Selasa, 19 Januari 2010

Saya hanya belajar melukis

Disebuah kelas sedang berkumpul sejumlah orang yang sedang belajar melukis pada seseorang yang mereka anggap sebagai ahlinya dalam bidang melukis. Dari anak-anak sampai usia cukup dewasa ada disitu. Hari itu merupakan hari pertama mereka mengikuti pelajaran melukis. Tidak lama masuk ke dalam ruangan itu seorang kakek yang sudah memutih rambut dan janggutnya, sambil dibantu tongkat dia memasuki ruangan. Hari itu tanpa banyak penjelasan dibagikan masing-masing peserta peralatan  melukis kemudian Sang Guru meninggalkan ruangan tersebut. Hari kedua dan berikutnya sampai dengan hari ketujuh masih seperti itu yang dilakukan oleh Sang Guru.
Di hari ketujuh, sebelum peserta meninggalkan ruangan Sang Guru berdiri di depan semua peserta, ditatapnya satu per satu wajah-wajah peserta dan diberikan senyumnya sebagai penawar bagi semua peserta. Kemudian ditunjuknya salah satu peserta, Bagong namanya untuk maju kedepan.

"Nak Mas Bagong, coba ceritakan kepada teman-teman belajarmu apa yang kau dapatkan selama tujuh hari mengikuti pelajaran melukis ini." kata Sang Guru

Tentu saja Bagong agak terkejut mendengar kata-kata Sang Guru, dikuatkan dirinya untuk berbicara dan kemudian diapun berkata, "Maafkan saya Guru, saya datang ke tempat ini berbekal ketidak tahuan saya untuk melukis dan keinginan untuk belajar. Hari pertama saya masih bingung apa yang harus saya lukis, hanya saya perhatikan peralatan yang saya punyai. Saya lihat teman-teman ada yang suadah asyik melukis, betapa pandainya mereka bisa melukis dengan baik. Saya perhatikan saja, sambil saya bandingkan ternyata dibandingkan peralatan teman-teman, peralatan saya paling jelek. Saya hanya diam , sambil saya goreskan kuas ke kanvas tanpa arah yang jelas. Hari kedua sudah mulai ada gambaran apa yang harus saya lukis, namun kembali lagi ada perbedaan peralatan yang saya terima. Hari kedua sampai dengan ketiga masih seperti itu yang saya alami, selalu ada yang kurang entah itu kuasnya patah, catnya sudah keras, kanvasnya berjamur dan seterusnya. Hingga akhir saya hanya bisa diam, ingin rasanya saya keluar ruangan dan tidak kembali lagi kesini untuk belajar melukis. Namun seperti ada yang membisikkan dan membuat saya tersadar, bukankan saya kesini berawal dari ketidaktahuan dan keinginan untuk belajar. Mengapa saya sekarang harus lari? Mengapa saya harus merasa iri dengan teman sekitar? Mengapa saya selalu ingin yang lebih dari yang saya miliki? Bukankankah ketika kuas saya patah, saya masih memilki jari-jari, siku dan bahkan badan saya ini untuk melukis? Bukankah ketika kanvas saya jelek bukan suatu alasan saya untuk berhenti belajar melukis? Bukankah ini semua sebagai sebuah proses, hingga saya menyadari semua peralatan itu sebagai sebuah sarana untuk berproses? Bukahkah teman-teman juga berproses seperti itu juga? Kenapa sekarang saya harus berhenti, bukahkah sebaik atau sejelek apapun yang saya lukis itulah lukisanku? Haruskah diriku hanya sekedar penikmat dan pencontek lukisan temanku tanpa pernah berproses kedalamnya? Begitu kiranya Guru pelajaran yang saya dapatkan sepanjang hari pertama sampai saat ini. Saya tetap akan belajar melukis dengan media apun, trima kasih Guru atas pelajaran yang diberikan. Kiranya saya tetap saja tidak tahu tentang cara melukis." kata Bagong

Sang Guru hanya tersenyum  sambil mengelus-elus janggutnya, "Kiranya Nak Mas Bagong justru sudah bisa melukis dengan baik. Teruslah berproses, bukan hasil lukisan yang utama namun proses itu sendiri yang utama. Seperti  diri kalian yang selama ini kalian lukis dan batin yang tiada hentinya kalian lukis.Teruslah melukis, mewarnai alam ini sebagaimana kalian melukis. Hingga terwujud lukisan alam semesta yang beraneka warna."

Salam

Tidak ada komentar: