang menjadikan diri kita benar? Apakah hal itu bukan merupakan sesuatu bagian dimana kita juga berusaha menipu diri sendiri? Apakah selamanya cara-cara seperti itu akan digunakan kawanku? Segala macam atribut yang seringkali digunakan sebagai alasan akan lebih bijak bila dianggap sebagai sebuah "parameter " yang bisa digunakan untuk mengenal diri kita, membantu dalam bercermin. Semakin kita mengenal dan memahami parameter yang ada dan semakin kita mengenal diri kita maka seharusnya kita semakin paham akan profil diri kita. Profil diri yang pasti memilki sisi positif dan negatif yang masing-masing orang berbeda-beda. Tinggal kemauan dan kesadaran dari masing-masing orang, apakah akan menambah sisi positif yaang dimilikinya dengan terus belajar dan meng upgrade dirinya ataukah akan terus menambah sisi negatif dengan terus menjadikan segala hal yang semula merupakan parameter untuk menjadikan pembenaran dirinya. Dibutuhkan keberanian untuk berdamai dan menerima dengan ikhlas profil diri yang sebenarnya. Sebuah profil diri yang benar-benar mencerminkan diri kita sendiri, dan tidak berusaha untuk mencontek ataupun menjadi profil orang lain.

Semoga dengan adanya keberanian, kemauan, kesabaran, keikhlasan diri kita masing-masing dapat membuat profil diri yang sejati dan dapat menjadi seorang manusia dengan cara-cara yang lebih manusia.







Rabu, 23 September 2009

Kura-kura dan Gembala

Sekali waktu pernah kuperhatikan reptil yang ada di rumah, binatang kura-kura atau kuya-kuya (kata anakku yang masih belajar ngomong). Dengan tenangnya dia berenang-renang di kolam sambil mencari makanan yang ada. Tatkala ada sedikit yang mengejutkan dirinya maka akan ditariknya kepalanya kedalam tempurungnya, terkadang kaki-kakinya ditariknya pula. Betapa tenangnya dirinya berada dalam tempurungnya, karena dia yakin akan kekuatan yang ada dalam dirinya. Dengan kesadaran pula kita dapat belajar untuk seperti kura-kura berusaha untuk menarik dan menguasai segenap panca indra yang ada di diri kita, tangan, kaki, mata, mulut, telinga, hidung dan segenap yang ada yang dalam badan kita. Kita kenali semuanya, pikiran kita pun kita pelajari hingga akhirnya kita dapat belajar menyelami betapa liarnya pikiran kita. Dengan kesadaran untuk belajar menyelami pikiran kita dan belajar menguasai segenap indra kita, mudah-mudahan akan semakin membangkitkan kesadaran hidup dan pengendalian diri serta kitapun semakin bijak dalam menjalani hidup.

Begitu juga dengan seorang gembala itik, sungguh tidak mudah untuk menggembalakan sekawanan itik terkadang ada satu atau dua ekor itik yang susah untuk diaturnya. Dengan sabarnya dia menggembalakan itiknya, dan kalaupun ada satu-dua yang melenceng jalannya dan hilang maka dia akan berusaha untuk meluruskan dan mencarinya dan mengarahkan hingga semuanya sampai ketujuan. Kalaupun ada satu yang sakit diapun akan mengobatinya hingga sembuh. Seperti seorang gembala kitapun juga bisa belajar untuk menggembalakan segenap panca indra kita dan pikiran kita. Terkadang perut ingin makanan namun mulut rasanya malas untuk mengunyahnya. Terkadang ingin main namun kaki terasa berat untuk melangkah. Menggembalakan segenap indra dan pikiran kita dibutuhkan sebuah kesadaran dan kesabaran serta kemauan untuk terus belajar. Mencoba belajar untuk menggembalakan segenap ego dan ke-Aku-an yang ada dalam diri kita dibutuhkan keberanian. Belajar untuk melayani dengan ketulusan sungguh mengagumkan. Minimal belajar untuk menjadi seorang gembala bagi diri kita dahulu. Kemudian bisa diperluas menjadi gembala bagi keluarga dan lingkungan sekitar kita, apabila kita sadar kalau kita mampu menjadi seorang gembala yang sejati.

