Kamis, 29 Oktober 2009

Bird Song

A little bird singing a love song that her mother taught. That little bird somehow sings it over and over . She files very high try to find the place she first learnt to fly. She files so very high she wants to seek an answer from the sky. On a misty mountain over the clear water river, but there's no misty mountain let alone a clear water river. And she just wants to go home. She just wants to be at home on a misty mountain, but now turned into barren. She just wants to be singing when the sun rise in the morning on a misty mountain but now turned into barren. She doesn't know what happened. All of those trees has been cut down. In the name of humanity The river runs dry, because now clouds refuse to cry. If I could Then I would Try to make us all Care bout her call (Bird Song by Letto)

Disebuah  hutan di lereng Gunung yang suasananya masih asri dan alami, ditumbuhi oleh beraneka ragam pohon, sehingga menjadi habitat yang menyenangkan bagi komunitas burung. Bermacam-macam jenis burung berada disitu. Tentu saja masing-masing jenis burung mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, ada yang mempunyai bulu yang indah dilihat namun tidak mampu menghasilkan  suara nyanyian yang merdu untuk didengar. Ada yang mempunyai bentuk yang proporsional sehingga kelihatan menawan, namun ada yang mempunyai bentuk yang aneh bahkan menakutkan untuk dilihat.

Pada dasarnya semua burung dapat hidup dengan rukun satu dengan yang lain, namun entah karena prubahan atau karena ego yang semakin dikedepankan suasana yang tadinya ayem tentrem menjadi berubah. Masing-masing burung berusaha mengeluarkan suaranya, sekeras-kerasnya tidak peduli merdu atau tidak. Saling berlomba-lomba menjadi yang terkeras, yang tadinya suaranya merdu menjadi tidak merdu lagi, yang tadinya suaranya serak-serak becek makin tambah becek, yang suaranya sumbang menjadi lebih hancur lagi suaranya. Suasana menjadi sedemikian gaduh, menjadi tidak enak dan sudah mengganggu.


Hingga akhirnya membangunkan tidur darès atau manuk darès atau manguni atau Si Burung Hantu. Burung yang diberikan anugrah dengan kedua mata besar yang menghadap ke depan dan memiliki 100 kali lebih dari kepekaan mata manusia. Juga dianugerahi pendengaran yang tajam serta bulu-bulu yang halus sehingga saat dia terbang malam tidak mengeluarkan suara berisik. Sang burung yang dibalik wajahnya yang seram, suara yang tidak merdu namun melambangkan kebijakan didalamnya. Dengan mata yang agak merem-melek, maklum agak silau dengan cahaya matahari dia pun memulai berkata didepan burung-burung lain yang sedang asyik berteriak-teriak

"Wahai kawan, coba diam dulu barang sebetar", suara burung hantu agak meninggi, membuat semua burung terdiam. Maklum dia disegani dan dihormati di komunitas tersebut.

"Cobalah diam sejenak, lihat sekeliling kalian masing-masing. Apa yang telah kalian lakukan sekarang ini? Apa manfaatnya kalian berteriak-teriak sekeras-kerasnya, merdukah suara kalian dengan teriak kayak gitu? Hanya kegaduhan dan kekacauan yang kalian hailkan, tanpa adanya manfaat bagi kalian sendiri maupun lingkungan sekitar kalian. Kalian masing-masing telah diberikan anugrah masing-masing dengan kelebihan dan kekurangan masing. Lihatlah diriku, gantengkah diriku? Merdukah suaraku? Tidak kataku." kata Sang burung Hantu yang membuat burung-burung lainnya termenung

"Tapi aku bersyukur karena aku diberikan kelebihan diluar itu, kusyukuri saja dan kukembangkan saja kelebihanku. Cobalah kalian kalau ingin menciptakan ketentraman dan kedamaian, mulai belajar bernyanyi. Yang suaranya merdu berusaha mengimbangi yang suaranya tidak merdu, yang punya suara tidak merdu juga tidak usah takut untuk bersuara. Saling bagi tugas, saling mengisi satu dengan lainnya, pasti akan tercipta sebuah nyanyian yang penuh dengan keharmonian dan membawa kedamaian, ketenangan bagi yang menikmatinya." kata sang burung hantu. Kemudian diapun asyik memejamkan matanya, sementara burung-burung yang lain terdiam sesat, merenungkan dan meresapi serta mencoba untuk mempraktekkannya. Tanpa mengenal lelah mereka berlatih hingga akhirnya terciptalah sebuah nyanyian burung yang mampu membuat yang mendengarnya terpesona dan terhanyut dalam kedamaian dan ketenangan yang luar biasa.

Seringkali kitapun terjebak dalam suasana seperti itu, segala keegoan, KeAkuan, Kesombongan diri kita muncul. Merasa diri paling hebat, paling benar, paling berkuasa dan paling sebagainya. Merasa bahwa dialah Dewa Penyelamat yang selama ini dinantikan dan tidak ada yang lebih baik dari dirinya. Tak jarang terjebak intrik-intrik untuk saling menjatuhkan satu sama lain, agar kelihatan lebih hebat dari yang lainnya. Seakan-akan nilai-nilai budaya luhur negeri yang sudah ada sejak dulu seperti kerukunan (guyup rukun), kegotongroyongan, tepa seliro, masih banyak budaya luhur yang seakan terlupakan. Masing-masing juga seakan terjebak dengan upaya pemenuhan akan hak-hak mereka yang lebih dahulu diminta tanpa menyelesaikan kewajiban yang ada dipundaknya. Terjebak dalam budaya Meminta, Budaya KeEgoan, KeAkuan yang sangat kental.

Padahal jika direnungkan masing-masing telah dianugerahi dengan kelebihan dan kekurangan oleh Dia. Sebuah anugerah yang patut disyukuri dan dipergunakan dengan bijaksana. Jikalau masing-masing bisa menjalankan peran atau lakon yang selama ini dijalaninya dengan tetap memegang teguh nilai-nilai luhur, nilai spriritual, berusaha untuk memberikan yang terbaik dari dirinya bagi sesama, mengedepankan kewajiban dari haknya pasti akan tercipta kehidupan yang lebih baik. Yang diberi anugrah untuk berkuasa, berusaha untuk menjadi seorang gembala sejati yang terus memberikan Kasihnya bagi rakyatnya. Rakyatnya pun berusaha untuk tetap memberikan Kasihnya bagi Gembalanya. Niscaya tidak ada lagi yang merasa berkekurangan dan berkelebihan, tidak ada lagi yang merasa hebat dan lemah, tidak ada yang pintar dan bodoh, semuanya sama. Seperti komunitas burung, dengan selalu memberikan kasih, harapan dan terang bagi sesama pasti akan tercipta nyanyian kehidupan yang penuh dengan kedamaian dan ketentraman.





Rabu, 28 Oktober 2009

Kebahagiaan


Manusia mencari kebahagiaan ke mana-mana dan dengan segala cara, namun tidak pernah dapat menemukan kebahagiaan itu. Kebahagiaan tidak bisa ditemukan kalau dicari. Kebahagiaan adalah suatu keadaan batin yang tidak diganggu oleh gejolaknya nafsu. Selama nafsu masih bergejolak dalam batin, tidak mungkin manusia dapat berbahagia, karena dia akan terbentur dengan halangan-halangan dalam mengejar kesenangan seperti yang dikehendaki oleh nafsu. Dalam keadaan tidak berbahagia, bagaimana mungkin menemukan kebahagiaan? Kalau keadaan yang tidak berbahagia itu tidak ada lagi, manusia tidak lagi membutuhkan kebahagiaan. Kenapa? Karena dia sudah bahagia! Kebahagiaan itu sudah ada selalu dalam diri manusia sendiri, namun terselubung oleh bermacam persoalan dan kesukaran yang menjadi akibat dari menuruti nafsu diri. Seperti orang yang mencari kesehatan. Bagaimana mungkin akan dapat mengalami kesehatan kalau tubuhnya sedang sakit? Daripada mencari kesehatan yang tak mungkin dia temukan, lebih baik meneliti dirinya sendiri yang sakit, mengusahakan agar penyakit itu lenyap. Kalau dirinya sudah tidak dihinggapi penyakit lagi, apakah dia butuh mencari kesehatan? Tidak perlu lagi karena dia sudah sehat!

Manusia biasanya tidak dapat menikmati kesehatan kalau dia sehat. Baru merindukan kesehatan kalau dia sakit. Demikian pula manusia tidak dapat menikmati kebahagiaan kalau dia berbahagia. Baru merindukan kebahagiaan dikala dia sedang tidak berbahagia. Hidup itu sendiri adalah indah, hidup itu sendiri adalah bahagia. Mengapa repot-repot mencari kebahagiaan dengan segala cara?

Kalau kita renungkan secara mendalam, kita dapat bersama-sama menyelidiki tentang kebahagiaan itu. Kebahagiaan berada di atas susah dan senang. Bahkan diwaktu mendapatkan kesusahan, kita masih berbahagia. Bahagia tidak disentuh dan tidak diubah oleh susah senang yang hanya lewat seperti lewatnya segumpal awan diangkasa yang cepat lewat dan lenyap. Kebahagiaan tidak mungkin dapat ditemukan dengan jalan mencarinya. Kebahagiaan tidak dapat dicari. Makin didambakan dan dicari, makin menjauhlah dia.

Daripada bersusah payah mencari kebahagiaan, lebih baik orang meneliti ketidak-bahagiaan. Ketidak-bahagiaan ini dapat terasa oleh setiap orang. Merasa tidak berbahagia. Kita lalu meneliti dan mengamati diri sendiri, apa yang menyebabkan kita tidak bahagia? Kalau sebab adanya ketidak-bahagiaan ini sudah tidak ada lagi, kita tidak membutuhkan bahagia. Kenapa? Karena kita sudah berbahagia! Berarti bahwa kebahagiaan itu sudah ada dan selalu ada dalam diri kita. Seperti halnya kesehatan. Kesehatan itu sudah ada pada kita. Akan tetapi biasanya kita tidak merasakan adanya kesehatan ini, tidak dapat menikmati. Baru kalau kita jatuh sakit, kita mendambakan kesehatan. Demikian pula kebahagiaan. Selalu terutup oleh ulahnya nafsu, senang susah, sedih gembira, dan segala macam perasaan yang didorong oleh nafsu. Karena kita menjadi budak nafsu kita sendiri, maka kebahagiaan itu tertutup dan tidak pernah dapat dirasakan. Yang dapat dirasakan hanya kesenangan dan kesenangan inipun ulah nafsu. Nafsu mendorong kita agar selalu mengejar kesenangan. Orang yang tidak lagi menjadi budak nafsu, melainkan menjadi majikan nafsu, mungkin sekali akan dapat merasakan kebahagiaan itu. Nafsu tidak lagi menyeret kita ke dalam perbuatan yang hanya mengejar kesenangan sehingga untuk mencapai kesenangan, kita halalkan segala macam cara.

Nafsu merupakan peserta hidup yang amat penting dan berguna, kalau saja kita yang mengendalikannya. Akan tetapi kalau nafsu menguasai kita, maka malapetakalah yang akan menimpa diri kita. Tanpa nafsu kita tidak akan dapat hidup di dunia ini. Nafsu yang mendorong kita untuk hidup layak sebagai manusia. Akan tetapi dengan nafsu menjadi majikan, kita akan hidup sesat. Nafsu bagaikan api. Kalau kita dapat menguasainya, maka api itu amat berguna nagi kehidupan kita. Akan tetapi kalau terjadi sebaliknya, api yang mengamuk menguasai kita, api itu akan membakar segala yang ada!

Lalu bagaimana caranya untuk menguasai dan mengendalikan nafsu yang demikian kuatnya? Diri kita sudah menjadi gudang nafsu, maka akan sia-sialah kalau kita berusaha untuk menundukkannya. Pikiran itu sendiri yang ingin menguasai nafsu, sudah bergelimang dengan nafsu. Juga ilmu pengetahuan tidak dapat dipergunakan untuk menguasai nafsu. Lalu bagaimana? Satu-satunya jalan untuk menguasai nafsu hanya MENYERAH kepada KEKUASAAN TUHAN! Hanya Tuhanlah yang dapat menundukkan nafsu. Siapa lagi yang dapat menundukkan nafsu selain YANG MAHA PENCIPTA? Kalau kita menyerahkan diri dengan penuh keimanan, tawakal dan kepasrahan yang ikhlas, maka kekuasaan Tuhan akan bekerja dalam diri kita!

(Dari Cersil Pendekar Kelana by Kho Ping Hoo)



Selasa, 27 Oktober 2009

Perlukah berubah dan bagaimana menyingkapi perubahan?



Disuatu tempat dan disuatu masa terdapat sekelompok lebah dengan dipimpin seekor ratu lebah yang cantik dalam keadaan yang aman tenteram, serba berkecukupan dan berada dalam lingkungan alam yang begitu bersahabat dengan mereka. Ada yang menarik dalam komunitas tersebut dimana mereka hanya mencari nectar dari satu jenis bunga pohon tertentu saja, padahal dilingkungan tersebut dipenuhi oleh beraneka ragam tanaman dan beraneka ragam bunga namun mereka tidak mau mengambilnya, tetap saja mereka menghisap nectar dari jenis tertentu tersebut. Mereka beraggapan bahwa nectar dari pohon tersebut adalah yang terbaik, nomor satu, tanpa pernah sekalipun berusaha untuk mempelajari dan merasakan jenis lainnya. Seringkali pohon tersebut mereka anggap sebagai dewa penyelamat bagi mereka dan mereka keramatkan . Turun temurun kejadian tersebut berlangsung, tidak ada yang berubah, semuanya berada dalam kondisi yang membuat mereka terlena , dinina bobokan oleh keadaan, hingga mereka tidak sadar akan kelebihan alam yang sama sekali belum mereka olah untuk kesejahteraan mereka. Hingga akhirnya karena suatu bencana alam semua diporak porandakan, pohon yang selama ini mereka dewa-dewakan musnah sudah. Mereka yang selama ini terlena oleh keadaan menjadi kebingungan, menjadi serba salah, saling menyalahkan satu dengan lainnya. Mereka tidak siap menghadapi perubahan keadaan yang ada, sibuk meratapi nasib yang mereka alami.

Tidak jauh dari komunitas tersebut terdapat juga komunitas lebah yang dipimpin seekor ratu lebah yang cacat secara fisik, namun sang ratu dengan bijaknya memimpin warganya. Walaupun daerah dimana mereka berada tidak kaya pohon maupun bunga yang bisa dihisap nectarnya, namun warganya disadarkan untuk menerima kekayaan alam yang ada dengan penuh syukur, dinikmati, dan diolah sebaik mungkin sambil terus menemukan sumber daya alam baru atau menemukan cara-cara inovasi terbaru. Tatkala merekapun menerima bencana alam maka mereka lebih siap menghadapinya, dengan cepatnya mereka bangun. Tegak berdiri kembali, dengan sisa-sisa tenaga dan sumber daya yang ada. Seolah-olah tidak ada kejadian yang menimpa mereka, hadapi saat ini dan masa depan dengan penuh semangat.

Seringkali dalam hidup kita menghadapi berbagai perubahan yang ada. Baik perubahan diri pribadi sendiri maupun lingkungan sekitar kita. Tidak ada yang tetap. Seringkali kita juga terjebak dalam kondisi kemapapan yang kita alami, terlena, sehingga tidak siap untuk menerima perubahan yang ada. Dalam bukunya Managing Change at Work, Scott & Jaffe menjelaskan tahapan respon terhadap perubahan yang dialami oleh individu, sebagai berikut:
Menyangkal/Denial 
Pada tahap ini, individu berusaha menyangkal atau menolak informasi, dengan cara melindungi diri dengan bersikap acuh, meremehkan, meminimalisir dampak perubahan terhadap diri kita sendiri, seakan-akan perubahan ini hanya bersifat sementara. Penyangkalan ini merupakan suatu reaksi terhadap kondisi-kondisi eksternal lingkungan yang berubah. 
Bertahan/Resistance 
Tahap berikutnya adalah bertahan untuk tidak berubah. Kondisi ini muncul sebagai suatu reaksi yang datang dari dalam/internal individu itu sendiri (perasaan). Biasanya muncul dalam bentuk anakronisme (kebiasaan masa lalu), menyalahkan orang lain atau berpura-pura seakan perubahan itu tidak terjadi.
Mencari Tahu/Exploration
Tahap ini merupakan awal dari suatu tahap penyesuaian diri. Pada tahap ini individu mulai menyadari bahwa perubahan tidak dapat dihindari dan mulai mencari tahu atau melakukan eksplorasi tentang kemungkinan-kemungkinan atau cara-cara baru dalam melakukan sesuatu.
Komitmen/Commitment
Individu pada tahap ini sudah berhasil menyesuaikan dirinya terhadap perubahan yang terjadi dan berkomitmen mendukung perubahan itu sendiri. Individu tersebut memiliki fokus perhatian pada bagaimana caranya membuat sistem tetap berjalan dan meningkatkan cara kerja sistem itu. Pada tahap ini individu terus mencari kesempatan dan peluang untuk berkembang dan beradaptasi lebih jauh lagi.

Cerita lebah diatas dan teori diatas sebagai gambaran akan pribadi kita masing-masing dalam menghadapi perubahan yang selalu ada di depan mata dan di diri kita. Ditahapan mana kita dalam menyingkapi perubahan? Perlukah berubah dan bagaimana menyingkapi perubahan ? Hanya diri kita masing-masing. yang mengetahui. Selalu eling dan waspada mungkin ini sikap yang seringkali kita dengar. Semoga kita semua bisa menerima dan menghadapi perubahan dengan lebih bijak, lebih dewasa, kita terima semuanya dalam porsi yang sama. Selama kita masih bisa bernapas tidak akan pernah kita lewatkan perubahan yang ada. 













Jumat, 09 Oktober 2009

Praktis dan Instan


Belajar tidak mengenal waktu dan usia. Dahulu dan sekarang mungkin mata pelajaran yang seringkali menjadi momok bagi siswa antara lain pelajaran fisika,kimia atau matematika. Mungkin ada juga mata pelajaran lainnya tergantung respon siswa dalam mempelajari mata pelajaran tersebut. cara pandang berubah ternyata dengan memahami rumus-rumus yang kelihatannya sulit tersebut akan memudahkan dalam menyelesaikan soal-soal yang ada,sehingga walaupun soalnya diganti dan menjadi kelihatan lebih sulit namun karena sudah memahaminya tetap saja tidak menemukan kesulitan dalam mengerjakannya. Kemudian untuk mempercepat penyelesaian soal-soal kemudian dibuatlah meteode penyelesaian seperti penggunaan rumus-rumus praktis yang akan mempercepat penyelesaian soal yang kelihatan rumit. Yang menjadi persoalan berikutnya apakah dengan rumus praktis tersebut mampu menghapus kesan momok pada pelajaran tersebut? Kurasa tidak. Rumus praktis memang akan mampu mempercepat penyelesaian soal namun apabila tidak memahami rumus dasarnya akan terjebak dalam proses penghafalan rumus. Kunci sebenarnya adalah dengan memahami konsep dari rumus dasar sehingga dengan memahami maka sebenarnya dapat diturunkan rumus-rumus praktis yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan

Begitu juga dengan mie instan, memang sekarang sudah menjadi trend hidup. Apabila merasa lapar maka bagi sebagian orang akan berusaha mencari atau membuat mie instan. Seorang ibu mungkin begitu juga apabila tidak ada lauk atau sayuran di rumah akan dengan mudahnya membuat mie instan. Akan menjadi hal yang aneh apabila dihadapkan pada sebungkus mie telur berikut bumbu-bumbu yang harus dimasak, belum tentu semua orang bisa mengolah dan memasaknya menjadi masakan yang mungkin rasanya bisa melebihi dari mie instan. Berbagai alasan mungkin muncul apabila dihadapkan pada kejadian seperti ini dari mulai tidak bisa memasak, ribet dan mungkin bisa lari ke masalah gender. Padahal sebenarnya banyak yang bisa dipelajari dari proses membuat mie dari bagaimana memilih jenis mie, bumbu, seberapa lama merebus mie dan sebagainya. Belajar untuk memahami proses tersebut, sehingga semakin paham akan bisa menciptakan inovasi masakan-masakan baru dengan bahan dasar mie yang beraneka ragam.

Dari rumus praktis dan mie instan, terdapat dua kata "Praktis" dan "Instan". Dalam hiduppun mungkin kita seringkali terjebak hal-hal praktis dan instan. Bahkan bagi sebagian orang mungkin ada yang berusaha mencari cara-cara praktis dan instan agar memperoleh keuntungan yang secepatnya, proses-proses alami mungkin dikorbankan tanpa memikirkan efek sampingnya semisal pemakaian pupuk kimia yang berlebihan. Orang pun mungkin ada yang berusaha mencari kesuksesan dan harta dengan cara-cara praktis dan instan namun tidak mau berusaha dan malas untuk mengeksplorasi dirinya, hingga yang diperolehnya hanyalah kenikmatan sesaat dan begitu dia jatuh tidak mampu untuk bangun kembali. Dalam menyelesaikan masalah terkadang karena hanya memikirkan solusi praktis dan instan tanpa berusaha menyentuh akar permasalahan yang ada hingga memahami dan dihasilkan solusi yang benar-benar menyelesaikan masalah. Dalam berkomunikasipun terkadang karena praktis dan instan seseorang terjebak menggunakan sms, email dsb untuk menyelesaikan masalah yang ada tanpa melihat seberapa jauh efek dari sms atau email yang dia kirim. Masih banyak kasus-kasus sehari-hari dimana kalau kita tidak bijak dan memahami benar-benar akan segala sesuatunya maka cara praktis dan instan akan menjadi bumerang bagi diri sendiri dan orang lain. Diperlukan permenungan masing-masing hingga akhirnya bisa menyadari apakah menggunakan cara-cara praktis dan instan? Sudah tepatkan cara tersebut digunakan dengan bijak? Ataukan terus digunakan sebagai pembenaran sesat? Tinggal masing-masing mencari jawabannya, sayapun masih terus mencarinya.







Minggu, 27 September 2009

Catatan Seekor Kucing

Ketika kulihat seekor kucing yang sedang asyik bercermin di depanku, aku merasa geli dan sedikit terlintas di pikiranku sesuatu hal yang selama ini seringkali kudengar dari teman-temanku. Kata-kata yang seringkali terucap apabila mendengar seuatu yang tidak disetujui mengani dirinya semisal "Aku ini anak Setu Paing, jadi ya beginilah diriku watakku. Aku tidak bisa untuk menjadi seperti itu. Pokoknya ya kayak gini, itulah diriku" kata temenku sambil agak ngotot atau "Aku ini Shio Macan, watakku keras tidak mau diatur, jadi jangan ngatur diriku ya," kata temenku lainnya. Masih banyak kata-kata lainnya dengan alasan-alasan seperti itu dari mulai hari lahir, shio, mangsa sampai dengan alasan lainnya yang seolah-olah bisa menjadi alasan mereka dan juga terkadang diriku seringkali terlena hal-hal seperti itu.

Menipu orang lain dengan berbagai alasan diatas memang seringkali mudah, namun apakah memang benar hal itu bisa menjadi alasan yang menjadikan diri kita benar? Apakah hal itu bukan merupakan sesuatu bagian dimana kita juga berusaha menipu diri sendiri? Apakah selamanya cara-cara seperti itu akan digunakan kawanku? Segala macam atribut yang seringkali digunakan sebagai alasan akan lebih bijak bila dianggap sebagai sebuah "parameter " yang bisa digunakan untuk mengenal diri kita, membantu dalam bercermin. Semakin kita mengenal dan memahami parameter yang ada dan semakin kita mengenal diri kita maka seharusnya kita semakin paham akan profil diri kita. Profil diri yang pasti memilki sisi positif dan negatif yang masing-masing orang berbeda-beda. Tinggal kemauan dan kesadaran dari masing-masing orang, apakah akan menambah sisi positif yaang dimilikinya dengan terus belajar dan meng upgrade dirinya ataukah akan terus menambah sisi negatif dengan terus menjadikan segala hal yang semula merupakan parameter untuk menjadikan pembenaran dirinya. Dibutuhkan keberanian untuk berdamai dan menerima dengan ikhlas profil diri yang sebenarnya. Sebuah profil diri yang benar-benar mencerminkan diri kita sendiri, dan tidak berusaha untuk mencontek ataupun menjadi profil orang lain.

Semoga dengan adanya keberanian, kemauan, kesabaran, keikhlasan diri kita masing-masing dapat membuat profil diri yang sejati dan dapat menjadi seorang manusia dengan cara-cara yang lebih manusia.







Rabu, 23 September 2009

Kura-kura dan Gembala

Sekali waktu pernah kuperhatikan reptil yang ada di rumah, binatang kura-kura atau kuya-kuya (kata anakku yang masih belajar ngomong). Dengan tenangnya dia berenang-renang di kolam sambil mencari makanan yang ada. Tatkala ada sedikit yang mengejutkan dirinya maka akan ditariknya kepalanya kedalam tempurungnya, terkadang kaki-kakinya ditariknya pula. Betapa tenangnya dirinya berada dalam tempurungnya, karena dia yakin akan kekuatan yang ada dalam dirinya. Dengan kesadaran pula kita dapat belajar untuk seperti kura-kura berusaha untuk menarik dan menguasai segenap panca indra yang ada di diri kita, tangan, kaki, mata, mulut, telinga, hidung dan segenap yang ada yang dalam badan kita. Kita kenali semuanya, pikiran kita pun kita pelajari hingga akhirnya kita dapat belajar menyelami betapa liarnya pikiran kita. Dengan kesadaran untuk belajar menyelami pikiran kita dan belajar menguasai segenap indra kita, mudah-mudahan akan semakin membangkitkan kesadaran hidup dan pengendalian diri serta kitapun semakin bijak dalam menjalani hidup.

Begitu juga dengan seorang gembala itik, sungguh tidak mudah untuk menggembalakan sekawanan itik terkadang ada satu atau dua ekor itik yang susah untuk diaturnya. Dengan sabarnya dia menggembalakan itiknya, dan kalaupun ada satu-dua yang melenceng jalannya dan hilang maka dia akan berusaha untuk meluruskan dan mencarinya dan mengarahkan hingga semuanya sampai ketujuan. Kalaupun ada satu yang sakit diapun akan mengobatinya hingga sembuh. Seperti seorang gembala kitapun juga bisa belajar untuk menggembalakan segenap panca indra kita dan pikiran kita. Terkadang perut ingin makanan namun mulut rasanya malas untuk mengunyahnya. Terkadang ingin main namun kaki terasa berat untuk melangkah. Menggembalakan segenap indra dan pikiran kita dibutuhkan sebuah kesadaran dan kesabaran serta kemauan untuk terus belajar. Mencoba belajar untuk menggembalakan segenap ego dan ke-Aku-an yang ada dalam diri kita dibutuhkan keberanian. Belajar untuk melayani dengan ketulusan sungguh mengagumkan. Minimal belajar untuk menjadi seorang gembala bagi diri kita dahulu. Kemudian bisa diperluas menjadi gembala bagi keluarga dan lingkungan sekitar kita, apabila kita sadar kalau kita mampu menjadi seorang gembala yang sejati.

Sebuah cacatan perjalanan mencari kesadaran dari seekor kura-kura dan seorang penggembala itik

Rabu, 09 September 2009

Ketika Duka Itu Datang

Orang yang dilanda duka selalu ber­usaha untuk menghindarkan rasa duka itu dengan erbagai macam hiburan berupa kesenangan maupun hiburan, baik hiburan berupa kesenangan maupun hiburan berupa pelarian diri kepada filsafat-filsafat atau petuah-petuah yang menghibur. Atau ada pula yang menyerah dan taluk membiar­kan dirinya tenggelam ke dalam duka sampai menjadi putus asa, bunuh diri menjadi gila dan sebagainya. Namun, segala macam pelarian tidak mungkin membebaskan kita dari duka. Mengapa? Karena duka adalah kita sendiri. Duka adalah kita, yang ingin melarikan diri itu pula. Duka tidak terpisah dari kita sen­diri, takkan dapat kita tinggalkan, ke manapun kita melarikan diri. Jika kita menutupinya dengan berbagai hiburan, baik hiburan badaniah maupun batiniah, maka penutupan itu hanya sementara saja. Si duka masih ada, kadang-kadang menyelinap ke bawah sadar dan selalu menghantui kehidupan kita.


Lalu bagaimana agar kita benar-benar terbebas dari pada duka? Terbebas dari pada kecewa? Tanpa menyerah dan ta­luk? Pertanyaan ini perlu kita ajukan kepada diri kita masing-masing, karena tanpa menyelidiki hal ini sedalam-dalam­nya, kehidupan kita akan selalu penuh dengan kecewa dan duka sepanjang hidup, hanya dengan adanya kesenangan sekilas lintas sebagai selingan lemah saja.


Kecewa bukanlah akibat dari peris­tiwa di luar diri, melainkan seuatu pro­ses dari penilaian pikiran atau si aku. Pikiran membentuk suatu gambaran ten­tang diri sendiri, yaitu si aku yang selalu menginginkan hal-hal yang menyenangkan. Keinginan-keinginan untuk senang ini kalau tidak tercapai akan menimbulkan kekecewaan. Keinginan-keinginan itu dapat juga dinamakan harapan-harapan berlangsungnya sesuatu yang telah ter­jadi. Pikiran atau gambaran si aku ini tak terpisahkan dari kenang-kenangan akan kesenangan yang menimbulkan ikat­an kuat sekali. Si aku terikat erat dengan kesenangan, baik kesenangan badani maupun rohani, dan kalau ikatan itu putus, akan menimbulkan rasa sakit. Kalau kesenangan dijauhkan dari si aku, maka si aku merasa sakit, kecewa, dan duka. Lalu si aku pula yang menilai bahwa duka amat tidak enak, maka si aku pula yang berusaha melarikan diri dari kecewa dan duka itu, dengan ber­bagai macam hiburan lahir maupun batin. Padahal, sang suka itu ya si aku itu juga, yang agar tidak ingin duka. Dengan begini, tercipta lagi suatu keinginan lain, yaitu ingin tidak duka! Betapa berbelit-belitnya pikiran ini bekerja, betapa licinnya.