Sebuah cacatan perjalanan mencari kesadaran dari seekor kura-kura dan seorang penggembala itik

Kamis, 03 September 2009

Ayam Dan Pasangan Jiwa


Kadangkala aku bertanya dimana cinta berada, tersembunyi tiada kunjung menghampiri. Dua angsa memadu rindu di danau biru bercumbu, pagut sepi ku di sini letih hati. Begitu jauh waktu ku tempuh sendiri mengayuh biduk kecil, hampa berlayar akankah berlabuh ? hanya diam menjawab kerisauan. Kadangkala aku berkhayal seorang di ujung sana juga tengah menanti tiba saatnya . Begitu ingin berbagi batin mengarungi hari yang berwarna dimana dia pasangan jiwaku ? ku mengejar bayangan kian menghilang penuh berharap (Pasangan Jiwa by Katon Bagaskara)

Ditengah pekarangan rumah terlihat seekor burung merpati jantan dan sahabatnya seekor ayam jantan bangkok sedang asik mengobrol. Keduanya merupakan dua orang sahabat yang saling mengerti satu sama lain, terkadang keduanya memecahkan masalah pribadi masing-masing berdua terutama sekali si ayam selalu punya masalah. Dan saat ini dia sedang ada masalah tentang pasangan jiwanya.

"Gimana ya kawan, dimana harus kutemukan ayam betina yang bisa menjadi pasangan jiwaku?" tanya ayam
"Lha bukannya banyak ayam disini, mau jenis yang mana. Tinggal dipilih saja lalu kawin seperti biasanya kamu lakukan, gitu aja kok repot." jawab merpati
"Bosan kawan, mosok kawin, putus, kawin gitu terus." jawab ayam, kemudian dia menceritakan pengalaman kawinnya.

Kawin pertama dengan ayam arab (ayam yang warnanya blirik), mula mula di tertarik dengan bodynya yang menarik, bikin kesengsem. Namun ternyata setelah kawin suka ngatur dirinya sehingga ditinggalkannya. Kawin kedua ditemukannya ayam trondol (ayam yang bulunya sedikit), kembali lagi dia terjebak dengan nafsunya kemolekan dan balutan pakaian mini yang membalut tubuhnya membuatnya tertarik, namun ternyata dia cuma diporotin hartanya dan akhirnya putus di tengah jalan. Kawin ketiga dia kecantol dengan ayam cemani, ternyata dibalik kulitnya yang hitam manis tersembunyi sosok yang mau menang sendiri, susah diatur dan belum bisa diajak untuk hidup berumah tangga. Rasa cemburu selalu menghantui hubungannya, tiada rasa saling percaya, saling curiga hingga akhirnya putus juga. Kawin keempat dicarinya ayam mutiara yang dari segi body menarik terlihat santun, manutan, tidak aneh aneh namun ternyata suka selingkuh sehingga dia tidak kuat dan ditinggalkannya. Begitu seterusnya dicarinya jenis ayam lainnya semisal ayam hutan merah, ayam hutan hijau, ayam kinantan , ayam sumatra dan sebagainya namun tidak ditemukannya apa yang benar-benar dicarinya. Begitu banyak harapan yang diinginkannya dari pasangannya dari yang penyabar, agamis, santun, lemah lembut, penyayang, pengertian pokoknya segala kebaikan yang diinginkan, sedangkan yang jelek tidak mau diterimanya. Sampai dengan orientasi sex yang dia inginkan dari kamasutra, treesome dan sebagianya, semua yang diinginkan harus ada dalam diri pasangannya.

Lama si ayam menceritakan kepada kawannya, merpati pun dengan seksama mendengarkan apa yang di ceritakan sobatnya. Hingga akhirnya diapun mengeluarkan pendapatnya

"Begini lho sobat, aku bisa memahami apa yang selama ini kamu cari-cari. Memang hal yang lumrah kalau kamu berusaha mencari ayam yang sesuai dengan kriteria yang kamu inginkan , dengan kesempurnaan yang kamu bayangkan. Namun apakah ada ayam yang 100% sempurna dengan tidak adanya kejelekan yang ada di dalamnya, aku rasa sangat tidak mungkin ditemukan. Kemudian dirimu sendiri apakah juga sesempurna yang seperti kriteriamu, aku rasa juga tidak. Banyak kejelekan yang selama ini melekat didirimu yang mungkin selama ini kamu sadari atau tidak. Sungguh tidak adil apabila kamu menginginkan pasanganmu sesempurna mungkin namun dirimu juga tidak belajar untuk menjadi sempurna. Tidak ada yang bisa sesempurna 100% namun kuyakin tiap makhluk bisa belajar untuk bisa mendaki kesempurnaan. Kebaikan dan kejelekan tetap akan melekat dalam diri tiap makhluk, tinggal kesadaran tiap makhluk untuk menyadari kebaikan dan kejelekan yang ada. Saling menerima kebaikan dan kejelekan, saling melengkapi, saling mengisi dan saling percaya harus ditumbuhkan dalam dirimu dan pasanganmu. Belajarlah untuk selalu berjalan beriringan, sejajar, tiada yang merasa menang atau kalah dalam menempuh hidup. Kalau kamu terjatuh pasanganmu berusaha untuk mengangkat dan menggendongmu, begitu juga sebaliknya. Berusaha untuk menerima, memberi tanpa harus ingin mengubah seperti yang kau mau biarlah seperti apa adanya. Kalau kamu bisa menyadarinya aku yakin akan kau temukan pasangan jiwa yang telah menunggumu.

Kemudian merekapun melanjutkan obrolannya, dan karena sudah sore merpati pamit ke sobatnya untuk kembali kerumahnya bertemu dengan pasangan dan anak-anaknya. Diceritakan kepada pasangannya apa yang barusan dibicarakan dengan sobatnya ayam. Merpati betina hanya tresenyum mendengar cerita pasangannya, dihadiahinya dengan ciuman kanan-kiri dan saling berpelukan.

"Aku sungguh berbahagia akhirnya menemukanmu, sebuah anugrah terindah yang kuterima diberi kesempatan untuk hidup bersama denganmu. Kau mau menerima diriku dengan segala kekurangannya yang melekat didiriku, darimu kubelajar banyak tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup. Saat kuterjatuh kau selalu setia mendapingiku, kau tutupi kelemahanku dengan kelebihanmu. Terkadang ada saatnya aku harus berada di barisan terdepan namun ada kalanya dirimu mengambil alih untuk berada di depan. Selalu bergandengan, sambil sesekali diperlukan sedikit perselisihan dan perbedaan sebagai bumbu agar perjalanan tidak terasa hampa. Kauberikan pelita-pelita kecil sebagai anugrah yang menemani langkah kita berdua." kata sang merpati jantan.

Waktu terus berlalu sejak di hari itu, engkau dan aku menyulam janji, berbagi hidup ini. Meski orang mengira kita 'tak akan lama, tapi ternyata senyuman cinta terus mekar di jiwa. Kau yang s'lalu di sampingku membelai saat tidurku, tempat curahan rasa, satu-satunya kini sampai s'lamanya . Masih tumbuh dan segar wangi kasih menyebar, semakin kuat hasrat melekat cinta kita berdua, menggelora (Mekar di jiwa by Katon Bagaskara)

Dedicated to my wife and two my little Krishna

Selasa, 02 Juni 2009

Belajar kehidupan dari "Precil"

Suatu ketika Prabu Anglingdarma sedang ingin melihat keadaan sebenarnya dari rakyatnya di Malawapati. Karena saktinya dan tidak ingin ketahuan maka ia menggunakan ilmu malih rupo (merubah wujudnya) menjadi seekor burung pipit. Dengan bebasnya ia dapat mengetahui kehidupan rakyatnya, terbuka semua tanpa ada yang bisa ditutup-tutupi. Semua pembicaraan rakyatnya bisa dia ketahui tanpa diketahui oleh rakyatnya. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk beristirahat di sebuah ranting pohon di tepi sebuah sawah. Betapa dia sangat menikmati perjalanannya selama ini, banyak manfaat yang bisa dia ambil. Kehidupan yang sebenarnya dari rakyatnya dapat ia ketahui.

Ditengah-tengah keasyikannya menikmati suasana pedesaan, sayup-sayup dia mendengar pembicaraan yang mengusik telinganya. Kemudian dia terbang mendekati asal suara tersebut. Dengan Aji Gineng yang dimilikinya dia dapat mendengar segala pembicaraan hewan , ternyata sumber suara tersebut berasal dari pembicaraan antara precil (anak katak), ikan cetho (ikan kecil) dan belalang. Asyik sekali pembicaraan mereka , dan mampu mengusik Anglingdarma yang saat itu malih rupa menjadi burung pipit.