KITA akan menjadi permainannya, diombang-ambingkan oleh permain­an pikiran yang membentuk si aku. Si aku selalu mengejar senang, selalu menjauh­kan yang tidak enak. Mula-mula meng­inginkan kesenangan, lalu tidak tercapai, lalu kecewa dan duka, lalu menganggap kecewa dan duka tidak enak, lalu ingin lari dari itu pula, bukan lain karena ingin agar senang, agar terlepas dari keadaan yang tidak enak itu. Dan demikian seterusnya. Padahal, justeru keingin­an untuk lari dari duka inilah yang memberi pupuk dan memperkuat adanya duka! Karena memperkuat si aku, me­nambah subur keinginan-keinginan si aku.


Habis bagaimana? Kalau tidak melari­kan diri dari duka, kalau tidak mencari hiburan dari duka lalu apakah kita harus menerima begitu saja, membiarkan duka menenggelamkan kita? Sama sekali tidak demikian, karena sikap “menerima nasib” ini hanya akan mendatangkan kelemahan jiwa, membuat orang menjadi frustasi dan apatis, menjadi masa bodoh! ini mendatangkan kemalasan dan mengurangi semangat atau gairah hidup!


Kalau datang kecewa? Kalau datang rasa duka? Pernahkah kita MENGHADAPINYA? Bukan membiarkan pikiran sibuk sendiri, memikirkan hal-hal yang menim­bulkan, kecewa dan duka itu, melainkan menghadapi dan mengamati perasaan kecewa atau duka itu dengan penuh per­hatian, penuh kewaspadaan dan tidak lari daripadanya? Beranikah kita mengamati diri sendiri ketika kecewa atau duka datang, mengamati tanpa penilaian baik atau buruk, tanpa keinginan melenyapkannya, melainkan hanya pengamatan saja yang ada? Bukan si aku yang mengamati luka, karena kalau begitu, tentu akan timbul penilaian dan tanggapan dari si aku dan kita kembali terseret ke dalam iingkaran setan dari permainan si aku lagi. Yang ada hanya kewaspadaan saja, pengamatan penuh perhatian, tanpa pamrih apa pun melainkan hanya kewas­padaan. Maukah dan beranikah kita men­cobanya? Mungkin hanya inilah rahasia pemecahannya, tanpa teori melainkan harus dihayati oleh diri masing-masing.

(diambil dari Serial Suling Emas dan Naga Siluman karya Kho Ping Hoo)


Senin, 07 September 2009

Tak Ada Yang Abadi


Pada saat menjelang puasa dua orang sepupu yang telah lama tidak bertemu sehabis nyekar ke makam lelulurnya bertemu di rumah neneknya. Mereka habiskan waktu untuk menceritakan pengalamannya merantau selama ini. Kedua sepupu tersebut mempunyai jalan hidup yang berbeda, yang satu sebagai seorang gigolo dan satunya sebagai seorang yang suka berderma. Namun pada saat bertemu di rumah neneknya keduanya sedang dalam kondisi titik nol alias hancur, apa yang selama ini mereka miliki karena suatu hal musnah sudah.

Si gigolo , karena memiliki wajah dan badan yang atletis tentu tidak susah untuk memerankan perannya . Dengan mudahnya dicarinya pelanggan-pelanggan kelas atas, tante-tante kesepian dan wanita single yang tidak segan-segan mengucurkan uang demi kenikmatan sesaat yang diperolehnya. Namun ada yang aneh pada anak tersebut, uang dan harta yang selama ini diperolehnya dinikmati sebagian, dan sebagian besar dia bagi-bagikan kepada yang membutuhkan pertolongannya. Sungguh sebuah jalan hidup yang mungkin terasa aneh.

Si penderma, anaknya memang baik hati suka, santun, menolong sesama yang sedang kesusahan. Karier di juga cukup bagus kalau tidak mau dikatakan sebagai sukses. Setiap kali ada yang membutuhkan pertolonganya dia tidak ragu-ragu untuk menolongnya. Namun dibalik semua yang dia lakukan ternyata ada sesuatu dibalik itu semua. Berbagai pujian dan prestasi yang selama ini diperolehnya membuat dirinya terlena, sehingga dia melakukan perbuatan tersebut namun dia juga mengharapkan dengan sangat adanya pujian dan harapan agar kariernya semakin menanjak. Apapun akan dia dermakan asal dia memperoleh manfaat dari semua itu. Segala tipu daya dimilikinya dibalik wajahnya dan sifatnya yang suka berderma.

Sebuah jalan yang saling berbeda diantara keduanya, saling bertolak belakang. Namun ternyata memiliki kesaman bahwa saat ini mereka tidak memiliki apa yang selama ini dibanggakannya, harta, kebanggan, harga diri telah musnah. Dalam keadaan yang sama, sama-sama menderita menghapus semua perbedaan yang selama ini mereka anggap benar. Saking akrabnya mereka ngobrol, tanpa menyadari neneknya yang memperhatikan dengan seksama obrolan kedua cucunya. Dia simak baik-baik, sambil diselesaikannya kelontong ketupat yang akan dimasaknya dan dijualnya di pasar. Memang sang nenek walaupun sudah berumur, penglihatan yang sudah mulai berkurang namun semangat bekerjanya masih tetap ada. Tiap hari sang nenek membuat ketupat dan pulang berjualan biasanya memberikan oleh-oleh buat cucu dan cicitnya semisal nasi jagung, nasi urap, jenang blendung, clorot, timus dan segala macam jajanan pasar. Menu makanan desa yang slalu membuat cucu dan cicitnya datang.

Sang nenek sambil merapikan kelontongan ketupat kemudian menyapa cucunya, ” Ngger cucuku, kesini nak. Nenek turut bersedih mendengar cerita kalian. Nenek bersedih bukan karena sekarang kalian tidak punya apa-apa lagi. Buat kamu cucuku aku tidak pernah menilai seseorang dari pekerjaannya, semuanya sama saja. Kalian bisa saja menipu orang lain, namun kalian tidak akan bisa menipu dirimu sendiri, hati kecil kalian tidak akan bisa kalian tipu. Kamu menjadi gigolo memang benar hasilnya tidak kamu nikmati sendiri, namun kamu juga sudah turut larut kedalam kenikmatan seksual dan kenikmatan duniawi yang selama ini kamu terima. Ini tidak bisa kamu sembunyikan. Nenek akan senang apabila kamu bisa memasuki daerah kegelapan namun kamu bisa memberikan pelita bagi kegelapan, kamu berikan cahayamu sehingga wanita-wanita yang selama ini mencari kenikmatan sesaat menjadi tersadar dan tidak melakukan perzinahan. Kalau kamu memang mau memasuki jalan kegelapan, kuatkan dirimu, jagalah cahayamu jangan sampai mati, usahakan terus kau jaga nyalanya, berikan slalu terang dimanapun kamu berada.” kata nenek itu kepada cucunya yang menjadi gigolo.

”Kemudian kamu cucuku, aku juga sedih karean ternyata dibalik sifat kedermawanamu masih melekat ke-aku-an yang begitu kuat, alangkah membahayakan dirimu terbelenggu oleh pujian dan keegoisan yang selama ini menyelimutimu. Bebaskan dirimu dari semua nafsu yang selama ini menguasaimu, lakukan semuanya tanpa kemelekatan. Segala pujian dan harapan yang selama ini kau dambakan harus kau buang jauh-jauh, jalankan semuanya dengan penuh keikhlasan, sama seperti sepupumu terus kau nyalakan lilinmu dengan kemauan untuk terus melumerkan lilinmu. Kalau kamu tidak mau membagikan sedikit harapan dan terangmu maka lilinmu pasti tidak mau menyala. Jalan yang kau pilih memang jalan terang yang kalau tidak kau jaga lilinmu maka kau akan disilaukan oleh terang jalan. ” kata sang nenek kepada cucu yang satunya

”Jalan kegelapan, jalan remang-remang, dan jalan terang pasti akan terus kalian lalui tergantung pilihan kalian. Siapkan diri kalian dan jangan lupa untuk selalu tersadar, jagalah selalu nyala lilin yang ada didirimu, berikan semuanya dengan penuh keikhlasan, belajarlah untuk menjadi seputih merpati namun selicik ular, dan belajarlah untuk menghindari keterikatan dan kemelekatan ke hal-hal yang bersifat didunia ini. Tiada yang abadi yang abadi hanyalah jiwa-jiwa kalian. Kalian beserta semua cucu dan cicitku , kupercaya mempunyai cahaya lilin yang ada didalam dirimu dan kupercaya bisa memberikan nyala terang yang nenek banggakan. Jangan lupa mengucapkan syukur dan eling marang sing gawe urip. Nenek hanya bisa memberikan apa yang nenek bisa berikan selanjutnya terserah kalian. Sejelek apapun kalian, tetap cucu-cucu nenek yang kusayangi.” kata sang nenek sambil tersenyum

”Kalau tiba saatnya nati nenek dijemput ajalnya aku ingin kalian dan semuanya jangan menangisinya. Kematian bukalah hal yang perlu kalian tangisi dan ratapi, ketika ada kematian pasti ada kelahiran. Terimalah dalam porsi yang sama saat kalian sedih ingatlah saat senang, saat menerima kesulitan seperti sekarang ini ingatlah saat betapa kalian pernah memperoleh berbagai kemudahan. Jalani semuanya, dan teruslah belajar. Ngelmu iku kalakone kanthi laku ngger.”

Kedua cucunya mendengarkan dengan seksama dan setelah waktu liburan nyadrannya habis merekapun pulang ke tempat mereka semula. Dua bulan kemudian sang nenek meninggal dalam keadaan tenang, tersungging senyum di bibirnya. Terlihat wajah yang damai, dan bagi kedua cucunya sang nenek masih tetap hidup didalam hati mereka, tetap selalu menyertai langkah-langkah mereka. Kematian tidaklah memisahkan mereka dengan sang nenek. Dan mereka pun terus menjalani hidup sambil mengikuti yang dikatakan neneknya.


Takkan selamanya tanganku mendekapmu. Takkan selamanya raga ini menjagamu. Seperti alunan detak jantung, ku tak bertahan melawan waktu. Dan s'mua keindahan yang memudar atau cinta yang t'lah hilang, Biarkan aku bernafas sejenak, sebelum hilang. Takkan selamanya tanganku mendekapmu, Takkan selamanya raga ini menjagamu. Jiwa yang lama segera pergi. Bersiaplah para pengganti.Tak ada yang abadi (By Peterpan)

Im memoriam :eyang uti
Tak sempat kubahagiakan dirimu

Kamis, 03 September 2009

Ayam Dan Pasangan Jiwa


Kadangkala aku bertanya dimana cinta berada, tersembunyi tiada kunjung menghampiri. Dua angsa memadu rindu di danau biru bercumbu, pagut sepi ku di sini letih hati. Begitu jauh waktu ku tempuh sendiri mengayuh biduk kecil, hampa berlayar akankah berlabuh ? hanya diam menjawab kerisauan. Kadangkala aku berkhayal seorang di ujung sana juga tengah menanti tiba saatnya . Begitu ingin berbagi batin mengarungi hari yang berwarna dimana dia pasangan jiwaku ? ku mengejar bayangan kian menghilang penuh berharap (Pasangan Jiwa by Katon Bagaskara)

Ditengah pekarangan rumah terlihat seekor burung merpati jantan dan sahabatnya seekor ayam jantan bangkok sedang asik mengobrol. Keduanya merupakan dua orang sahabat yang saling mengerti satu sama lain, terkadang keduanya memecahkan masalah pribadi masing-masing berdua terutama sekali si ayam selalu punya masalah. Dan saat ini dia sedang ada masalah tentang pasangan jiwanya.

"Gimana ya kawan, dimana harus kutemukan ayam betina yang bisa menjadi pasangan jiwaku?" tanya ayam
"Lha bukannya banyak ayam disini, mau jenis yang mana. Tinggal dipilih saja lalu kawin seperti biasanya kamu lakukan, gitu aja kok repot." jawab merpati
"Bosan kawan, mosok kawin, putus, kawin gitu terus." jawab ayam, kemudian dia menceritakan pengalaman kawinnya.

Kawin pertama dengan ayam arab (ayam yang warnanya blirik), mula mula di tertarik dengan bodynya yang menarik, bikin kesengsem. Namun ternyata setelah kawin suka ngatur dirinya sehingga ditinggalkannya. Kawin kedua ditemukannya ayam trondol (ayam yang bulunya sedikit), kembali lagi dia terjebak dengan nafsunya kemolekan dan balutan pakaian mini yang membalut tubuhnya membuatnya tertarik, namun ternyata dia cuma diporotin hartanya dan akhirnya putus di tengah jalan. Kawin ketiga dia kecantol dengan ayam cemani, ternyata dibalik kulitnya yang hitam manis tersembunyi sosok yang mau menang sendiri, susah diatur dan belum bisa diajak untuk hidup berumah tangga. Rasa cemburu selalu menghantui hubungannya, tiada rasa saling percaya, saling curiga hingga akhirnya putus juga. Kawin keempat dicarinya ayam mutiara yang dari segi body menarik terlihat santun, manutan, tidak aneh aneh namun ternyata suka selingkuh sehingga dia tidak kuat dan ditinggalkannya. Begitu seterusnya dicarinya jenis ayam lainnya semisal ayam hutan merah, ayam hutan hijau, ayam kinantan , ayam sumatra dan sebagainya namun tidak ditemukannya apa yang benar-benar dicarinya. Begitu banyak harapan yang diinginkannya dari pasangannya dari yang penyabar, agamis, santun, lemah lembut, penyayang, pengertian pokoknya segala kebaikan yang diinginkan, sedangkan yang jelek tidak mau diterimanya. Sampai dengan orientasi sex yang dia inginkan dari kamasutra, treesome dan sebagianya, semua yang diinginkan harus ada dalam diri pasangannya.

Lama si ayam menceritakan kepada kawannya, merpati pun dengan seksama mendengarkan apa yang di ceritakan sobatnya. Hingga akhirnya diapun mengeluarkan pendapatnya

"Begini lho sobat, aku bisa memahami apa yang selama ini kamu cari-cari. Memang hal yang lumrah kalau kamu berusaha mencari ayam yang sesuai dengan kriteria yang kamu inginkan , dengan kesempurnaan yang kamu bayangkan. Namun apakah ada ayam yang 100% sempurna dengan tidak adanya kejelekan yang ada di dalamnya, aku rasa sangat tidak mungkin ditemukan. Kemudian dirimu sendiri apakah juga sesempurna yang seperti kriteriamu, aku rasa juga tidak. Banyak kejelekan yang selama ini melekat didirimu yang mungkin selama ini kamu sadari atau tidak. Sungguh tidak adil apabila kamu menginginkan pasanganmu sesempurna mungkin namun dirimu juga tidak belajar untuk menjadi sempurna. Tidak ada yang bisa sesempurna 100% namun kuyakin tiap makhluk bisa belajar untuk bisa mendaki kesempurnaan. Kebaikan dan kejelekan tetap akan melekat dalam diri tiap makhluk, tinggal kesadaran tiap makhluk untuk menyadari kebaikan dan kejelekan yang ada. Saling menerima kebaikan dan kejelekan, saling melengkapi, saling mengisi dan saling percaya harus ditumbuhkan dalam dirimu dan pasanganmu. Belajarlah untuk selalu berjalan beriringan, sejajar, tiada yang merasa menang atau kalah dalam menempuh hidup. Kalau kamu terjatuh pasanganmu berusaha untuk mengangkat dan menggendongmu, begitu juga sebaliknya. Berusaha untuk menerima, memberi tanpa harus ingin mengubah seperti yang kau mau biarlah seperti apa adanya. Kalau kamu bisa menyadarinya aku yakin akan kau temukan pasangan jiwa yang telah menunggumu.

Kemudian merekapun melanjutkan obrolannya, dan karena sudah sore merpati pamit ke sobatnya untuk kembali kerumahnya bertemu dengan pasangan dan anak-anaknya. Diceritakan kepada pasangannya apa yang barusan dibicarakan dengan sobatnya ayam. Merpati betina hanya tresenyum mendengar cerita pasangannya, dihadiahinya dengan ciuman kanan-kiri dan saling berpelukan.

"Aku sungguh berbahagia akhirnya menemukanmu, sebuah anugrah terindah yang kuterima diberi kesempatan untuk hidup bersama denganmu. Kau mau menerima diriku dengan segala kekurangannya yang melekat didiriku, darimu kubelajar banyak tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup. Saat kuterjatuh kau selalu setia mendapingiku, kau tutupi kelemahanku dengan kelebihanmu. Terkadang ada saatnya aku harus berada di barisan terdepan namun ada kalanya dirimu mengambil alih untuk berada di depan. Selalu bergandengan, sambil sesekali diperlukan sedikit perselisihan dan perbedaan sebagai bumbu agar perjalanan tidak terasa hampa. Kauberikan pelita-pelita kecil sebagai anugrah yang menemani langkah kita berdua." kata sang merpati jantan.

Waktu terus berlalu sejak di hari itu, engkau dan aku menyulam janji, berbagi hidup ini. Meski orang mengira kita 'tak akan lama, tapi ternyata senyuman cinta terus mekar di jiwa. Kau yang s'lalu di sampingku membelai saat tidurku, tempat curahan rasa, satu-satunya kini sampai s'lamanya . Masih tumbuh dan segar wangi kasih menyebar, semakin kuat hasrat melekat cinta kita berdua, menggelora (Mekar di jiwa by Katon Bagaskara)

Dedicated to my wife and two my little Krishna

Senin, 24 Agustus 2009

Profile, Mapping, Benchmark, Analisis and ....

Hidup merupakan sebuah misteri, yang terkadang susah untuk menguraikannya namun terus saja kita jalani. Suka tidak suka harus kita jalani hidup yang penuh dengan lika-liku dan penuh warna. Mungkin karena terlalu disibukan dengan rutininas hidup seringkali kita lupa untuk memaknai hidup yang telah kita jalani, bahkan terkadang mungkin ada sebagian dari kita yang tidak mau ambil pusing. Dianggap angin lalu dan tidak dianggap sama sekali hingga kematian menjemput nantinya. Yang berbahaya apabila kita terlena dan hidup dengan keterikatan duniawi sehingga justru menjadi beban kita untuk melangkah.

Dalam menjalani hidup kiranya kita perlu untuk mengenal profil, mapping, bencmark hingga akhirnya analisa dan tindak lanjut yang akan kita jalankan dalam menjalani hidup.

Profil sendiri merupakan penjabaran dari diri kita sendiri dahulu. Kita harus belajar untuk mengenal seluk beluk dari diri kita sendiri. Mungkin tidak mungkin kita untuk mengenal 100% dari diri kita sendiri, namun setidaknya terus berusaha untuk menggali diri kita hingga kita lebih mengenal diri kita. Segala seluk beluk mulai dari suku, 'agama' , weton, mangsa, shio atau yang lainnya yang membantu untuk kita untuk menggambarkan profile diri kita. Hingga akhirnya kita akan merasa 'bangga' dan menerima dengan 'ikhlas' untuk menyebutkan profile saya 'A', 'B', dan seterusnya. Setelah kita merasa sudah mengenal profile diri kita mungkin bisa dilanjutkan untuk mengenal profile sekitar kita. Mengenal lebih dalam tanpa harus menghakimi , merasa yang paling benar. Dengan mengenal sekitar kita akan semakin memperkaya wawasan dan pola pikir kita.

Mapping sendiri merupakan pemetaan dari profile diri kita dan sekitar kita. Mapping sendiri bisa dilakukan dengan bantuan mengenal segala macam seluk-beluk diatas., terserah kita masing-masing mau dipetakan dengan cara apa. Kegunaan dari mapping sendiri akan membatu kita untuk mengetahui posisi kita sendiri dan juga untuk memetakan sekeliling kita, sehingga memudahkan dan menjembatani kita untuk masuk kedalam lingkungan sekitar kita. Semoga dengan mengenal posisi kita akan membantu dalam menggali dan mengeksplor lebih dalam diri kita, mungkin juga akan memudahkan kita untuk membantu sesama agar bisa turut menggali pula dirinya.

Bencmark sendiri merupakan sebuah 'cermin hidup' bagi diri kita untuk menilai diri kita dan membantu menyadarkan kita . Sebuah nilai-nilai hidup yang mungkin diperlukan agar kita selalu tersadar. Perlu keberanian, kedewasaan, kebijakan diri kita untuk memberikan nilai bagi diri kita pribadi dan sekitar kita.