"Hai precil, apa yang kauinginkan apabila kau diberi kesempatan Sang Pencipta untuk berreinkarnasi? " kata belalang.


Sang precil diam saja sambil tersenyum.

"Ayo jawab dong, masak mesam-mesem saja. Cepat dong !" kata belalang tidak sabar, maklum dia wataknya ambisius. Apa yang menjadi keinginannya harus tercapai. Semua harus mengikuti kehendaknya. Tidak ada yang lebih hebat dari dirinya. Dialah juaranya.

"Iya nih, masak gitu saja tidak bisa. Jawab dong ! " kata ikan cetho memanaskan suasana. Sudah menjadi sifat dan kebiasannya, suka memperkeruh keadaan. Dia akan ikut siapapun, yang penting dia memperoleh kenikmatan. Tidak ada kawan atau lawan sejati, yang ada hanyalah kenikmatan pribadinya saja.

Precil masih tetap diam seperti semula, cuma tersenyum memandang kedua temannya. Sudah menjadi wataknya, tidak mudah untuk mengutarakan kata hatinya. Dilakukan pemikiran dan pemahaman yang mendalam, terus dicarinya agar mencapai kebenaran yang hakiki.

"O a lah, senyum melulu." gerutu belalang. "Ya sudah, kalau menurutmu bagaimana cetho, apa yang kauinginkan?"

"Kalau aku diberi kesempatan berreinkarnasi maka aku tidak mau menjadi ikan cetho lagi. Sungguh tidak mengenakkan, tidak ada yang bisa dibanggakan. Badan sekecil ini apa manfaatnya, aku tidak suka digangguin sama anak kecil-kecil. Aku tidak mau selalu hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Aku ingin bebas merdeka." sahut cetho dengan semangatnya.

"Cuma begitu saja keinginanmu." kata belalang, seakan menantang.

"Kalau aku yang jelas sudah bosan dengan kehidupanku sekarang ini. Hidup apaan ini menjadi seekor belalang, tiap hari cuma makan daun padi yang tidak enak ini. Belum lagi hidup penuh gangguan dari hewan lain manusia. Sungguh tidak mengenakkan."
Kemudian dengan sombongnya belalang melanjutkan kata-katanya, "Aku ingin menjadi manusia, sungguh enak rasanya kalau aku bisa menjadi manusia. Akan kucari harta yang banyak, kucari kesenangan hidup sepuasnya, isteri yang cantik dan banyak, kekuasaan yang besar. Akan kubalas juga orang-orang yang selama ini suka menyemprotku dengan pestisida, kuhancurkan semuanya yang bisa menghalang-halangi cita-citaku. Dunia ini akan kugenggam dalam kekuasanku, semua makhluk hidup harus tunduk kepadaku. Termasuk engkau cetho, kamu harus ikut apa kataku." Sambil membusungkan dadanya, belalang mengatakan semuanya itu.

"Betul sekali belalang, aku akan ikut semua kata-katamu." sahut cetho. Maklum ingin cari selamat dan ikut mulyo, ikut saja yang penting "bahagia".

Sang Precil
tersenyum melihat kelakuan kedua temuannya, dalam hatinya ia berkata "Kasihan sekali teman-temanku, mereka tidak mengetahui apa yang "sebenarnya" meraka cari selama ini".

"Kenapa senyum-senyum, sudah tau jawabnya? Makanya otaknya dipakai to dasar dodol!" sahut cetho

Sambil tersenyum pula precil berkata, "Aku tidak mau apa-apa lagi kawan-kawan, aku sudah cukup bahagia dan bersyukur dengan kehidupanku selama ini. Akan kujalani hidup ini dengan tersenyum sepahit apapun itu, aku akan berusaha agar aku dapat tumbuh berkembang menjadi seekor katak dan kemudian akan mencari pasangan hidupku guna meneruskan generasiku. Aku sadar aku terlahir sebagai seekor kecebong yang kemudian adan bermetamorfosis menjadi seekor katak. Apa yang terjadi dikehidupanku kuterima dengan penuh syukur, kugunakan waktu yang tersisa agar mampu memberikan manfaat yang sebesar-bessarnya bagi semuanya. Kalau memang suatu waktu aku dimakan ular ataupun manusia, aku bersyukur karena kau sudah memberikan tubuhku kepada mereka agar mereka bisa makan. Karena memang begitulah Siklus hidup yang harus kujalani."
Kemudian precil melanjutkan lagi kata-katanya, "Apakah dengan reinkarnasi atau menjadi makhluk hidup yang lain akan kita peroleh kebahagian yang kita cari. Coba lihat manusia yang sedang duduk di sana, kebetulan ada seorang pedagang yang sedang beristirahat karena capek. tidakkah terlihat murung dia, mungkin saja dia sedang memikirkan anak dan istrinya dirumah. Bagaimana dia memenuhi hidupnya. Mungkin juga dia sekarang sedang dikejar-kejar hutang. Coba lihat juga hidup pemilih sawah ini apakah dengan banyak harta dia bahagia, buktinya dia selalu ribut dengan istri dan anak-anaknya. Apa yang kita lihat baik belum tentu sebaik itu pula keadaanya. Yang bisa dilakukan hanyalah memberikan apa yang terbaik dari diri kita untuk sesama makhluk. Segala yang kita jalani selama ini hanyalah semu belaka, tidak ada yang abadi di dunia ini. Karena "Sang Pencipta" yang berkuasa atas semua ini. Kesenangan, kesusahan, kebahagiaan, keindahan adalah fatamorgana, selama kita tidak terikat terhadap semua itu akan diperoleh kebahagiaan yang sejati.
Belalang dan cetho terdiam seribu kata, tidak disangka-sangka temannya masih kecil itu memiliki cara pandang yang begitu dalam. Pengetahuan hidup yang selama ini tidak terfikirkan oleh mereka. Merakapun tersadar dan terbuka bahwa selama ini mereka belum mengetahui hakeket hidup yang sebenarnya.

Sang Prabu Anglingdarma juga dibuat tertegun mendengar perkataan precil. Sebuah pemahaman konsep hidup yang tidak disangka-sangka. Alangkah baiknya apabila semua rakyatnya mampu memperoleh pemahaman hidup seperti itu, sehingga rakyatnya akan mensyukuri kehidupannya dan berusaha saling memberikan yang terbaik buat sesama. Negara Malawapati akan menjadi negara yang makmur, gemah rimah loh jinawi, tata titi tentrem kertoraharjo.

Kemudian dia terbang kembali ke istana, dan setelah berubah wujud menjadi manusia masih teringat semua yang kata-kata precil. Sungguh pembelajaran hidup yang sangat berharga yang dia terima dari seekor makhluk seperti precil

dedicated to "Dewa", "Ajun or Sophie"

Minggu, 24 Mei 2009

Ultraman Vs Perubahan

Seperti biasa kalau libur kerja, kusempatkan waktu yang ada untuk menemani dan memperhatikan perkembangan anakku "Dewa". Kesenangannya seperti anak laki-laki lainnya senang melihat film "robot" kata anakku, sedangkan yang dimaksud disini adalah film Ultraman Max. Kuperhatikan dia betapa asiknya dia menyaksikan film tersebut, sambil sesekali menirukan gayanya. Tersenyum aku dibuatnya, sambil kuikuti pula jalan ceritanya. Pada episode tersebut diceritakan bagaimana Kaito yang bisa berubah wujud menjadi Ultraman Max tidak terima dengan usaha Dash (Pasukan penjaga keselematan bumi) untuk mempelajari dan menyelidiki kehadiran Ultraman. Dan pada saat adanya serangan dari sebuah monster yang akan mengacaukan bumi, timbul keinginannya untuk membuktikan diri agar semuanya bisa tau bahwa Ultraman adalah seorang pahlawan, hero sejati yang patut dibanggakan. Namun yang terjadi sungguh kebalikannya, Kaito tidak bisa merubah wujudnya menjadi Ultraman dan dirinya celaka. Teman-teman bahkan bosnya tidak menyukai apa yang dilakukannya. Hingga akhirnya diapun sadar bahwa dahulu saat awal bergabung , Ultraman mau bergabung dengan dirinya dan meminjam tubuhnya selama 3 menit untuk menyelamatkan bumi. Diapun sadar bahwa tidaklah pantas menggantungkan diri terlalu banyak terhadap Ultraman, dan tidak pantas untuk menggagung-agungkan dirinya. Masih kulihat tingkah polah anakku, kucari posisi untuk merebahkan tubuhku . Maklum sudah berumur, jadi pinggang harus direbahkan. Leyeh-leyeh kata orang jawa.