Hingga akhirnya kita bisa menentukan analisa akan perjalanan hidup yang selama ini telah kita tempuh, apakah kita sudah menempuh perjalanan yang memang seperti yang kita harapkan dan sekitar kita. Analisa yang perlu terus dilakukan tanpa merasa paling benar dan terus belajar hingga akhirnya kita menemukan hidup yang lebih 'manusia'. 'Manusia' yang terus mencari 'Kesadaran Hidup' dan menemukan hidup yang penuh Makna. 'Manusia' yang terus berusaha untuk memberikan 'Terang', 'Harapan', dan 'Kasih'













Minggu, 12 Juli 2009

Terjebak diantara mysql, ms access dan fox pro

Teringat kembali suatu kisah yang sempat mengelitiku, disaatku habiskan sisa malamku dengan segelas kopi pahit bersama suara katak dan jangkrik yang bersaut-sautan di halaman rumah, suasana yang menyejukkan pikiran.
Pada sebuah perusahaan yang memiliki beberapa divisi terdapat tiga orang yang memiliki ambisi masing-masing dan keahlian yang menjadi kebanggaannya sendiri-sendiri. Kevin merupakan seorang ambisius yang merupakan seorang yang jago mysql, Banu seorang jago ms access , yang Jason yang jago foxpro. Masing-masing orang berusaha menawarkan perubahan akan selama ini dipakai dalam divisinya dengan berbagai cara masing-masing. Ditawarkannya berbagai keunggulan yang akan didapat dipakai apabila memakai aplikasi yang mereka tawarkan. Mula-mula antara mereka bertiga memakai cara-cara yang lugas dan benar, namun lama-kelamaan masing-masing menggunakan cara-cara yang kurang sehat yang membuat suasana divisi tersebut menjadi kurang sehat. Saling serang, saling menghujat satu dengan yang lainnya, saling menjatuhkan dan saling mencari kelemahan lawannya. Ambisi dan ego masing-masing semakin kelihatan, tujuan mulia mereka tinggalkan yang ada dibenaknya hanyalah kekuasaan dan jabatan yang akan mereka peroleh apabila mereka berhasil menciptakan perubahan .
Melihat suasana yang semakin lama tidak menguntungkan, Sang Bos memanggil ketiga orang tersebut untuk menanyakan masalah yang ada. Tentu saja setelah dia mendengar dan melihat sendiri segala relaita yang ada di divisi tersebut. Di depan bosnya, masing-masing mengutarakan keunggulannya masing-masing, sepintas Bos tersenyum dan mengangguk-angguk seakan mengiyakan saja. Setelah semuanya selesai menjelaskan, kemudian dia sambil tersenyum berkata, "Oke, sudah kudengar semua penjelasan yang kalian beberkan. Sungguh senang sekali aku memiliki mitra yang begitu pintar dan semangat seperti kalian. Kalian merupakan mutiara-mutiara yang patut aku banggakan dan telah lama aku amati."


"Namun, tidakkah kalian lihat kondisi divisi dimana kalian berada?"
"Pernahkah kalian cermati benar-benar permasalah dan akar permasalahan yang di hadapi divisi tersebut?"
"Pernahkah kalian hitung dengan benar-benar tingkat permasalahan yang ada, dan perlukah perubahan serta seberapa besar perubahan yang dilakukan?"
"Seberapa besar efek perubahan yang dikibatkan akan perubahan aplikasi yang kalian tawarkan?"
"Sudah siapkah Sumber daya yang akan menerima perubahan yang kalian tawarkan?"
"Seberapa tuluskah kalian menawarkan perubahan tersebut?"

Mendengar kata-kata Sang Bos yang seperti itu, terasa begitu menusuk bagaikan sebilah pisau yang membuat mereka diam dan menunduk. Kemudian Bos tiba-tiba mengangkat telepon dan menelpon karyawannya Darma untuk datang keruangannya. Ketiga orang tersebut masih belum tersadar kenapa orang tersebut dipanggil. Darma merupakan rekan mereka di divisi tersebut, anaknya tidak terlalu mencolok dibandingkan dengan yang lainnya namun dia selalu tekun mengerjakan tugas yang ada.

"Darma , duduklah disamping rekan-rekanmu. Tahukah kenapa kamu aku panggil kesini?" kata sang bos.

Dharma sambil celingukan, menggelangkan kepalanya.

"Begini Dharma, mulai hari ini kau kunaikkan jabatanmu menjadi kepala bagian di divisimu. Ku serahkan divisi tersebut, kau majukan dan gunakan ketiga orang ini sebagai mitramu terbaikmu." kata si bos

masih dengan raut muka tidak percaya Dharma menggangguk, lebih tidak tidak percaya lagi ketiga orang tadi dengan mata terbelalak seakan tidak percaya mendengar dan menyaksikan sendiri seorang Dharma akan menjadi atasan mereka. Seserang yang tidak mereka anggap, akan menduduki posisi yang selama ini mereka incar.

"Aku tahu kalian bertiga masih kebingungan dan mungkin kecewa kenapa jabatan tersebut kuberikan kepada Dharma. Mungkin kalian memang jago akan aplikasi dan perubahan yang kalian tawarkan, dan mungkin kalian tidak menyadari atau tidak mau menyadari bahwa ada seseorang yang lebih jago daripada kalian. Aku sudah tahu dan melihat sendiri keahliannya. Walaupun Dharma hanya menguasai Excell namun dia mampu memahami benar-benar filosofi dan kegunaan program tersebut. Dia mengetahui benar-benar permasalahan dan sumber daya yang ada sehingga di bisa mengetahui seberapa besar permasalahan dan seberapa besar perubahan yang harus digunakan agar terwujud hasil yang lebih baik. Dia melakukannya dengan tulus, tanpa ada pamrih , dengan telaten diajarinya teman-temannya sehingga nantinya mereka siap menerima perubahan yang dia tawarkan." kata si bos.

"Perubahan itu memang perlu, namun akan lebih bijak apabila perubahan yang dilakukan disertai dengan meminimalisir segala resiko. Tidak setiap orang siap untuk berubah, dan sungguh bijak untuk membuat orang untuk siap dan mau menerima dan melakukan perubahan yang kita tawarkan."

"Dharma , engkaulah mutiara terpendam yang teramat sayang untuk kulepas." lanjut si bos sambil memberi ucapan selamat.


Dedicated to two my litle Krishna "Dewa & Arjun"

Selasa, 16 Juni 2009

Belajar dari Kisah Brama Kumbara

Mungkin ada sebagian orang yang masih mengingat dan banyak yang mengikuti sandiwara radio Saur Sepuh, yang mengalami masa keemasan sandiwara tersebut tentu tidak akan lupa dengan seorang tokoh "Brama Kumbara" yang dalam ceritanya digambarkan sebagai seorang raja yang bijaksana, adil dan mampu membebaskan negaranya "Madangkara" dari cengkeraman bangsa "Kuntala".
Dia digambarkan sebagai seorang sosok yang benar-benar sempurna dan mungkin bisa dianggap sebagai "Titisan Sang Ratu Adil", "Sang Penyelamat" , yang tidak ada kekurangan apapun didalamnya. Bagi generasi sekarang yang belum pernah atau belum sempat mendengarkan sandiwara radionya ataupun melihat filmnya , mungkin bisa mengambil beberapa pembelajaran hidup yang bisa dipakai sebagai bekal dalam mengarungi hidup.

Pembelajaran tentang nafsu

Dalam salah satu serialnya diceritakan Pesanggrahan kramat yang telah dibangun oleh Brama Kumbara sebagai penghormatan kepada gurunya yang bernama Kakek Astagina dan disitu disemayamkan juga jasadnya, oleh karena adanya suatu pembalasan dendam dari sebagian bangsa Kuntala yang tidak terima dengan kehancuran bangsanya akibat pembebasan bangsa-bangsa yang dulu terjajah Kuntala dan dipimpin Brama Kumbara. Mereka menghancurkan tempat pesanggrahan sang selami ini dihormati dan menjadi bagian hidup dari Brama Kumbara, sang musuh telah mempelajari titik kelamahan dari sang raja. Apa yang terjadi kemudian mudah ditebak, betapa marahnya sang raja melihat makam dan pesanggrahan yang selama ini dia agung-agungkan dan hormati dihancurkan oleh musuh. Dirinya merasa terhina, dipermalukan, sedih atas kejadian tersebut dan ingin sesegera mungkin mencari orang yang merusak pesanggrahan tersebut.

Padahal Sang Prabu selama ini dikenal sebagai seorang yang ramah, santun, adil dan semuanya yang memperlihatkan kesempurnaannya. Dari bagian cerita tersebut terlihat bahwa Sang Raja yang mungkin digambarkan sebagai seorang sosok yang sesempurna mungkin ternyata masih belum bisa terbebas dari nafsu yang terus mencari kelemahan dalam dirinya. Nafsu yang setiap saat akan menguasai dan meracuni segenap panca indra, tatkala penguasaaan/pengendalian diri akan segenap indra lemah.

Teringat lagi sebuah bagian dalam ceritera pewayangan Kresna Duta, saat Sri Krisna yang waktu itu sebagai duta perdamaian dari Pandawa datang ke Hastina untuk meminta kembali kerajaan yang telah menjadi hak Pandawa. Karena kesal atas jawaban Duryudana, kemudian Krisna bertiwikrama menjadi raksasa sebesar gunung. Tanda bahwa amarahnya telah memuncak, sampai membuat gempar suasana di Hastina dan kayangan. Nafsu telah merasuki Sang Hrisikesha, sang penguasa indra.

Belajar dari ceritera diatas dapat diambil pembelajaran bahwa penting sekali bagi kita pengendalian akan segenap indra yang kita punyai dan selalu waspada akan nafsu yang selalu mengintai. Sungguh jahat dan patut diwaspadai Nafsu yang ada di dalam diri kita masing-masing

Lampah-lumpuh

Salah satu ilmu kesaktian yang diciptakan oleh Sang Prabu adalah ilmu Lampah-lumpuh, entah artinya apa yang jelas ilmu itu diciptakannya melihat akibat dari ajian Seratjiwa yang dimilikinya. Ajian yang memiliki tingkatan dari tingkat ke-1 sampai dengan ke-10 tersebut memiliki daya hancur yang sangat menakutkan. Sehingga Sang Prabu berusaha menciptakan sebuah ilmu tingkat tinggi namun memiliki sifat yang tidak menghancurkan. Ilmu itu berkerja dengan memanfaatkan tenaga lawan. Semakin keras, kasar, jahat kekuatan lawan maka akan tersedot habis oleh ilmu tersebut sehingga lawan tidak berdaya. Mungkin kalau boleh disamakan semacam ilmu Tai Chi yang sering dilihat di film Tai Chi Master.