Bagian dari film tersebut membuatku sadar dan menertawakan diriku sendiri, betapa seringkali aku juga berbuat seperti Kaito. Berusaha untuk menjadi yang terhebat, merasa diri sok pintar, ingin semuanya mengikuti kata-kataku dan berusaha agar orang lain memandang diriku hebat, seorang Ultraman atau hero. Bahkan mungkin tidak hanya aku, orang lain juga seringkali berbuat begitu pula. Masing-masing berusaha untuk menjadi Ultraman, yang membuat orang lain kagum, mengagung-agungkannya. Seringkali kutemui betapa orang akan berusaha untuk mendapatkan pengakuan sebagai seorang Ultraman/hero dengan mengabaikan lingkungan sekitarnya. Saling sikut, saling hajar , saling menyakiti demi terciptanya sebuah "Ultraman Semu". Apalagi disaat sekarang ini, setiap kali membaca berita di koran dan televisi yang ada hanya sebuah adu argumen antara masing-masing capres-cawapres. Masing-masing dengan jargon-jargon politiknya menyuarakan janji-janji manisnya, saling menyerang satu dengan yang lainnya. Berusaha untuk menjadi Ultraman-ultraman Semu, yang bisa menjadi harapan bagi semua orang.


Sungguh kehidupan yang sangat memilukan, dan menyedihkan. Sudah begitu sakitkah bangsa ini. Benarkah merekalah Ultraman yang akan sanggup membebaskan kita semua dari segala kesusahan, kemiskinan, keterpurukan selama ini. Tersenyum aku dibuatnya, sambil sejenak kuperhatikan lagi tinggah polah Dewa yang menginspirasiku. Betapa polosnya tingkah lakunya, semua dilakukannya tanpa adanya sang "Aku" yang mendominasinya. Perubahan yang mereka iming-imingkan kepada kita semua adalah semu belaka. Sungguh ironis sekali apabila kita mengharapkan adanya perubahan yang ada dalam sekejap. Tidaklah mungkin hanya mengharapkan keberhasilan dari seorang Ultraman untuk menyelesaikan segala permasalahan yang ada. Bahkan seribu Ultraman mungkin tidak akan bisa menyelesaikan permasalahan bangsa ini.

Alangkah akan menjadi lebih baik, apabila kita semua daripaha mengharapkan seorang Ultraman berusaha untuk menjadi Ultraman-ultraman kecil yang dengan sukarela dan siap mengatasi segala permasalahan yang ada. Berusaha untuk mencoba menginventarisir segala permasalahan yang ada di diri kita dahulu dan menyelesaikan permasalahan yang ada di masing-masing pribadi. Bangkit menggunakan dengan menggunakan segala kelebihan dan kekurangan yang ada. Perubahan tidak akan terjadi dengan mudah tanpa adanya perubahan pola pikir kita, mindset kita selama ini harus dirubah. Berusaha untuk merobah diri kita menjadi lebih baik lebih dahulu, sehingga akan mempengaruhi perobahan di sekitar kita. Segala keegoan dan keakuan yang ada di diri kita harus dibuang jauh-jauh, semua yang kita punya merupakan anugrah dan peminjaman dari Sang Pencipta. Niscaya adanya kemauan untuk merobah pola pikir kita maka akan tercipta angin perubahan yang akan membawa nasib kita dan bangsa ini menjadi lebih baik.

Mungkin sedikit postingan ini akan membuat kita tersadar bahwa sebenarnya kitapun bisa menjadi seorang Ultraman Sejati, yang dengan penuh kesadaran dan ketulusan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dan bekerja untuk menghasilkan yang berguna bagi bangsa ini. Gunakanlah kelebihan dan keunggulan kita masing-masing, sebelum semuanya diambil kembali oleh Sang Pencipta.


dedicated to "Dewa (Keshav)" , "Arjun or Sophie"