Dari ilmu tersebut dapat diambil pembelajaran antara lain bahwa untuk menang tidaklah harus dengan kekerasan dan kekerasan tidaklah harus dilawan dengan kekerasan. Kelemahan seseorang belum tentu menjadi kelemahan yang sebenarnya, justru dibalik kelemahan tersebut apabila dimanfaatkan sebaikmungkin akan terwujud sesuatu yang mungkin tidak bisa dilakukan orang lain. Tidak usah berkecil hati atau mempermasalahkan kelemahan yang kita miliki, semakin kita menyadari kelemahan kita maka semakin sadar pula akan kekuatan yang kita miliki.

Bobot, Bibit, Bebet

Sang Prabu Brama Kumbara mempunyai dua orang isteri yaitu Dewi Harnum dan Paramitha. Dua orang isteri yang mempunyai watak yang berbeda. Dari Dewi Harnum melahirkan putera Pangeran Wanapati yang kemudian diangkat sebagai putera mahkota, sedangkan dari Paramita tidak mempunyai keturunan karena dia menyadari akan ada masalah apabila mempunyai keturuan langsung dari Sang Prabu. Namun Paramitha sudah mempunyai dua orang anak dari suaminya yang telah meninggal yakni Garnis dan Raden Bentar. Yang menarik disini walaupun Pangeran Wanapati merupakan putra kandung dari Sang Prabu namun ternyata yang mewarisi keteladannya adalah Raden Bentar.

Mungkin kalau dalam budaya jawa dikenal istilah bobot, bibit, bebet. Bobot merupakan nilai pribadi/diri yang bersangkutan termasuk didalamnya kepribadian, pendidikan, kepandaian dan sebagainya. Bibit merupakan asal-usul/keturunan/silsilah keluarga. Bebet merupakan lingkungan dimana dia tinggal atau teman-teman pergaulannya. . Kalau dilihat dari segi bibit mungkin Pangeran Wanapati sebagai keturunan langsung Sang Prabu unggul, namun kalau dilihat secara keseluruhan Raden Bentar lah yang unggul. Akan tetapi karena sudah menjadi kebiasaan yang bisa menjadi putra mahkota adalah putra langsung Sang Prabu, maka Pangeran Wanapati yang ditunjuk sebgai Putra Mahkota.

Demikian dalam kenyataan didalam hidup seringkali masih dipakai bobot, bibit, bebet. Kalau kita memahami dengan benar falsafah tersebut maka kita akan bisa mengerti bahwa istilah tersebut sebenarnya merupakan sebuah skala prioritas , syukur bisa memperoleh ketiga-tiganya. Satu lagi yang mungkin bisa diambil dari cerita diatas, bahwa dari bibit yang bagus belum tentu keturunan yang bagus pula , belum tentu Like father like son. Tergantung masing-masing pribadi kita dalam mengambil skala prioritas.

Dari sebuah sandiwara radio yang sempat fenomenal di masa kejayaannya banyak yang bisa kita gali dan dijadikan bekal dalam menjalani hidup. Sehingga kita bisa belajar menjadi manungsa kang utomo.


dedicated to "Keshav(Dewa)", "Arjun or Sophie"










Rabu, 10 Juni 2009

Kopi dan kehidupan

Kopi merupakan minuman yang sudah tidak asing lagi dalam kehidupan kita, bahkan munkin bagi sebagian orang merasa ada yang kurang apabila dalam sehari belum minum kopi. Kopi dari tanamannya dapat dibagi menjadi dua spesies Arabika dan Robusta, masing masing mempunyai kebihan dan kekurangan masing-masing. Rasa kopi yang dihasilkan juga dipengaruhi dari tempat dimana kopi tersebut ditanam.


Kemudian kopi tersebut diolah dan dikemas dengan berbagai macam merk atau kemasan yang berbeda satu dengan lainnya, kadang-kadang menyebutkan daerah dimana kopi tersebut dihasilkan. Tiap orang juga berbeda-beda dalam cara menyajikan dan meminum kopi, ada yang suka dicampur dengan susu, cream, dengan atau tanpa gula. Sesuai dengan kesukaan masing-masing orang. Kopi sendiri mengandung kafein yang mempunyai efek positif maupun negatif bagi yang meminumnya. Namun sebenarnya kalau kita mau menemukan cita rasa kopi yang benar maka kita harus bisa mengolah kopi dari biji sampai digiling dengan benar, kemudian sebenarnya kalau mau menemukan cita rasa kopi yang benar buatlah segelas kopi murni tanpa campuran apapun. Seduh dengan air panas, dan temukan dalam rasa pahit tersebut "kenikmatan dan cita rasa kopi yang sebenarnya".


Kehidupan

Manusia sendiri terdiri dari berbagai macam suku, ras, agama, kepercayaan dan bangsa yang berbeda-beda. Masing-masing juga diberikan oleh "Sang Pencipta" dengan kekuatan negatif dan positif, kelebihan dan kekurangan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Kadang kita mungkin tidak tahu atau pura-pura tidak tahu kekuatan dan kelemahan yang ada dalam diri kita. Sering kali kita lupa akan "hakikat hidup" dan "jati diri" kita sebenarnya. Seperti kopi kitapun dibekali dan dianugerahi "kemasan" yang yang berbeda-beda., yang mungkin tidak ada "kemasan yang sama". Namun apabila kita mau menyadarinya terdapat benang merah yang sama sebagai "seorang manusia yang tiada sempurna".


Kemasan yang ada dalam diri dan tubuh kita apabila kita sadari hanyalah sebuah asesori yang tidaklah begitu berarti. Cobalah untuk menyadari, temukan, menerima apa yang ada dibalik "kemasan" yang melekat pada diri kita masing-masing. Sepahit, seburuk apapun "kemasan" kita terima dengan "Syukur" gunakan sebijak mungkin guna terwujud "hidup" yang lebih baik. Seperti meminum kopi, "temukan cita rasa hidup yang hakiki dibalik semua kemasan", niscaya terasa ringan dalam menjalani hidup ini....


dedicated to "Keshav (Dewa)", "Arjun or Sophie"

Senin, 08 Juni 2009

Relationship, Teori Einstein, Kasih

Ketika sedang asyik menikmani kehidupan malam, tiba aku terima telepon dari sahabatku untuk ketemuan disuatu tempat. Langsung ke menuju tempat yang dituju, penting sekali dari nada bicaranya. Sebut saja namanya Lulu, biar memudahkan dalam menceritakannya. Dia curhat kepadaku tentang hubungan dengan suaminya yang saat ini boleh dibilang sedang diujung tanduk, suaminya mengetahui perselingkuhan yang selama ini dilakukannya dengan teman kerjanya.

Saat itu dia sedang dalam kebingungan yang sangat besar, mengingat usia perkawinan dia dengan suaminya memang masih relatif baru 1 tahun boleh dibilang masa-masa kritis dalam menjalin suatu hubungan. Kehidupan yang selama ini dijalani tidak ada kekurangan dalam hal materi, cuma suatu ketika dia bertemu dengan mantan kekasihnya yang dulu. Cinta lama bersemi kembali mungkin itu yang biasa dibilang sekarang ini. Semuanya kudengarkan segala keluh kesahnya, unek-unek yang selama ini dia pendam sendiri. Setelah semuanya keluarkan oleh Lulu, akhirnya bagian diriku untuk mengutarakan pendapatnya.

"Terus bagamana suamimu, tahu tidak perselingkuhanmu? dan apa yang diperbuatnya?

"Ya biasalah pertama-tama dia sih marah kepadaku, apalagi dia tau pertama kali bukan dari aku namun dari temannya. Dia sempat mendiamkan aku, itu yang membuatku bingung setengah mati. Disatu sisi aku masih sangat menyayangi suamiku, namun disatu sisi karena aku tidak kuat menahan godaan dari mantanku, jadi aku merasa kotor bila berhadapan dengan suamiku. Mantanku sampai dengan sekarang masih sering mengubungiku, mencoba terus untuk bertemu." kata Lulu, kemudian sambil menghela napas panjang dia melanjutkan,"Suamiku bahkan pernah mengusulkan kalau memang itu bisa memberi kebahagian yang sebenarnya dan membuatku lebih baik maka ia rela untuk melepaskanku. Terus apa yang aku lakukan Kham?"

Aku terdiam sesaat sambil dalam hati aku berkata,"Gila juga suaminya, masak istrinya yang selama ini sangat dicintainya sebegitu mudahnya dilepaskannya.". Kuhisap sebatang rokok sambil ditemani segelas kopi pahit, sungguh berat apa yang harus kukatakan buat sahabatku. Tiba-tiba timbul secercah ide yang mungkin bisa membantunya

"Lu, sebenarnya bagaimana dari lubuk hatimu. Apa yang sebenarnya menjadi keinginanmu?" tanyaku.

"Masih kham, tapi terus bagaimana?" jawab Lulu

"Begini Lu, memang manusia hidup tidak pernah lepas dari segala macam cobaan termasuk yang sedang kauhadapi sekarang ini. Kalau kalian berdua bisa mengarungi cobaan yang ada, aku percaya ikatan yang kalian bangun akan semakin kuat. Kamu memang salah karena tidak jujur terhadap suamimu, namun aku bersyukur sekali kamu mempunyai seorang suami yang patut dibangakan." kataku

"Suamimu benar-benar mencintaimu dengan setulus hati, kasihnya kepadamu sungguh teramat dalam. Dia sampai tidak memikirkan kebutuhan dirinya, rasa sakit yang dialaminya karena kebohonganmu. Tiada ada lagi Cinta yang ada hanyalah Kasih, tiada keterikatan hubungan yang duniawi, benar-benar sudah memahami kasih yang sebenarnya. Teramat sayang apabila kamu menuruti keinginannya untuk meninggalkanmu, kembalilah kepadanya. Jalani hidup bersama dengannya, dan teruslah memberikan kasih kepadanya niscaya hubungan yang kalian bangun tak kan tergoyahkan oleh apapun. Hubungan kasih yang sesungguhnya akan kamu lalui bersamanya."

"Salut dan kubahagia Lu, akhirnya kau temukan seorang pendamping yang sebenarnya." lanjutku.

Akhirnya karena waktu sudah mendekati jam 12 malam, kusuruh Lulu pulang dan kulanjutkan kunikmati kenikmatan malamku.


Teori Einsteins
Teori relativitas merupakan salah satu temuan Albert Einstein yang cukup monumental (dikutib dari wikipedia)

E = mc2 dalam ilmu fisika adalah sebuah rumus yang dikenal baik dan penting, yang menjelaskan persamaan nilai antara energi (E) and massa (m), yang disetarakan secara langsung melalui konstanta kuadrat laju cahaya dalam vakum ( c 2 )

Sehingga apabila dipermudah maka Energi yang ditimbulkan sebanding dengan masa serta kuadrat laju cahaya dalam vakum.

Sekarang apabila kita ganti persamaan tersebut kasih kedalam m dan segenap potensi yang ada dalam diri kita ( c 2 ) maka akan tercipta sebuah kedamaian, kebahagiaan yang kita butuhkan. Seringkali kita lupa akan segala potensi yang ada dalam diri kita, cobalah untuk menggali potensi yang ada dalam diri kita masing-masing. Padukan semuanya dan dibarengi dengan "kasih" teruslah berusaha memberikan yang terbaik. Niscaya akan tercipta keadaan yang lebih menyenangkan, penuh damai.

Sebuah relationship pun perlu kita wujudkan atas dasar "kasih", cobalah dalam membina sebuah relationship baik dalam keluarga, masyarakat, maupun lingkungan kerja didasari juga dengan "kasih" dan berikan yang terbaik dalam diri kita masing-masing. Buang jauh-jauh segala keegoan kita, sang aku yang seringkali menguasai "indra" kita. Walaupun hanya sedikit bagian yang kita berikan, namun memberi lebih baik daripada kita meminta. Buang juga "budaya meminta" yang mungkin sudah mulai "merasuk kehidupan" kita.

Semakin banyak kasih dan potensi diri yang kita berikan dalam sebuah relationship maka akan tercipta sebuah relationship yang erat, tercipta kehidupan yang lebih baik.

dedicated to "Keshav (Dewa)" , "Arjun or Sophie"







Selasa, 02 Juni 2009

Belajar kehidupan dari "Precil"

Suatu ketika Prabu Anglingdarma sedang ingin melihat keadaan sebenarnya dari rakyatnya di Malawapati. Karena saktinya dan tidak ingin ketahuan maka ia menggunakan ilmu malih rupo (merubah wujudnya) menjadi seekor burung pipit. Dengan bebasnya ia dapat mengetahui kehidupan rakyatnya, terbuka semua tanpa ada yang bisa ditutup-tutupi. Semua pembicaraan rakyatnya bisa dia ketahui tanpa diketahui oleh rakyatnya. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk beristirahat di sebuah ranting pohon di tepi sebuah sawah. Betapa dia sangat menikmati perjalanannya selama ini, banyak manfaat yang bisa dia ambil. Kehidupan yang sebenarnya dari rakyatnya dapat ia ketahui.

Ditengah-tengah keasyikannya menikmati suasana pedesaan, sayup-sayup dia mendengar pembicaraan yang mengusik telinganya. Kemudian dia terbang mendekati asal suara tersebut. Dengan Aji Gineng yang dimilikinya dia dapat mendengar segala pembicaraan hewan , ternyata sumber suara tersebut berasal dari pembicaraan antara precil (anak katak), ikan cetho (ikan kecil) dan belalang. Asyik sekali pembicaraan mereka , dan mampu mengusik Anglingdarma yang saat itu malih rupa menjadi burung pipit.

"Hai precil, apa yang kauinginkan apabila kau diberi kesempatan Sang Pencipta untuk berreinkarnasi? " kata belalang.


Sang precil diam saja sambil tersenyum.

"Ayo jawab dong, masak mesam-mesem saja. Cepat dong !" kata belalang tidak sabar, maklum dia wataknya ambisius. Apa yang menjadi keinginannya harus tercapai. Semua harus mengikuti kehendaknya. Tidak ada yang lebih hebat dari dirinya. Dialah juaranya.

"Iya nih, masak gitu saja tidak bisa. Jawab dong ! " kata ikan cetho memanaskan suasana. Sudah menjadi sifat dan kebiasannya, suka memperkeruh keadaan. Dia akan ikut siapapun, yang penting dia memperoleh kenikmatan. Tidak ada kawan atau lawan sejati, yang ada hanyalah kenikmatan pribadinya saja.

Precil masih tetap diam seperti semula, cuma tersenyum memandang kedua temannya. Sudah menjadi wataknya, tidak mudah untuk mengutarakan kata hatinya. Dilakukan pemikiran dan pemahaman yang mendalam, terus dicarinya agar mencapai kebenaran yang hakiki.

"O a lah, senyum melulu." gerutu belalang. "Ya sudah, kalau menurutmu bagaimana cetho, apa yang kauinginkan?"

"Kalau aku diberi kesempatan berreinkarnasi maka aku tidak mau menjadi ikan cetho lagi. Sungguh tidak mengenakkan, tidak ada yang bisa dibanggakan. Badan sekecil ini apa manfaatnya, aku tidak suka digangguin sama anak kecil-kecil. Aku tidak mau selalu hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Aku ingin bebas merdeka." sahut cetho dengan semangatnya.

"Cuma begitu saja keinginanmu." kata belalang, seakan menantang.

"Kalau aku yang jelas sudah bosan dengan kehidupanku sekarang ini. Hidup apaan ini menjadi seekor belalang, tiap hari cuma makan daun padi yang tidak enak ini. Belum lagi hidup penuh gangguan dari hewan lain manusia. Sungguh tidak mengenakkan."
Kemudian dengan sombongnya belalang melanjutkan kata-katanya, "Aku ingin menjadi manusia, sungguh enak rasanya kalau aku bisa menjadi manusia. Akan kucari harta yang banyak, kucari kesenangan hidup sepuasnya, isteri yang cantik dan banyak, kekuasaan yang besar. Akan kubalas juga orang-orang yang selama ini suka menyemprotku dengan pestisida, kuhancurkan semuanya yang bisa menghalang-halangi cita-citaku. Dunia ini akan kugenggam dalam kekuasanku, semua makhluk hidup harus tunduk kepadaku. Termasuk engkau cetho, kamu harus ikut apa kataku." Sambil membusungkan dadanya, belalang mengatakan semuanya itu.

"Betul sekali belalang, aku akan ikut semua kata-katamu." sahut cetho. Maklum ingin cari selamat dan ikut mulyo, ikut saja yang penting "bahagia".

Sang Precil
tersenyum melihat kelakuan kedua temuannya, dalam hatinya ia berkata "Kasihan sekali teman-temanku, mereka tidak mengetahui apa yang "sebenarnya" meraka cari selama ini".

"Kenapa senyum-senyum, sudah tau jawabnya? Makanya otaknya dipakai to dasar dodol!" sahut cetho

Sambil tersenyum pula precil berkata, "Aku tidak mau apa-apa lagi kawan-kawan, aku sudah cukup bahagia dan bersyukur dengan kehidupanku selama ini. Akan kujalani hidup ini dengan tersenyum sepahit apapun itu, aku akan berusaha agar aku dapat tumbuh berkembang menjadi seekor katak dan kemudian akan mencari pasangan hidupku guna meneruskan generasiku. Aku sadar aku terlahir sebagai seekor kecebong yang kemudian adan bermetamorfosis menjadi seekor katak. Apa yang terjadi dikehidupanku kuterima dengan penuh syukur, kugunakan waktu yang tersisa agar mampu memberikan manfaat yang sebesar-bessarnya bagi semuanya. Kalau memang suatu waktu aku dimakan ular ataupun manusia, aku bersyukur karena kau sudah memberikan tubuhku kepada mereka agar mereka bisa makan. Karena memang begitulah Siklus hidup yang harus kujalani."
Kemudian precil melanjutkan lagi kata-katanya, "Apakah dengan reinkarnasi atau menjadi makhluk hidup yang lain akan kita peroleh kebahagian yang kita cari. Coba lihat manusia yang sedang duduk di sana, kebetulan ada seorang pedagang yang sedang beristirahat karena capek. tidakkah terlihat murung dia, mungkin saja dia sedang memikirkan anak dan istrinya dirumah. Bagaimana dia memenuhi hidupnya. Mungkin juga dia sekarang sedang dikejar-kejar hutang. Coba lihat juga hidup pemilih sawah ini apakah dengan banyak harta dia bahagia, buktinya dia selalu ribut dengan istri dan anak-anaknya. Apa yang kita lihat baik belum tentu sebaik itu pula keadaanya. Yang bisa dilakukan hanyalah memberikan apa yang terbaik dari diri kita untuk sesama makhluk. Segala yang kita jalani selama ini hanyalah semu belaka, tidak ada yang abadi di dunia ini. Karena "Sang Pencipta" yang berkuasa atas semua ini. Kesenangan, kesusahan, kebahagiaan, keindahan adalah fatamorgana, selama kita tidak terikat terhadap semua itu akan diperoleh kebahagiaan yang sejati.
Belalang dan cetho terdiam seribu kata, tidak disangka-sangka temannya masih kecil itu memiliki cara pandang yang begitu dalam. Pengetahuan hidup yang selama ini tidak terfikirkan oleh mereka. Merakapun tersadar dan terbuka bahwa selama ini mereka belum mengetahui hakeket hidup yang sebenarnya.

Sang Prabu Anglingdarma juga dibuat tertegun mendengar perkataan precil. Sebuah pemahaman konsep hidup yang tidak disangka-sangka. Alangkah baiknya apabila semua rakyatnya mampu memperoleh pemahaman hidup seperti itu, sehingga rakyatnya akan mensyukuri kehidupannya dan berusaha saling memberikan yang terbaik buat sesama. Negara Malawapati akan menjadi negara yang makmur, gemah rimah loh jinawi, tata titi tentrem kertoraharjo.

Kemudian dia terbang kembali ke istana, dan setelah berubah wujud menjadi manusia masih teringat semua yang kata-kata precil. Sungguh pembelajaran hidup yang sangat berharga yang dia terima dari seekor makhluk seperti precil

dedicated to "Dewa", "Ajun or Sophie"